HeadlineArtikel

Bangun Kesadaran Budaya dan Sejarah, Kemenko Marves Bahas Pesan Tersirat dari Kejayaan Benteng Wolio Buton

Dibaca: 19 Oleh Senin, 20 September 2021September 21st, 2021Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2021 09 20 at 10.53.39 AM
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

No.SP-585/HUM/ROKOM/SET.MARVES/IX/2021

Marves – Jakarta, Dalam rangka peringatan Hari Maritim Nasional 2021, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Invetasi (Kemenko Marves) menyelenggarakan Talk Show bertajuk “Pesan Benteng Wolio Buton” berlangsung secara virtual, Jakarta, Senin (20-09-2021). Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Hari Maritim Nasional tahun ini, selain resensi film, Diskusi Kelompok Terpumpun dan lainnya.

Kepala Biro Komunikasi Kemenko Marves Andreas Dipi Patria, dalam sambutannya berterima kasih kepada semua pihak sehingga kegiatan ini bisa terselenggara. Kegiatan bincang ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran pentingnya nilai-nilai kemaritiman berbasis budaya dan sejarah, yang melatar belakangi perjalanan bangsa Indonesia hingga saat ini.

“Salah satu yang telah memberikan jejak dalam sejarah tersebut adalah Benteng Wolio Buton. Bercerita banyak tentang kejayaan maritim,” katanya.

Menurut Andreas, jika bicara Buton kebayakan orang hanya tahu tentang keberadaan aspal Buton namun terbilang minim tahu dan paham tentang peran dan sejarah Benteng Buton yang sudah sejak lama ada. Karena itu, ia memandang sangat perlu kegiatan seperti ini digelar untuk mendalami lebih jauh dan apa sebenarnya yang ada dibalik benteng bersejarah tersebut.

“Kita pahami sangat sedikit masyarakat, khususnya generasi muda menyadari bahwa Buton ternyata tercatat sebagai wilayah yang tidak terjajah oleh penjajah yang datang ke Nusantara. Ini kejayaan atau kehebatan Buton,” ungkapnya.

Dia menjelaskan bahwa Benteng Wolio juga menyiratkan pesan sejarah besar kemaritiman di Buton. Apalagi Benteng ini telah berusia 366 tahun dan masih berdiri tegak di area seluas 22,8 hektare. Sisi lain masih banyak cerita sejarah dan budaya yang telah pudar dari ingatan para orang tua dan tidak sempat disalin dalam naskah-naskah sejarah dan budaya.

Baca juga:  Sampaikan Update Ekonomi dan Politik di Davos, Menko Luhut: Kami Tahu Apa yang Kami Lakukan

“Benteng ini kita pahami dulu didirikan sebagai pusat peradaban dan pertahanan masyarakat Buton saat menghadapi Portugis,” jelasnya.

Merunut dari sejarah, Lanjut Karo Andreas, ternyata arsitektur benteng menarik, terbuat dari batu gunung dan batu karang, yang kemudian direkatkan dengan putih telur yang dicampur dengan pasir dan kapur. Ini sangat relavan dengan filosofi tanah air.

Karena itu, dia merasa senang dengan diadakannya talk show ini dapat menggambarkan besarnya kepedulian akan pentingnya mengenal dan memahami nilai-nilai sejarah dan kebudayaan di tanah Air. “Dan menyadari kita sebagai negara yang tangguh, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Mudah-mudahan, apa yang kita diskusikan hari ini sebagai langkah awal untuk mengisipirasi kita sendiri, tentu saja anak-anak muda,” pungkasnya.

Sementara itu, Dosen Universitas Hasanuddin, Tasrifin Tahara dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa banyak informasi atau nilai yang terkandung dalam sejarah Benteng Wolio Butun ini. “Menarik jika bicara benteng, ada apa dibalik benteng ini? Ternyata punya pesan untuk anak bangsa saat ini,” ungkapnya saat menjadi narasumber.

