Deputi 2Siaran Pers

Dorong Peningkatan Ekspor Arwana, Kemenko Marves Rakor Dengan Pihak Terkait

Dibaca: 157 Oleh Rabu, 20 Mei 2020Mei 26th, 2020Tidak ada komentar
Dorong Peningkatan Ekspor Arwana, Kemenko Marves Rakor Dengan Pihak Terkait
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Marves – Jakarta, Di antara berbagai komoditas ekspor indonesia, ikan arwana menjadi salah satu komoditas yang paling banyak dicari dengan nilai ekonomi yang menjanjikan. Oleh karenanya untuk mendorong peningkatan ekspor komoditas ikan arwana, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim menggelar Rapat Koordinasi secara virtual pada Rabu, 20/05/2020.

Rakor ini bertujuan sebagai upaya memberikan dukungan agar tetap berlangsungnya kegiatan perdagangan khususnya komoditas ikan arwana yang berorientasi ekspor selama masa pandemi Covid-19, dan sebagai upaya mendorong peningkatan devisa negara melalui ekspor komoditas ikan arwana. Demikian disampaikan Asisten Deputi Hilirisasi Sumber Daya Maritim, Amalyos dalam rakor virtual tersebut.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Safri Burhanuddin yang memimpin Rakor tersebut mengatakan bahwa dalam Rakor ini diharapkan mendapat masukan dari para asosiasi, pelaku usaha, dan pihak terkait agar pemerintah dapat mempercepat proses regulasi jika ada hambatan permasalahan terkait ekspor. “Kalau ada hal atau regulasi yang dinilai belum pas mari kita bahas bersama. Selama itu untuk kepentingan nasional kita akan berbuat sesuatu”, jelas Deputi Safri.

Baca juga:  Kemenko Maritim Perkuat Sistem Akuntabilitas Kinerja Melalui Validasi dan Updating Data Kinerja

Menanggapi hal tersebut ketua APKI (Asosiasi Pecinta Koi Indonesia), Sugiharto memaparkan masalah yang tengah dihadapi dunia ikan hias saat pandemi Covid-19. Menurutnya ada 5 dampak dan permasalahan yang muncul akibat Covid-19 terhadap dunia ikan hias yaitu pasar dalam negeri terganggu, pasar luar negeri kini tergantung transportasi, tarif cargo pesawat yang sudah sangat tinggi, transportasi darat melalui kereta yang dihentikan, dan terdapat hambatan mengenai kebijakan perizinan eskpor.

“Khusus arwana dengan adanya kewenangan beralih dari KLHK ke BKPM sejak Februari sampai saat ini masih mengalami keterlambatan hingga 40 izin perusahaan arwana tertunda sehingga menghambat ekspor”, ungkap Sugiharto.

Terkait hal tersebut, pihaknya memohon kepada pemerintah agar memberikan perhatian khusus bagi dunia ikan hias, di antaranya Rencana Aksi Nasional Ikan Hias yang digagas oleh Kemenko Marves sejak 2017 bisa segera disahkan dan diterima menjadi program kerja KKP, adanya dukungan dari KKP terhadap pembudidaya ikan hias yang memiliki potensi budidaya, adanya dukungan untuk merebut pasar dunia melalui penyelenggaraan pameran ikan hias skala internasional, adanya dukungan pemerintah bagi ikan hias melalui kebijakan non-APBN, adanya dukungan pemerintah untuk mengambil langkah pendekatan terkait Pemerintah Tiongkok yang merencanakan larangan importir arwana dari Indonesia, penambahan penerbangan pagi (early flight)dari Pontianak ke Jakarta, dan percepatan penanganan perizinan.

Baca juga:  Zonasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Terluar Harus Dikelola Secara Holistik

Selain itu, Arief Hardjadinata selaku pelaku usaha yang bergerak di bidang ikan arwana juga mengungkap masalah-masalah yang dihadapinya terkait eskpor ikan arwana. Menurut Arief proses ekspor ikan arwana yang selama ini dia alami memang begitu rumit. Dari mulai proses CITES sampai proses pengiriman dengan airlines itu sangat berbelit-belit.

“Ditambah terbatasnya SDM dan fasilitas di daerah Kalimantan Selatan untuk memperlancar proses ekpor ikan hias, contohnya saja Form E, dan Bea Cukai yang tidak ada di bandara, adanya di pelabuhan laut”, katanya menjelaskan.

Tidak hanya itu, pada masa pandemi Covid-19 ini pun Arief mengungkapkan tidak ada penerbangan pertama langsung dari Banjarmasin ke China.

“Jadi ini betul-betul menambah kesulitan bagi kami, barang saya itu harus transit di Jakarta dan itu sangat berisiko karena ikan hias ini hidup berdasarkan oksigen yang ada di dalam kantong. Kalau ikan mati kami rugi pak”, jelas Arief.

Vice President Cargo Commercial PT. Garuda Indonesia, Joseph Tendean mewakili Direktur Niaga PT. Garuda Indonesia, menanggapi keluhan tersebut. Pihaknya akan menindaklanjuti hal-hal tersebut. Menurutnya pada prinsipnya Garuda terus mendukung ekspor komoditas ikan arwana. Dengan jaringan yang luas, harga yang kompetitif, prioritas keberangkatan, dan memberikan kelonggaran dalam batas penerimaan barang (4 jam sebelum berangkat).

Baca juga:  Menko Luhut : "Kalian Harus Bangga Menjadi Anak Bangsa, Bangsa Indonesia"

Hasil dari rakor ini Deputi Safri memberikan arahan agar permasalahan-permasalahan yang sudah diungkapkan para peserta rakor bisa dapat dikoordinasikan lebih lanjut dan menjadi bahan evaluasi. “Terima kasih atas masukan- masukannya. Kami terima semua masukan yang telah disampaikan dan selanjutnya akan kami evaluasi atas semua masukan tersebut. Kami juga akan berusaha membantu untuk mencarikan solusi atas masalah yang ada”, pungkas Deputi Safri.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
—————————————
Instagram : @kemenkomarves
Twitter : @kemenkomarves
Facebook : Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel