Artikel dan Feature

GWK Mempercantik Diri Untuk KTT G20

Dibaca: 16 Oleh Sabtu, 7 Mei 2022Juni 21st, 2022Tidak ada komentar
IMG 4770
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

MaritimBelum lama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan meninjau persiapan Bali menjadi tuan rumah KTT G20 tahun ini. Dari kunjungan lapangan Menko Luhut memastikan persiapan Garuda Wisnu Kencana (GWK) menjadi tempat makan malam bagi para delegasi.

GWK yang tengah mempercantik diri dengan renovasi Kawasan dan perbaikan jalan serta rekayasa lalu lintas. “Dari simulasi yang dilaksanakan oleh Kapolda Bali perlu diadakan perbaikan dan pelebaran jalan menuju GWK agar memudahkan mobilisasi para pimpinan negara dan delegasi,” ujar Luhut saat kunjungan lapangan, Sabtu (07/05) siang.

Kecantikan kawasan GWK akan semakin terlihat, karena saat ini ada pengerjaan penambahan arsitektural di Gate 3, ramp di Lotus Pond, dan pelandaian ramp di Festival Park juga perlu diperhatikan pengerjaannya sehingga dapat selesai tepat waktu.

“Saya juga meminta kepada Panglima TNI untuk bertanggung jawab membuat Tactical Floor Game (TFG) untuk simulasi dan mengantisipasi berbagai kejadian,” tambah Luhut.

Seperti kita tahu, Taman Budaya Garuda Wisnu Kecana (GWK) di Ungasan, Nusa Dua, Bali, memang sering menjadi langgan untuk menjadi tempat gala dinner delegasi dan pimpinan dunia, seperti pada acara Pertemuan Tahunan Bank Dunia-Dana Moneter Internasional (IMF) Oktober 2018 lalu.

Baca juga:  Angka Kasus Covid-19 Menurun Signifikan, Menko Luhut: Tidak Boleh Berpuas Diri, Justru Tambah Hati-Hati

Area GWK memang sangat menarik dengan pemandangan tebing kapur dan artistik, sehingga membuat tempat ini sering digunakan kegiatan konser musik, aktivitas outdoor, pentas budaya dan bazaar. Seperti apa sih menariknya GWK ini? Yuk, kita kupas tentang kekayaan seni, arsitektur, dan kemegahan dibalik berdirinya GWK.

Berdiri di atas lahan seluas sekitar 60 hektare, areal yang dulunya merupakan area penambangan kapur liar. Kini menjadi lokasi wisata keluarga yang paling diminati di Bali dengan fasilitas lengkap seperti Segway Fun Ride dan restoran. Jarak yang ditempuh sekitar 15-20 menit dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana beroperasi dari pukul 08:00 hingga 22:00 setiap harinya.

Proyek pembangunan taman budaya terbesar di Pulau Dewata ini memakan waktu 28 tahun. Bisa dibayangkan, sebuah proyek mahakarya yang tak main-main dalam konsep dan pendiriannya. GWK terletak di puncak bukit setinggi 263 meter dari permukaan laut, seolah ingin menunjukkan eksistensinya.

Betapa tidak, kemegahan Garuda Wisnu Kencana (GWK) sudah membuatnya menjadi salah satu ikon yang semakin mengukuhkan posisi Indonesia di bidang seni dan budaya dunia bersama-sama dengan candi Borobudur dan Prambanan.

Baca juga:  Kembalinya Wajah Asli Pasar Beringharjo

GWK, yang merupakan penggambaran dari Dewa Wisnu yang mengendarai Garuda setinggi 121 meter. Patung ini merupakan patung tembaga dengan teknik cor las terbesar di dunia.Pilar-pilar batu kapur kolosal dan monumental membuat tempat wisata ini sangat eksotis. Adalah I Nyoman Nuarta dengan buah tangan ajaibnya berhasil membuat kita kagum.

Di Balik Berdirinya GWK

Patung GWK memang menjadi mahakarya I Nyoman Nuarta yang dikagumi banya orang. Kde awal pembuatan patung GWK berasal dari permintaan Dirjen Pariwisata saat itu, Joop Ave. Saat itu, Joop Ave meminta Nuarta untuk membangun patung setinggi 5 meter untuk ditempatkan di bandara Ngurah Rai.

Tapi oleh Nuarta, patung tersebut terlalu nanggung dan seharusnya Bali memiliki ikon seni yang besar sehingga bisa membanggakan Indonesia di mata dunia. Pada 1990, gagasan tersebut disampaikan kepada Gubernur Bali Ida Bagus Oka yang menyambutnya dengan antusias. Selanjutnya Gubernur Bali mengajak Menteri Pertambangan dan Energi Ida Bagus Sudjana untuk ikut urun rembuk tentang rencana pembangunan tersebut.

Tak tanggung-tanggung Nuarta, merogoh kocek pribadinya dari penjualan asset pribadi dan karya seninya. Sejak 1989, dimulainya pembangunan itu hingga dibutuhkan waktu selama 28 tahun sampai terwujud mimpinya.

Baca juga:  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan Mendampingi Presiden Joko Widodo kunjungan Ke Geopark Kaldera Toba

Harus diakui banyak kendala yang ada dalam pembangunan ini, terutama dari pendanaan. Restu pembangunan ini diperolehdari Presiden Soeharto pada tahun 1993. Lalu, pada 1997, Nuarta meletakan batu pertama sebagai penanda awal dibangunnya patung GWK.

Tapi situasi politik dan krisis moneter 1998, membuat pembangunan ini mangkrak. Tapi tekad keras Nuarta untuk melanjutkan pembangunan tetap dilakukan dengan berbagai cara. Pada 2000, Nuarta membawa potongan patung yang belum jadi di acara Expo GWK, namun belum berhasil. Bahkan, dia sempat menawarkan untuk menghibahkan asetnya seluas 80 hektare tersebut kepada Negara senilai Rp1,2 triliun.

Dia menghadap Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk memrosesnya. Karena pergantian presiden harus menghentikan langkahnya untuk menempuh jalur hibah ini. Barulah pada 2013, Nuarta menjual 82% aset GWK kepada PT. Alam Sutera. Dari situ Nuarta bisa meneruskan impiannya membangun patung GWK.

Biro Komunikasi

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel