ArtikelBerita Deputi

Garam Gourmet Bali Utara Diminati Pasar Mancanegara

Garam Gourmet Bali Utara Diminati Pasar Mancanegara
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Buleleng – Bali, Sampai saat ini hampir diseluruh Indonesia, garam laut dianggap sebagai komoditas dasar — garam laut hanya sekedar garam krosok. Namun, sekarang, para juru masak gourmet — di rumah dan di restoran — telah belajar menghargai dan membedakan antara kualitas khas dari banyak varietas garam gourmet dan cara garam-garam ini meningkatkan rasa makanan.

IMG_0566Belum banyak orang mengetahui bahwa pesisir Bali Utara ternyata telah menjadi lokasi pembuatan garam gourmet. Desa Pemuteran, Buleleng menjadi sentra pembuatan garam gourmet yang mulai memperluas jangkauan pemasarannya. Produksi garam rakyat di pesisir Pulau Dewata ternyata sangat diminati masyarakat domestik dan internasional. Adapun produksi garam Bali terkonsentrasi di Amed, Kalianget serta Kusamba, Kabupaten Klungkung hingga  Pemuteran, Kabupaten Buleleng. Salah satu produksinya, yakni  garam berbentuk piramida miniatur berongga ini memiliki rasa garam yang halus namun murni, renyah dan bersih serta kadar air yang rendah. Bentuk geometrisnya yang unik menawarkan pengaruh visual yang khas ketika digunakan sebagai garam finishing pada sajian dan hidangan yang membutuhkan tekstur dan rasa asin murni. Garam  dipanen dengan tangan menggunakan metode tradisional, dan bentuk piramidnya yang unik tidak dapat direplikasi. Usai menghadiri kegiatan Our Ocean Conference di Bali, Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono beserta jajarannya melakukan kunjungan kerja ke Desa Pemuteran, Bali Utara meninjau sentra produksi garam rakyat kelompok Uyah Buleleng (31 Oktober 2018).

Dalam kunjungannya ke Desa Pemuteran, Deputi Agung menerima laporan dari Ketua Kelompok Uyah Buleleng Wayan Kenten menjelaskan‎ produksi garam rakyat kini banyak yang tidak terserap pasar. Wayan Kenten menjelaskan bahwa ada peraturan yang menyebabkan pelaku usaha garam ini tidak dapat memasarkan produk. “Garam-garam seperti dari Kalianget, Buleleng dan Amed, sangat dikenal, tetapi kendalanya untuk kirim keluar (Bali) ada aturan harus mengandung yodium,” tuturnya. Produksi garam di wilayahnya menggunakan teknik rumah kaca dan seluruhnya mengandalkan tenaga manusia dan bukan mesin, sehingga kandungan garam tidak ada yodium. Setiap bulan produksi garamnya mencapai 2,5 ton dengan berbagai jenis, seperti garam piramid, coarse salt, hingga fleur de sel. Untuk menjaga kualitas produk, karena produk ini diminati pasar mancanegara, Wayan Kenten menjelaskan bahwa produk ini telah melalui uji lab Sucofindo.

Menurutnya, produksi garam rakyat Bali Utara sangat diminati oleh masyarakat karena diproses secara organic sebagai garam gourmet. Garam gourmet produksi Bali Utara ini dapat ditemui di rak-rak supermarket premium di Jakarta dengan harga yang jauh lebih mahal dibanding garam dapur biasa. Kenten menjelaskan para buyer luar negeri tidak mau ada kandungan yodium pada garam produksinya sehingga seharusnya memudahkan pengiriman ke luar negeri, tetapi masih terbentur regulasi di Indonesia, garam yang akan dipasarkan baik tujuan domestik maupun ekspor harus beryodium.”Garam ini disesuaikan dengan keinginan buyer. Kalau buyernya tidak mau yodium, seharusnya tetap dapat diekspor.”

IMG_0572

Deputi Agung menegaskan, pemerintah selalu berusaha mendukung upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petambak garam. Usaha memberikan nilai tambah dari garam krosok biasa menjadi garam gourmet yang dijual dengan harga yang tinggi kepada segmen pecinta gourmet yang terus  berkembang perlu didorong dan dikembangkan.

“Garam gourmet ini memiliki segmen pemasaran tersendiri. Untuk pasar domestik  kita bisa bekerja sama dengan PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) untuk memperluas segmen hotel berbintang atau restoran yang membutuhkan garam gourmet,” ujar Deputi Agung, “Karena, setelah produksi tentunya harus didukung pemasaran yang baik dan promosi, dalam hal ini pemerintah harus membantu dari sisi kebijakan dan penerapan aturan yang mendorong pengembangan usaha kecil dengan potensi besar seperti ini”

Deputi Agung mengatakan, pihaknya akan segera menyelenggarakan rapat koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan masalah ini.  “Kita dari Kementerian Koordinator tentunya akan membahas ini khususnya dengan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) karena ini termasuk garam rakyat, Kementerian Perdagangan, BPOM dan PHRI. Awalnya ini hanya garam biasa, tapi kalau kita dorong terus, garam rakyat ini bisa jadi produk luar biasa. Kita perlu dukung, agar petambak garam kita tambah sejahtera.” Pungkasnya.*

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel