FotoBerita DeputiDeputi 2

Hasilkan Produk Inovasi Baru, Kemenko Marves Dukung UMKM Asal Indonesia Buat Inovasi Produk Pangan dan Suplemen Regeneratif

Dibaca: 293 Oleh Rabu, 17 November 2021Tidak ada komentar
9AE12A42 12AC 4DCB 8DB4 FE40A4A0D263
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS
No.SP-728/HUM/ROKOM/SET.MARVES/XI/2021

Marves – Bali, Inovasi produk olahan berbahan dasar hasil laut, peternakan, hingga pertanian terus bermunculan. UMKM menjadi tempat datangnya berbagai produk inovasi dan kali ini salah satunya datang dari PT Saat Alam Pulih Indonesia (PT SAPI) atau Bali Forages. Karya inovasi ini berupa speciality foods dan whole food supplements dengan bahan dasar berupa tiram dari produk kelautan dan perikanannya dan juga memiliki variasi produk lainnya berupa olahan dari sapi. Sebagai pihak yang terus mendorong adanya UMKM untuk mendukung kemajuan perekonomian nasional, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) mendorong adanya berbagai tahapan produksi produk ini, salah satunya dalam hal fasilitasi dan monitoring izin edar produk PT SAPI.

“Kami sebagai pihak yang terus mendorong produk UMKM, terutama di bahan olahan yang berbasis kelautan dan perikanan sangat mendukung yang dalam hal ini ada produk olahan tiram dan juga ada turunan produk lainnya dari sapi,” ujar Asisten Deputi (Asdep) Hilirisasi Sumber Daya Maritim Amalyos Chan saat bertemu langsung dengan pihak PT SAPI (16-11-2021).

Dalam pertemuan yang diadakan secara luring dan daring pihak PT SAPI menyampaikan bahwa produk inovasi dari olahan tiram dan sapi ini sedang memasuki tahapan izin PIRT, registrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), izin Rumah Potong Hewan Berjalan (RPH), dan sedang menginisiasi pembentukan koperasi bagi para peternak dan petani. Selain itu PT SAPI juga menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan MoU untuk memasarkan produk ini secara ekspor ke Hong Kong. Walau begitu, PT SAPI juga tetap ingin melakukan pemasaran di pasar domestik. Untuk itu diperlukan adanya sertifikasi dari BPOM yang nantinya mendukung izin edar produk speciality foods dan whole food supplements.

Baca juga:  Inovasi Produk Jadikan Garam Rakyat Bernilai Tinggi

“Produk seperti ini di luar negeri sudah banyak, tetapi di pasar Asia bahkan Indonesia masih cukup sedikit terutama yang masuk dalam kategori regeneratif, yaitu speciality foods dan whole food supplements,” papar Direktur Utama PT SAPI Aurelia Santoso.

Direktur Aurelia menambahkan bahwa produknya sekarang membutuhkan dukungan pemerintah, terutama melalui BPOM yang sejak pertemuan 16 Agustus 2021 sedang melakukan kajian atas produk dari PT SAPI. Kajian atas produk inovasi dari PT SAPI ini dilakukan untuk menentukan apakah produk tersebut masuk ke dalam produk obat tradisional, suplemen kesehatan, atau pangan olahan. Selain itu, kajian BPOM juga digunakan untuk menentukan apakah produk tersebut dapat diedarkan atau tidak, baik untuk olahan tiram ataupun sapi.

Perwakilan dari BPOM dalam rapat ini menyatakan telah menyelesaikan kajian atas produk dari PT SAPI. Untuk produk berbahan dasar tiram bisa didaftarkan sebagai obat tradisional, karena sudah ada rujukan produk lainnya berbahan baku tiram. Sedangkan untuk produk berbahan dasar sapi, diberikan dua alternatif penyelesaian. Pertama, dapat dikategorikan sebagai produk nutrisi atau suplemen kesehatan dengan demikian dapat diklaim untuk memelihara kesehatan dan harus mencantumkan dosis yang diusulkan memenuhi efek sesuai klaim, yaitu sebagai sumber Vitamin A. Pilihan kedua adalah dengan mendaftarkan produk berbahan baku sapi tersebut sebagai produk pangan dengan kategori serbuk. Syaratnya adalah dengan pangan bentuk sediaan serbuk. Perlu dilakukan juga uji kolesterol dan kadar lemak tak jenuh, serta perlu reformulasi produk dalam pemberian rasa.

Baca juga:  Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan hadiri peluncuran buku "Neither Civil Nor Servant" The Philip Yoe Story, di Grand Indonesia, Jakarta (10/7).

Dengan adanya dua pilihan ini, Kemenko Marves mendorong BPOM agar mengirimkan hasil kajian mereka kepada PT SAPI. Ini ditujukan agar PT SAPI dalam 10 hari kedepan dapat mempelajari dan memutuskan langkah selanjutnya dari hasil kajian BPOM.

“Saya minta kepada BPOM dan PT SAPI, kita 10 hari kedepan coba pelajari ini bersama. Supaya kita bisa cepat memutuskan mau kemana kita membawa kategori sertifikasi produk inovasi ini,” ujar Asdep Amalyos.

Setelah melakukan pertemuan secara luring dan daring dengan PT SAPI dan BPOM, dilakukan kunjungan lapangan di tempat produksi PT SAPI di daerah Canggu. Di tempat produksi tersebut tersedia berbagai macam produk dari kerang dan sapi yang sudah diolah menjadi speciality foods dan whole food supplements.

Upaya Kemenko Marves mendorong produk inovasi dari UMKM dari PT SAPI atau Bali Forages terutama dalam melakukan sertifikasi BPOM, menjadi salah satu gambaran kehadiran pemerintah di tengah masyarakat terutama di masa pasca pandemi dan adanya keseriusan pemerintah dalam melakukan hilirisasi industri. Sistem industri dari hulu ke hilir perlu untuk terus dibangun, terutama bagi UMKM yang bergerak dalam industri agro maritim seperti PT SAPI. Dorongan pemerintah untuk terus memproduksi produk inovasi lainnya, dilakukan agar pegiat UMKM Indonesia lainnya mampu bersaing di pasar lokal dan dunia. UMKM pada dasarnya mampu menjadi tonggak Indonesia dalam mencapai kemandirian bangsa.

Baca juga:  Protein Kaya Manfaat dari Laut

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel