HeadlineBerita

Hadiri CMSE 2021, Menko Luhut Bahas Pentingnya Pasar Modal Hingga Perkembangan Ekonomi Indonesia

Dibaca: 37 Oleh Kamis, 14 Oktober 2021Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2021 10 14 at 14.27.25
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS

No.SP-646/HUM/ROKOM/SET.MARVES/X/2021

Marves – Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan mengungkapkan bahwa pasar modal memiliki peran penting yag sangat vital dalam mendorong kemajuan Indonesia, terutama di tengah tantangan pandemi Covid 19 saat ini. Hal itu diungkapkannya saat menghadiri Capital Market Summit & Expo 2021 (CMSE 2021) yang dilaksanakan secara virtual, Kamis (14-10-2021).

“Dalam event CMSE ini saya ingin fokus terutama pada peran adaptasi dan potensi pasar modal dalam menghadapi berbagai tantangan tadi. Pasar modal memiliki peran yang sangat vital di dalam mendorong kemajuan Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dekade terakhir tidak terlepas dari dukungan pasar modal, terutama pada fungsinya sebagai penyedia dana untuk pembangunan,” kata Menko Luhut membuka acara.

Dia memaparkan bahwa saat ini tingkat pendalaman keuangan Indonesia (financial deepening) memang relatif masih lebih rendah dibanding negara kawasan dan emerging market lainnya. Data Bank Dunia menunjukkan kapitalisasi pasar Indonesia pada tahun 2020 sebesar 47 persen PDB, dibawah Emerging Market seperti India (99%) dan Malaysia (130%). Oleh sebab itu, berbagai inisiatif untuk mengakselerasi pengembangan dan pendalaman pasar keuangan perlu terus diupayakan.

“Namun upaya yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan beberapa capaian yang patut dibanggakan, terutama di tengah tantangan COVID-19. Dari awal tahun sampai dengan 8 Oktober 2021, jumlah pencatatan baru saham atau new listing mencapai 38 perusahaan, ditambah jumlah calon perusahaan tercatat yang sedang mengantre atau sedang dalam pipeline sebanyak 25 calon perusahaan tercatat. Angka pencatatan baru saham ini juga merupakan yang tertinggi di ASEAN, serta masuk dalam urutan ke-12 di dunia,” ujarnya.

Pada periode Januari hingga 8 Oktober 2021, rata-rata frekuensi mencapai 1.288.927 kali, meningkat 90 persen dibandingkan sepanjang 2020. Data frekuensi harian sejak awal tahun 2021 juga terus-menerus mencatatkan rekor terbesar sepanjang sejarah dengan yang terbaru mencapai 2.141.575 pada 9 Agustus 2021. Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi di BEI merupakan yang tertinggi di antara Bursa Efek kawasan ASEAN sejak tahun 2018.

Baca juga:  Kunjungan Kerja Menko Luhut ke GWK Bali

“Dari sisi permintaan, jumlah investor yang meliputi investor saham, reksadana, dan obligasi di Pasar Modal sampai dengan 30 September 2021 jumlahnya mencapai 6,43 juta investor, meningkat 66 persen dibandingkan akhir akhir tahun 2020, atau hampir naik lima kali lipat sejak tahun 2017,” ujar Menko Luhut. Angka ini, lanjutnya, secara umum didominasi oleh investor retail yang proporsinya mencapai 90 persen dari total keseluruhan investor. Meningkatnya partisipasi investor retail yang mayoritas merupakan investor domestik, merupakan pencapaian yang membanggakan sekaligus tidak disangka-sangka. Per akhir September 2021, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) investor retail berkontribusi sebesar 64 persen dari total RNTH, meningkat dibandingkan akhir tahun 2020 yang sebesar 48 persen. Sedangkan proprosi investor institusi terhadap RNTH saat ini sedang mengalami penurunan. Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak masyarakat, khususnya generasi milenial dan generasi Z yang proporsinya senilai 58 persen dari total investor retail per Juli 2020 – yang melek terhadap investasi saham,” jelasnya.

Terkait dengan aktivitas non residen/asing di Pasar Modal Indonesia, hingga Oktober 2021 tercatat besaran net inflow (MTD) senilai minus Rp 3 triliun yang mana jauh lebih rendah dibandingkan Juli 2021 yang nilainya mencapai minus Rp27 triliun, yang kebanyakan disebabkan outflow di bidang obligasi pemerintah. Sedangkan di sisi saham, secara rata-rata bulanan masih mencatatkan pembelian bersih sejak Mei 2021. Hal ini menunjukkan bahwasanya kepercayaan investor asing terhadap performa ekonomi di Indonesia, yang juga merupakan hasil dari kerja keras pengendalian dan pemulihan atas pandemi COVID-19 sangatlah penting. Momentum seperti ini menurut Menko Luhut harus selalu  dijaga karena pasar modal yang stabil dan kuat merupakan salah satu katalis penting dalam mendukung pertumbuhan di sektor riil menghadapi tantangan ke depannya.

“Saya ingin menggarisbawahi bahwa kita tidak dapat melarikan diri dari tantangan global yang akan semakin kompleks dan dinamis setiap harinya. Maka dari itu, kita perlu terus beradaptasi dan mengenali peluang dari setiap tantangan. Hal ini terutama perlu di sektor pasar modal yang krusial demi perekonomian,” ujarnya.

Baca juga:  Kemenko Marves Raih Penghargaan Kategori Informatif dalam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2020

Kondisi Perekonomian dan Iklim Investasi mengalami pertumbuhan positif

Pada kesempatan yang sama, Menko Luhut mengungkapkan bahwa kondisi perekonomian dan Iklim Investasi di Indonesia pada masa COVID 19 saat ini sedang menghadapi era baru, tentunya dengan perkembangan ke arah yang positif.

“Kondisi perekonomian dan iklim investasi Indonesia sedang menghadapi era baru dengan tantangan yang besar dan belum pernah dihadapi sebelumnya. Pertama, pandemi COVID-19 yang menjangkiti lebih dari 200 juta orang dan menyebabkan lebih dari 4 juta korban jiwa di seluruh dunia. Kedua, ancaman perubahan iklim semakin di depan mata. Ketiga, perubahan geopolitik dunia, terutama persaingan antara dua negara adidaya, Tiongkok dan Amerika Serikat. Dengan dunia yang semakin kompleks dan dinamis, masih banyak tantangan lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Meskipun tantangan ini dapat terdengar berat, saya ingin mengajak kita untuk beradaptasi dan melihat potensi dari setiap tantangan yang dihadapi,” katanya.

Menko Luhut memaparkan, pengalaman menangani COVID-19 telah mengajarkan bahwa bangsa Indonesia mampu untuk beradaptasi. Sejak pertengahan Juni lalu, Indonesia dihadapkan pada situasi peningkatan kasus harian yang didorong oleh varian delta yang sangat cepat. Dihadapkan pada situasi tersebut, langkah pembatasan mobilitas masyarakat merupakan satu-satunya pilihan yang harus diambil. Per 3 Juli Pemerintah menerapkan PPKM Darurat/Level di Jawa Bali dengan tujuan menurunkan mobilitas masyarakat sehingga kasus harian bisa ditekan dan pada saat yang bersamaan memberikan waktu bagi pemerintah untuk meningkatkan kapasitas sistem kesehatan.

“Dengan kerja sama yang baik antara Pemerintah Pusat-Daerah, para ahli, tenaga kesehatan, TNI/Polri, dan seluruh masyarakat, kebijakan tersebut mampu menurunkan kasus secara cepat,” tukasnya. Dalam waktu yang sama, tambah Menko Luhut, upaya pengendalian Pandemi Covid-19 tersebut juga Namun menyebabkan pemerintah bersama pemangku kepentingan terkait melakukan reformasi sistem kesehatan tanpa disadari.  Bentuk-bentuk reformasi kesehatan tersebut antara lain  meningkatkan kapasitas tempat tidur, obat-obatan, oksigen, dan tenaga kesehatan.

“Sejak diterapkannya PPKM darurat/level, kita juga berhasil meningkatkan secara signifikan jumlah masyarakat yang divaksin dan menerapkan system teknologi terpadu melalui aplikasi PeduliLindungi sehingga mobilitas masyarakat dapat kembali ditingkatkan dengan aman. Hingga tanggal 11 Oktober 2021, kasus COVID-19 di Indonesia dan Jawa-Bali telah turun masing-masing sebesar 98,9% dan 97,7% dari puncaknya di tanggal 15 Juli,” jelasnya.

Baca juga:  Deputi Nani Hendiarti Kunjungi Kawasan Tawan Wisata Alam Mangrove Angke

Ditambah dengan stimulus PEN yang terealisasi lebih dari Rp150 Triliun selama masa PPKM Darurat/Level, Menko Luhut mengungkapkan, penurunan kasus yang tajam ini telah berdampak positif terhadap kondisi ekonomi. Berdasarkan data-data hingga September, pemulihan ekonomi terjadi sangat cepat, yang tercermin dari indikator-indikator terkait tingkat keyakinan masyarakat, aktivitas konsumsi, dan aktivitas produksi sektor manufaktur yang sudah kembali atau mendekati tingkat sebelum pandemi Covid-19.

“Selain mengajarkan tentang adaptasi, COVID-19 juga mengajarkan tentang bagaimana melihat potensi di tengah kesulitan. Keterbatasan sistem kesehatan menunjukkan bahwa potensi investasi pada sektor kesehatan dalam negeri masih luas, baik dari sisi pembuatan farmasi dan bahan bakunya, peningkatan kapasitas layanan primer seperti puskesmas, hingga yang sifatnya tersier seperti wisata kesehatan. Selain itu, penanganan COVID-19 juga mengakselerasi trend digitalisasi di berbagai sektor,” ujarnya.

Dengan pola pikir yang sama, Menko Luhut berpendapat, Indonesia juga dapat  menerapkan untuk tantangan yang lain, seperti di antaranya sebagai penghasil nikel terbesar, Indonesia dapat menjadi pemasok baterai kendaraan listrik (EV) dunia sementara negara-negara bertransisi ke arah zero emission akibat adanya ancaman perubahan iklim.

Untuk memanfaatkan berbagai peluang tersebut, Pemerintah telah melakukan berbagai upaya memperbaiki iklim investasi melalui penerbitan UU Omnibus yang mempermudah perizinan, memberikan insentif lebih banyak, serta memberikan lebih banyak kepastian hukum dari UU sebelumnya yang cenderung bersifat tumpang tindih. Pemerintah juga menangani berbagai sengketa investasi, menyiapkan insentif khusus kawasan, dan menerbitkan aturan lainnya termasuk aturan perpajakan yang berpihak pada dunia usaha.

“Tentunya keberhasilan ini telah menunjukkan bahwa dengan kerja sama yang baik, kita mampu. Saya berharap agar momentum pemulihan ekonomi yang sedang terjadi ini hari ini terus kita manfaatkan dengan baik dan menjadi pecutan bagi bangsa ini untuk terus berbenah,” pungkas Menko Luhut.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel