Maritim - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI

Gali Masukan untuk Kembangkan Sektor Kelautan, Kemenko Kemaritiman Gandeng Profesional dan Usahawan Muda

Simposium_Entrepreneur_Muda_Maritim

Maritim — Jakarta, Buku putih poros maritim yang diterjemahkan menjadi Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI) telah disahkan sebagai Peraturan Presiden Nomer 16/2017. Kini, Kemenko Bidang Kemaritiman sebagai pengawal kebijakan itu sedang melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap implementasi rencana aksi KKI yang dilakukan oleh semua kementerian dan lembaga di Indonesia.

Upaya ini diperkuat dengan menggandeng kaum milenial entrepreneur agar dapat memperoleh masukan mereka sebagai bagian dari masyarakat yang terdampak kebijakan pemerintah di sektor kelautan tersebut. Oleh karena itu, bekerjasama dengan berbagai elemen pemuda, Kemenko Bidang Kemaritiman menggelar Simposium Entrepreneur Muda Maritim (YEMS) 2018 di Jakarta, Selasa (10-4-2014).

Sesmenko Bidang Kemaritiman Agus Purwoto saat membuka simposium itu menyatakan apresiasinya. “Forum ini bukan yang biasa, kali ini ada permintaan bottom up (dari bawah) lalu diakomodir oleh kedeputian bidang kedaulatan maritim, karena kalau diprovokasi (pertemuan ini) maka banyak kursi tidak terisi,” ujarnya.

Hal lain yang membuat simposium ini tidak biasa adalah keterlibatan anak muda dalam kebijakan pemerintah.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Arif Havas Oegroseno menegaskan bahwa forum yang dihadiri oleh pengusaha-pengusaha muda yang bergerak di sektor teknologi informasi, organisasi pemuda di bidang kemaritiman, lingkungan serta organisasi pemilik kapal bertujuan untuk saling berbagi ilmu bisnis sekaligus bekerja sama dalam bidang sosial.

“Misalnya saya berhubungan secara erat dengan dua anak SMP dari Bali dalam membersihkan laut dan pantai atau pengelolaan sampah karena kesannya anak muda ngga mau ngurusin sampah.tapi sekarang ada tren anak muda mau terlibat hal ini. Di satu sisi mereka mau peduli pada lingkungan but at the same time mereka mengembangkan peluang bisnis dari sampah,”ujarnya mencontohkan.

Misi lain dari kolaborasi forum pemerintah-masyarakat ini, tambah Havas, adalah untuk memberikan pemahaman yang cukup bagi generasi muda terhadap visi dan tantangan pembangunan sektor kelautan.

“Kami berharap ketika mereka sudah memahami ini, mereka dapat berkontribusi secara aktif melalui ide dan inovasi khas anak muda,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam forum YEMS 2018.

Di depan para hadirin, Havas menceritakan sejarah diakuinya Indonesia sebagai negara kepulauan. “Selama lebih dari satu dekade, masyarakat internasional akhirnya mengakui keinginan kuat Indonesia untuk mewujudkan kesatuan tanah air dengan melakukan inovasi hukum yang dilakukan melalui proklamasi unilateral negara kepulauan menjadi suatu prinsip hukum internasional” jelas Deputi Havas.

Dengan inovasi tersebut Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mampu memperluas wilayah kedaulatan dan hak berdaulatnya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia tanpa kekuatan militer. Dengan keberhasilan itu, dia berharap agar generasi muda dapat memberikan kontribusinya dalam mewarnai pembangunan sektor kelautan dengan memberikan masukan serta terlibat dalam rencana aksi Kebijakan Kelautan Indonesia.

Senada, Asisten Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan Kemaritiman Kemenko Bidang Kemaritiman TB Haeru yang mewakili Deputi Bidang Koordinasi SDM, Iptek dan Budaya Maritim untuk menutup YEMS 2018 mengungkapkan besarnya potensi perikanan yang belum tergali maksimal.

“Ketika kita bicara soal kemaritiman maka ada potensi sebanyak USD 1.33 Triliun pertahun yang paling tidak berasal dari 11 komponen mulai dari perikanan tangkap, pariwisata, esdm, perhubungan, transportasi, dunia medis dan lain sebagainya yang semuanya tergantung dari para generasi muda ini,” tuturnya.

Namun, pemerintah tidak bisa memaksa mereka untuk memilih. Hal yang memungkinkan untuk dilakukan adalah mendorong mereka untuk memaksimalkan potensi tersebut.

Selain Deputi Havas, forum usahawan muda itu juga menghadirkan pakar hukum laut, pengusaha muda di sektor perikanan, pengacara, birokrat dan pegiat lingkungan sebagai pembicara. Hasil dari YEMS 2018 ini adalah berupa rangkuman rekomendasi dan usulan inovasi pengembangan sektor kelautan Indonesia sebagai masukan pengembangan rencana aksi KKI tahap II tahun 2019-2024. Rencananya, rangkuman ini akan dipresentasikan secara terbuka saat penutupan YEMS pada Selasa (10-4-2018) petang.

POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Siaran Pers Berita Deputi Foto
Sort by

Kirim Komentar/Pertanyaan

Gali Masukan untuk Kembangkan Sektor Kelautan, Kemenko Kemaritiman Gandeng Profesional dan Usahawan Muda