Tasrifin mengungkapkan , “Benteng itu sederhana, kalau kita hidup aliran sungai Ketika air naik, kita buat pembatas untuk mempertahankan diri. Kemudian diterjemahkan sebagai benteng,” tuturnya.

Baca juga:  Menko Luhut Rapat bersama Mr. Ong Ye Kung -Singapore’s Acting Minister for Education/Senior Minister of State for Defence

Sementara itu, jika memakai terminologi Benteng Wolio sebagai benteng pertahanan, kata Tasrifin, maka orang Buton ditafsirkan sebagai masyarakat tukang perang. Dibangunnya benteng ini tidak ditujukan untuk melindung kekayaan materil yang dimiliki berupa emas dan barang berharga lainnya, namun lebih kepada sebagi pusat kesultanan.

Keberadaan benten ini kemudian menjadi episentrum atau menjadi pusat pemerintahan sebuah negara. “Sejak abad ke-14 nama Buton itu sudah terkenal. Mengapa Benteng Buton menjadi perebutan? Pertama Buton adalah kesultanan yang ikut berperan dalam alur pelayaran abad ke-16. Kedua pembangunan benteng itu memerlukan sumberdaya besar,” tambahnya.

Dia menyampaikan bahwa ada alasan kuat kenapa orang Buton pada zaman dahulu mau membangun Benteng Wolio. Karena di dalamnya ada kekuatan nilai-nilai. Pertama nasionalisme, nilai-nilai religius, nilai-nilai integritas, nilai gotong royong, dan nilai-nilai mandiri.

“Jadi segala landasan itu, menjadi satu kesatuan dengan benteng serta nilai-nilainya, kita masih bisa melihat benteng itu kuat,” tutupnya.

Selain itu, dalam kesempatan yang sama, menurut komedian Arie Kriting alias Satriaddin Maharinga Djongki, Buton memiliki keunikan tersendiri dari daerah-daerah lain yang ada di Indonesia. Baik dari sisi kesukuan, budaya, sejarah, hingga keberadaan Benteng Wolio megah itu.

“Benteng Wolio terluas di dunia, ada 23,3 hektar, selama ini kita kenal Tembok besar China yang terbesar, tapi tidak karena terminologi benteng merupakan bangunan tembok yang membentuk kurva tertutup,” kata Arie.

Baca juga:  Kemenko Maritim : Anambas Memerlukan Konektivitas Antar Pulau

Arie menilai ada keunikan dan kekhasan tersendiri dari Benteng Wolio, jika dibandingkan dengan benteng-benteng yang di Indonesia. Terutama dari aspek kemunculan dan kehadirannya. Ia mengatakan bahwa dibangunnya Benteng Wolio tidak ada satu tangan orang lain atau penjajah yang terlibat pada proses pembangunannya, sehingga ini menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

“Paling menarik ini adalah benteng asli buatan Buton, kalau kita lihat di Indonesia, rata-rata peningggalan Belanda. Kalau ini tidak asli buatan pribumi,” terangnya.
Melihat besar dan tingginya nilai pada Benteng Wolio ini, pria berdarah Buton ini sangat merekomendasikan untuk dipelajari benda bersejarah ini untuk pendidikan, terutama bagi generasi muda. Menurutnya, sisi artsitektur dari bangunan banteng ini juga sangat menarik dan lain dari pada yang lain.

“Jika runtuh, ada jalur evakuasi. Ini yang menarik yang dipelajari dari arsitekturnya. Jadi kita jika mitigasi, orang-orang Buton itu sudah melakukanya,” ungkapnya semangat.

Karena itu, Arie pun berharap Indonesia yang dikenal selalu menggaungkan kebudayaan yang sangat beragam untuk lebih banyak membicarakan hal-hal seperti ini agar dapat membangun kepercayaan diri. “300 tahun lalu kita membangun benteng yang sangat besar, yang melindungi peradaban manusianya, kita harus lebih maju dari nenek moyang kita, semua teknologi dan informasi yang kita miliki hari ini, saya yakin kita bisa melakakan hal yang jauh daripada yang kita lihat hari ini,” sambungnya.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel