Berita

Indonesia Siapkan Berbagai Aspek Jelang Global Plastic Treaty 2022

Dibaca: 128 Oleh Selasa, 22 Februari 2022Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2022 02 22 at 9.08.52 PM 1
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Marves, Jakarta – Jelang kegiatan Global Plastic Treaty yang akan dibahas pada United Nations Environmental Assembly (UNEA) 5.2 mendatang, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi berkolaborasi dengan National Plastic Action Partnership (NPAP), dan juga Ocean Plastics Leadership Network (OPLN) menyelenggarakan Indonesia Country Dialogue: Global Treaty on Plastic Pollution pada Selasa (22-02-2022).

Country Dialogue ini bertujuan untuk membangun kapasitas pemangku kepentingan dalam negeri mengenai pengadopsian perjanjian plastik global nanti di UNEA 5.2. Ini menjadi momentum penting bagi kita semua mengingat betapa seriusnya negeri ini dalam mengawal isu sampah plastik,” buka Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Nani Hendiarti.

Acara ini mendiskusikan berbagai hal yang patut kita ketahui mengenai Global Plastic Treaty, “termasuk peluang, manfaat, konsekuensi serta tanggung jawab bagi seluruh pihak yang akan meratifikasikannya, serta langkah strategis selanjutnya yang perlu ditempuh oleh Indonesia,” tambah Deputi Nani.

Dialog ini dirancang secara virtual dengan mode breakout room, dimana peserta pada awal sesi mendengarkan pembukaan, presentasi umum, survey terkait pengadopsian perjanjian global sampah plastik, video para ahli, dan diakhiri dengan sesi breakout yang terdiri dari empat kerangka isu yaitu Keuangan, Perkembangan Pasar dan Inovasi, Monitoring dan Pengukuran Dampak, serta Inklusi Sosial dan Gender.

Baca juga:  Masalah lingkungan hidup, Menko Luhut: Daripada saling menyalahkan lebih baik mencari jalan keluar

Sebagai presentasi pembuka, turut hadir Danny Rahdiansyah, Deputi Wakil Tetap UNEP dan UNHabitat Kedutaan Besar Indonesia di Nairobi, menjelaskan beberapa proses dialog yang sedang dilalui di Nairobi terkait dialog Global Plastic Treaty ini. “Beberapa usulan resolusi sedang terus diproses dan diharapkan akan sesuai dan sejalan dengan ambisi Indonesia dalam penanganan sampah plastik yang ada,” ungkapnya.

Selanjutnya, pada sesi survey langsung terkait topik paling relevan terhadap perjanjian global ini, tercatat bahwa kolaborasi menjadi kunci utama dari proses yang ada jika ingin diwujudkan. Para ahli juga memberikan masukannya dalam sesi selanjutnya, terdiri dari beberapa subjek materi, salah satu narasumber yaitu Fei Febri, CEO Bank Sampah Bersinar menggarisbawahi keharusan pemberdayaan perempuan dan kaum marginal dalam melawan sampah plastik di laut.

Memasuki sesi breakout room, para peserta masing-masing mendiskusikan berbagai kemungkinan serta ancaman terkait materi yang telah disiapkan, dan pada akhirnya dilakukan pemungutan suara terkait pengumpulan data wawasan pemangku kepentingan dan posisi kepentingannya di dalam pengadopsian perjanjian ini.

Baca juga:  Manfaatkan KTT G20, Indonesia Unjuk Gigi Sebagai Pioner Forum Negara Pulau dan Kepulauan

Sebagai wadah untuk mencari tahu berbagai kepentingan Indonesia dalam perjanjian ini, diharapkan gambaran umum terkait kepentingan berbagai pihak pemangku kepentingan dapat tersalurkan dengan baik, tepat, dan maksimal. “Komitmen kuat Indonesia untuk menanggulangi sampah plastik begitu ambisius, diperlukan kolaborasi dan komitmen global untuk bergerak bersama demi menghasilkan dampak yang lebih besar,” tutup Deputi Nani.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
No.SP-62/HUM/ROKOM/SET.MARVES/II/2022

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel