Berita Deputi

Bincang Energi, Memperluas Wawasan Energi

WhatsApp-Image-2019-05-28-at-20.34.19
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Jakarta, Pemerintah terus mendukung pemanfaatan energi alternatif ramah lingkungan, baik sumber daya baru maupun terbarukan. Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Bidang Kemaritiman mengadakan Kegiatan Bincang Energi: Efisiensi Energi melalui pemanfaatan sumber daya energi baru dan terbarukan yang dilaksanakan di Kantor Kemenko Bidang Kemaritiman (28/05/2019).

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, Agung Kuswandono menjelaskan bahwa wawasan tentang energi harus kita perluas karena energi di Indonesia merupakan masalah yang sangat kompleks.

“Kami mengadakan bincang ini, inti utamanya ingin membuka wawasan tentang apa yang kita punya di Indonesia, Banyak yang harus kita trobos, harus dengan perubahan mendasar, agar ketahanan energi kita menjadi kuat,” Jelas Deputi Agung.

Terdapat tiga topik pembahasan dalam bincang energi ini antara lain aspal buton sebagai bahan bakar roket padat, Konversi Minyak Sawit sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN) dan Konversi plastik menjadi bahan bakar diesel. Adapun selaku narasumber dalam.acara bincang energi ini adalah: Agus Nuryanto dari PT. Putindo Bintech, Prof. Dr. IGBN Makertihartha dari Prodi Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, dan Pudjo Kesuma Dewo.

Asisten Deputi Sumber Daya Mineral, Energi dan Nonkonvensional Amalyos menjelaskan bahwa dengan stok aspal buton yang ada saat ini sangat cukup dan bahkan lebih untuk pemenuhan kebutuhan pembangunan jalan nasional selama 100 tahun. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 670 Juta ton deposit aspal buton, akan tetapi ironisnya setiap tahun pemerintah terus mengeluarkan 500 Juta dolar untuk mengimpor aspal dalam rangka pembangunan infrastruktur jalan di seluruh Indonesia. Di sisi lain aspal buton dalam proses pengolahannya baik melalui proses semi ekstraktif maupun full ekstraktif, ternyata juga menghasilkan by product-nya berupa bahan bakar, dry ice dan juga gypsum yang banyak dibutuhkan oleh dunia industri.

“Teknologi pengolaham aspal buton saat ini bukanlah suatu masalah. Dengan potensi cadangan aspal buton yang sangat besar tersebut., seharusnya sekarang ini kita fokus pada upaya bagaimana kita memanfaatkannya untuk bisa diolah dan lebih ditingkatkan mutunya sehingga produk hasil olahannya dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan, dan hal tersebut tentunya akan berdampak besar bagi perekonomian nasional dan juga banyak pihak yang bisa dilitbatkan. Kita akan upayakan seoptimal mungkin untuk mendorong upaya-upaya untuk penciptaan nilai tambah dari sumber daya alam yang kita punyai tersebut” tambah, Asdep Amalyos.

Narasumber Agus Nuryanto dari PT. Putindo Bintech menjelaskan, selain mendukung dalam bidang Infrastruktur, Aspal Buton juga dapat digunakan sebagai bahan bakar roket padat dan juga berguna dalam pemanfaatan energi listrik.

Selanjutnya Narasumber Prof. Dr. IGBN Makertihartha dari Prodi Teknik Kima Institut Teknologi Bandung menjelaskan tentang Pengembangan Katalis dan Teknologi Proses untuk penyediaan bahan bakar nabati. Kemandirian teknologi untuk mendukung program peningkatan bauran energi terbarukan pada tahun 2025 dalam rangka meningkatkan ketahanan energi nasional.

Asdep Amalyos menambahkan bahwa terobosan yang dilakukan tentunya tidak hanya pada komoditas sawit semata. Terhadap komoditas lainnyapun juga dilakukan, dan pemerintah tentunya akan terus mendorong apa yang sudah dilakukan oleh ITB dapat ditingkatkan dalam skala yang lebih besar lagi karena hal tersebut diperlukan dalam rangka mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi nasional.

“Avtur ataupun diesel nabati yang sudah dihasilkan oleh peneliti-peneliti ITB tersebut melalui pengembangan katalis dan teknologi prosesnya sudah dimungkinkan dibangun dalam skala yang lebih besar lagi, sedangkan yang bensin itu skalanya kecil tapi sudah mulai tersebar diseluruh Indonesia yang umumnya merupakan sentra kelapa sawit.” Tambah Asdep Amalyos.

Pembahasan terakhir mengenai pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar, narasumber Pudjo Kesuma Dewo menjelaskan solusi untuk mengatasi sampah plastik dengan teknologi pyrolisys dapat menghasilkan komoditas yang dapat membangun kemandirian di bidang energi dan menciptakan lapangan kerja baru. Teknologi pyrolisys adalah pemanasan tanpa pembakaran (oksidasi) sehingga tidak menghasilkan toksin yang mencemari lingkungan.

Asdep amalyos menambahkan bahwa Indonesia mendapat cap sebagai negara peringkat kedua setelah China sebagai penghasil sampah plastik terbesar di dunia, maka dari itu sampah harusnya menjadi orientasi utama untuk dicarikan solusinya untuk mengatasi dampak lingkungan yg akan ditimbulkan oleh sampah tersebut. Bahwa nanti terdapat energi listrik yang dihasilkan dari pengolahannnya, hal itu merupakan bonusnya

“Saat ini masalah sampah plastik merupakan issue yang sangat seksi di Indonesia, tetapi tentunya kita berharap hal ini tidak hanya menjadi bahan diskusi semata. Perlu upaya-upaya nyata yang harus dilakukan melalui inovasi untuk menciptakan peluang menghasilkan produk yang bermanfaat dari adanya permasalahan sampah ini. Kedepannnya saya pikir teknologi pengolahan sampah yang menghasilkan energi akan terus berkembang, dan penanganan sampah melalui mekanisme waste to energy akan terus kita dorong”, tutup Asdep Amalyos.

Biro Perencanaan dan Informasi

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel