FotoBerita DeputiDeputi 4Siaran Pers

Berkunjung ke Pakpak Bharat, Kemenko Marves Bahas Rencana Pembangunan Kawasan Food Estate Baru

Dibaca: 47 Oleh Sabtu, 27 Maret 2021Maret 29th, 2021Tidak ada komentar
Berkunjung ke Pakpak Bharat, Kemenko Marves Bahas Rencana Pembangunan Kawasan Food Estate Baru
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS

No.SP-202/HUM/ROKOM/SET.MARVES/III/2021

Marves – Pakpak Bharat, Program Penyediaan Pangan Nasional atau food estate adalah salah satu Proyek Strategis Nasional yang salah satunya dilaksanakan di Provinsi Sumatera Utara. Setelah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), menyusul Kabupaten Pakpak Bharat bakal dikembangkan sebagai food estate.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Nani Hendiarti menyambut baik rencana ini dan mengingatkan bahwa pembangunan food estate ini nantinya akan berguna bagi masyarakat di sekitar Pakpak Bharat dan mampu meningkatkan kesejahteraan di kawasan tersebut.

“Usulan-usulan food estate sudah sampai juga di Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan, leading sector perlu memprioritaskan keunggulan potensi daerah dan secara bertahap kita bersama menyelesaikan isu-isu yang ada seperti isu lahan yang sudah dipaparkan tadi oleh Pemkab,” ujar Deputi Nani dalam rapat koordinasi di Kabupaten Pakpak Bharat pada Hari Sabtu (27-03-2021).

Merujuk kepada pengalaman di Humbang Hasundutan, dia juga menyarankan untuk membuat perencanaan yang detail, pemetaan lahan, komoditas serta calon petaninya. Komoditas yang bakal dikembangkan di Pakpak Bharat rencananya merupakan komoditas yang banyak varietasnya di wilayah tersebut, yakni tanaman herbal. Varian tanaman herbal itu antara lain gambir, serai, dan kemenyan. Selain itu terdapat potensi lainnya yang berfokus pada varietas yang digunakan untuk pangan dan kebutuhan industri seperti kopi, nanas, jagung, karet, dan kelapa sawit.

Baca juga:  Di Hadapan Investor Asing, Menko Luhut Banggakan Pembangunan Indonesia

“Potensi dari Pakpak Bharat untuk menjadi food estate sangat besar. Kita bisa kembangkan varietas untuk tanaman herbal dan pangan di sini. Ini nantinya menjadi salah satu bagian dari pemekaran food estate yang sudah ada layaknya di Humbahas,” ujar Bupati Pakpak Bharat Franc Bernhard Tumanggor saat menyampaikan sambutannya.

Walaupun begitu terdapat isu yang perlu diatasi terlebih dahulu, supaya kawasan food estate di Pakpak Bharat dapat berjalan. Isu pertama adalah 80,51 persen dari kawasan Pakpak Bharat adalah kawasan hutan negara sedangkan sisanya yakni 19,49 persen merupakan Area Penggunaan Lain (APL). Kemudian terdapat pemukiman dan kebun masyarakat di kawasan hutan, bahkan fasilitas umum seperti sekolah dan Kantor Kepala Desa yang masih dalam area hutan lindung. Hal yang tidak kalah krusial adalah kawasan hutan di Pakpak Bharat yang sangat luas diperuntukkan bagi pertanian, perkebunan, dan peternakan. “Satu-satunya kawasan yang bisa digunakan hanyalah kawasan APL yang sangat tidak memungkinkan untuk pembangunan infrastruktur food estate,” tambahnya.

Baca juga:  Menko Luhut Keynote Speech di depan peserta Apel Danrem dan Dandim Terpusat 2017 di Secapa AD Bandung

Untuk itu diusulkan adanya penambahan APL dan pencadangan food estate melalui Program Tanah Objek Reforma Agraria (TORA). Usulan tersebut kemudian akan memanfaatkan kawasan Hutan Produksi Terbatas dan Kawasan Hutan Tetap seluas 5.259 Hektar tanpa mengubah status melalui program perhutanan sosial.

“Usulan ini menjadi salah satu jalan bagi Pakpak Bharat untuk mampu memanfaatkan lahan yang ada, tanpa kita perlu merusak lingkungan hidup sekitar,” tambah Bupati Franc.

Dalam rapat itu,  hadir pula para profesor dari Louisiana State University, yaitu Profesor Utomo dan Profesor Wenefrida yang ahli dalam bidang Agronomi. Keduanya menyambut baik adanya rencana food estate di Pakpak Bharat. “Sebelum datang di Pakpak Bharat, kami sebelumnya sudah langsung mengecek kondisi petani, komoditas yang nantinya dijual, sampai ke lahan yang ada seperti di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Gurgur dan juga kawasan Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) atau Herbal Center di Pollung. “Dari apa yang kami lihat, sebetulnya Provinsi Sumatera Utara dan secara khusus Pakpak Bharat memang sangat cocok untuk industri food estate ini, karena didukung dengan iklim yang sangat baik,” kata Profesor Utomo.

Baca juga:  Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan bersama Menpar dan Muspida menerima Pelari 5K, 25K, 55K memasuki garis finish dan memberikan The Winner Award Toba Cross Run 2017

Melanjutkan Profesor Utomo, Profesor Wenefrida juga memaparkan bahwa diperlukan  perhatian dari masyarakat untuk fokus kepada varietas atau komoditas apa yang nantinya ditanam. “Hal yang perlu diperhatikan adalah fokus dari tanaman yang akan ditanam. Perlu kesabaran untuk menanam dan menjadikan food estate sesuai dengan visi dari Presiden Joko Widodo. Kita sudah tahu komoditasnya, tinggal kita pilih mana yang cocok dengan kondisi tanah di sini dan yang mampu menghasilkan kualitas tanaman yang terbaik juga,” tambahnya.

Dengan adanya usulan-usulan ini, pada masa mendatang diharapkan food estate ini mampu memberikan hasil-hasil pertanian yang baik. Dengan hasil yang baik, maka diharapkan terjadi perputaran ekonomi pada masyarakat sekitar yang mampu menyejahterakan mereka. Kemudian pada tingkat nasional, Indonesia pada akhirnya mampu betul-betul mencapai swasembada pangan.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel