BeritaBerita DeputiDeputi 3

Atasi Masalah Sistem Drainase Bandara Ende yang Berlarut, Kemenko Marves Gelar Rapat Koordinasi

Dibaca: 68 Oleh Kamis, 26 November 2020November 30th, 2020Tidak ada komentar
Atasi Masalah Sistem Drainase Bandara Ende yang Berlarut, Kemenko Marves Gelar Rapat Koordinasi
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Marves – Pekalogan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menggelar Rapat Koordinasi rencana penanganan banjir dan perbaikan sistem drainase Bandara Ende, H. Hasan Aroeboesman dan sekitarnya pada Hari Sabtu (19-11-2020).

Rakor ini mengundang jajaran Kementerian Perhubungan beserta unit pengelola bandara dan unsur pemerintah daerah Kabupaten Ende. Ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan lapangan ke Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada pekan sebelumnya, Rabu (11-11-2020).

Asisten Deputi Infrastruktur Dasar, Perkotaan dan Sumberdaya Air Kemenko Marves, Rahman Hidayat memimpin langsung Rakor disela kunjungan lapang dan penyelesaian penanganan banjir rob di Kota Pekalongan, Jawa Timur. Asdep Rahman mengatakan penanganan kondisi ini tidak serta-merta urusan teknis. Pasalnya, permasalahan aset masih menjadi penghalang masing-masing pihak, baik pusat maupun daerah untuk mengambil tindakan.

Terdapat beberapa alternatif langkah penyelesaian, antara lain konsolidasi dan penyerahan aset drainase serta pendukungnya yang menjadi milik Pemkab Ende kepada Kementerian Perhubungan, agar pihak UPBU Ende dapat menangani masalah pada saluran drainase di sekitar Bandara; kedua memindahkan bandara ke wilayah sebelah utara Kabupaten Ende, jika kegiatan pengembangan dan penataan di sekitar bandara eksisting tidak lagi memungkinkan.

Baca juga:  Bertemu Perdana Menteri Jepang, Menko Maritim Gali Berbagai Potensi Kerja Sama

“Tiga, melakukan review ulang pada Master Plan rencana drainase kawasan perkotaan Ende dengan mengundang pihak terkait yaitu Direktorat Bandar Udara, Direktorat Sanitasi, Direktorat Sungai dan Pantai, UPBU H. Hasan Aroeboesman, BPJN X Nusa Tenggara Timur, Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Balai Prasarana Permukiman Wilayah NTT, Satker Pembangunan Jalan Nasional IV BPJN X NTT; serta dinas terkait dari Pemkab Ende,“ ujar Asdep Rahman.

Dia menegaskan bahwa jika dalam pelaksanaan kajian Master Plan (MP) rencana drainase Kabupaten Ende dibutuhkan penyesuaian dan perubahan, maka akan dilakukan penyesuaian-penyesuaian guna mengentaskan masalah genangan air di Bandara dan juga Kawasan Perkotaan Ende. Pembagian tugas dan fungsi masing-masing instansi yang terlibat, harus dibahas dan diselesaikan bersamaan dengan kegiatan review MP tersebut.

Kemudian, terkait konsolidasi dan penyerahan aset drainase serta pendukungnya akan diselesaikan oleh Pemkab Ende, melalui Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, dan Unit Pengelola Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman dalam waktu satu bulan dari tanggal pelaksanaan rapat. “Proses ini akan kami monitor,“ terang Asdep Rahman.

Baca juga:  Menko Luhut Pimpin Rakor Persiapan High Level Meeting Green Investment di Papua dan Papua Barat

Masalah lain seperti rencana perbaikan strip runway,  lanjut Asdep Rahman, perpanjangan runway bandara dan pembebasan lahan untuk perluasan bandara merupakan isu yang juga berada dalam koordinasi Kemenko Marves di bawah Asisten Deputi Infrastruktur Konektivitas yang pembahasannya akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya.

“Kami juga mendukung usulan ataupun upaya untuk melakukan gotong royong pembersihan saluran drainase tersebut guna mencegah luapan air di musim hujan. Pembersihan ini sekaligus dapat menunjukkan kapasitas daya tampung drainase yang sebenarnya,“ pungkasnya.

Bandara Ende merupakan salah satu objek vital nasional dan posisinya berada di hilir kota menjadi pertemuan lima saluran drainase dari wilayah perkotaan Ende masuk ke dalam kawasan ini. Pada musim penghujan runway bandara sering tergenang dan kondisi ini jelas mengganggu, bahkan kejadian ini yang telah berlarut tak kunjung selesai.

Adapun genangan di antaranya disebabkan oleh Saluran drainase terhambat oleh sampah yang berasal dari perkotaan, pasalnya hampir 70 persen saluran drainase di perkotaan Ende masuk ke arah Bandara, sedangkan daya tampung drainase di sekitar apron tidak mencukupi. Potensi genangan juga dipicu kemiringan drainase di sekitar bandara, rata-rata tidak lebih dari 2 persen, sehingga air tidak dapat bergerak dengan cepat menuju ke laut. Selain itu juga terdapat sedimen yang cukup banyak pada saluran drainase di dekat apron bandara.

Baca juga:  Menjemput Mentari di Bukit Cinta

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel