Berita Deputi

Berkunjung ke Aceh, Deputi Agung Tanam 100 Mangrove

Dibaca: 42 Oleh Selasa, 2 Juli 2019Juli 8th, 2019Tidak ada komentar
Berkunjung Ke Aceh, Deputi Agung Tanam 100 Mangrove
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Aceh, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa (SDAJ) Agung Kuswandono melaksanakan Penanaman 100 Mangrove di Areal KT Formaslima (Forum Masyarakat Peduli Mangrove Lam Nga) Desa Lam Nga, Kecamatan Mesjid Raya – Aceh Besar, Selasa (02/07/2019). Penanaman ini merupakan salah satu upaya rehabilitas mangrove di Indonesia.

“Penanaman 100 mangrove ini adalah kerjasama Kemenko Maritim dengan KLHK khususnya di Aceh ini. Kita punya program untuk rehabilitasi mangrove yang hilang di Indonesia sekitar 52%, untuk itu setiap kegiatan kita lakukan sedikit banyak penanaman mangrove di tiap pantai,” kata Deputi Agung.

Adapun mengenai kerjasama dengan KLH atau lembaga terkait ini, Deputi Agung ingin selalu diadakan kegiatan seperti ini. “Meskipun sedikit-sedikit tapi kita ingin tunjukkan penanaman mangrove ini sungguh sangat bermanfaat untuk mitigasi bencana. Sehingga mangrove yang hilang bisa dikembalikan. Kita semua bertanggung jawab. Oleh sebab itu saya ingin kegiatan ini dapat terus dilakukan,” singkat Deputi Agung.

Baca juga:  Deputi Bidang Koordinasi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Sampaikan Keynote Speech pada Wisuda Universitas Maritim Raja Ali Haji ke XI

Usai melakukan penanaman mangrove, Deputi Agung beserta jajaran mengunjungi tambak garam Desa Lok Nga, tidak jauh dari site penanaman Mangrove. Desa ini juga menjadi lokasi produksi garam tradisi “garam rebus”. Kasie Pelayanan Usaha Pesisir Provinsi Aceh Afrizal bersama petani garam yang juga didapuk WWF sebagai Duta Mangrove menjelaskan bahwa sebelum tsunami Aceh, sedikitnya ada 35 KK yang menjadi petani garam, saat ini, hanya 2-3 orang saja yang menjadi petani garam. Namun demikian metode “garam rebus” dapat menghasilkan 400 kg garam sehari meskipun lahan garam yang tersedia tidak luas.

Asisten Deputi Amalyos menambahkan bahwa Provinsi Aceh sangat tepat untuk menjadi lokasi benchmarking (studi banding) garam yang sehat, aman dan halal (SAH). “Aceh memiliki tradisi garam rebus yang dapat menghasilkan garam yang halus, bersih dalam waktu relatif singkat. Nah, garam tradisi ini dapat ditingkatkan lagi kualitasnya dengan fortifikasi yodium ini. Jadi yang sudah baik akan lebih baik lagi” pungkasnya.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel