Maritim - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI

Hidupkan Budaya Maritim Nusantara Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas

By 28 Jul 2018 10:31Berita
047EA220-1D8C-473C-B636-7FF4F8ABD0AC

Maritim – Dalam rangka untuk melakukan rekonstruksi ulang dan menghidupkan kembali kebudayaan maritim Nusantara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berencana mendirikan Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi(PUI) terkait dengan budaya kemaritiman Indonesia. Hal iniselaras dengan keinginan bangsa Indonesia untuk membangunkembali nilai-nilai kemaritiman melaui pemberdayaan budaya Nusantara.

Pembahasan ini sempat tercuat dalam Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas yang digelar oleh Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS di Ruang Sidang Rektorat ITS, Kamis (26/7). Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas ini menghadirkan Staf Ahli Kemaritiman Sosio-Antropologi, Tukul Rameyo dan arkeolog dari Universitas Indonesia, Cecep Eka Permana, arkeolog Universitas Negeri Malang Drs Dwi Cahyono M Si, wakil dari komunitas Laskar Nusantara 6 Tri Kiswono Hadi, dan dosen Teknik Geofisika ITS Firman Syaifuddin ST MT.

Dalam paparannya sebagai pembicara pembuka, Staf Ahli Menko Kemaritiman, Dr. Tukul Rameyo Adi, menyampaikan bahwa wilayah Nusantara yang memiliki sejarah yang panjangdan tidak terputus sejak 8000 SM hingga sekarang, telah membentuk kondisi geografis Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau-pulau, dan sejarah panjang Bangsa (Maritim) Nusantara, melahirkan sebuah perspektif bio-kultur, membentuk pengetahuan tradisi dan kearifan lokal, serta kebhinekaan budaya. Sehingga mengelola Kebhinekaan pada hakikatnya adalah mengelola pengetahuan yang mengandung nilai-nilai luhur kebangsaan, mewujudkan jati diri bangsa sebagai landasan pembangunan yang berkelanjutan serta mewujudkan daya saing bangsa. Disampaikan pula bahwa hasil penelitian INDEF pada tahun 2015 menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional akan dapat dipenuhi melalui pembangunan berdasarkan pada ekonomi inovasi, dengan potensi lokal sebagai basis pertumbuhan, yakni berbasis Keanekaragaman sumberdaya alam, dan Kebhinekaan budaya dan pengetahuan lokal. Dengan keanekaragaman sumberdaya alam, kebhinekaan budaya dan pengetahuan lokal tersebut, Indonesia diprediksi akan mampu menciptakan ratusan bahkan ribuan paten, meningkatkan TFP (total faktor productivity) dan pada gilirannya meningkatkan daya saing global.

Lebih lanjut disampaikan bahwa konsepsi misi kebudayaan mulai dikembangkan dalam kerangka Visi Indonesia 2045 untuk mewujudkan meningkatnya peran kebudayaan dalam pembangunan melalui kapitalisasi nilai-nilai luhur budaya bangsa dan pengembangan etos kerja di tahun 2045, serta posisi Indonesia sebagai Pusat Peradaban Dunia di tahun 2085. Namun demikian konsepsi misi kebudayaan ini masih perlu diterjemahkan ke dalam sebuah kebijakan operasional yang mendorong pengelolaan budaya untuk pembangunan dan pembangunan  yang berdampak pada kemajuan budaya. Selain itu, perlu dikembangkan berbagai program aktivasi yang lebih kongkrit dan membangun ekosistem budaya yang  melibatkan seluruh pemangku kepentingan sehingga terwujud pemberdayaan budaya (maritime culture empowerment) bagi pembangunan berkelanjutan melalui inovasi dan kebijakan berbasis pengetahuan.

Terkait hal tersebut pula, PSKBPI LPPM ITS sempat melakukan penelitian peninggalan kerajaan majapahit tentang budaya kemaritiman yang ditemukan di Sidoarjo. Temuan ini berupacandi di tepian sungai Brantas. Dikatakan Amien Widodo, Ketua Kelompok Kajian Bencana PSKBPI, penelitian ini diharapkan dapat merekonstruksi ulang budaya maritim yang pernah ada di Indonesia, terutama di Jawa. “Untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, Indonesia harus membangun budaya maritim ini,” ujarnya pada saat diskusi.

POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Foto Narasi Tunggal Siaran Pers Berita Deputi
Sort by

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Hidupkan Budaya Maritim Nusantara Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas