ArtikelBerita Deputi

Inovasi Produk Hayati Jadi Solusi Masalah Sampah Plastik

Inovasi Produk Hayati Jadi Solusi Masalah Sampah Plastik
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Bali-Maritim, Masalah sampah plastik dari produk kemasan makanan dan kantong kresek merupakan masalah yang tidak hanya dihadapi Indonesia. Masalah sampah plastik adalah masalah global yang dihadapi berbagai negara. Salah satu solusi yang sedang dikembangkan dan terus dipromosikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman adalah inovasi produk sumber daya alam dan jasa melalui produk kemasan berbahan rumput laut dan singkong. Bahan-bahan alami ini ditengarai kuat namun mudah terurai hingga tidak merusak lingkungan seperti plastik konvensional.

 Produk ramah lingkungan ini ditampilkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa pada pameran Our Ocean Conference 2018 tanggal 29-30 Oktober 2018 di Nusa Dua, Bali, Indonesia. “Indonesia kaya akan sumber daya alam, tapi khusus untuk pameran Our Ocean ini, kita tampilkan produk yang juga selaras dengan kelestarian lingkungan serta mengatasi masalah sampah plastik, maka kami mengundang mas David Christian dari Evoware dan mba Benita dari Telobag”, kata Asisten Deputi Sumber Daya Hayati Andri Wahyono yang juga menjadi ketua tim pameran.

Andri Wahyono menegaskan bahwa inovasi-inovasi produk hijau seperti ini terus berkembang, “Indonesia telah mengembangkan cangkang kapsul dari rumput laut, yang kehalalannya terjamin dibanding gelatin yang berasal dari hewan. Inovasi produk ini memberikan nilai tambah bagi rumput laut yang selama ini kita ekspor sebagai bahan mentah”.

Bruxel_Waffle_in_Seaweed-based_PackagingDeputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Agung Kuswandono saat meninjau booth pameran sempat berbincang dengan David Christian dan Benita. Deputi Agung mengatakan saat ini produk inovatif seperti ini harganya masih cukup mahal, akibatnya masyarakat masih enggan untuk menggunakan produk-produk ini. “Pemerintah harus sedikit ‘memaksa’ agar produk ini dipakai oleh masyarakat luas. Mungkin saat ini plastik biasa harganya murah tapi kedepannya, penanganan sampah plastik yang sukar diurai ini sangat mahal karena berbahaya bagi lingkungan”. Senada dengan Deputi Agung, David dan Benita meyakini inovasi produk berbasis hayati seperti rumput laut dan singkong ini, meskipun mahal diawalnya, dibelakangnya jadi lebih murah karena tidak memerlukan penanganan khusus untuk bisa terurai kembali dialam. “Aman untuk hewan, karena produk ini tidak beracun dan bisa dikonsumsi” kata David, Benita menambahkan bahwa pewarna yang dipakai pada produk ini adalah pewarna makanan jadi sangat aman.

DSCF7649Peran pemerintah sangat penting dalam inovasi pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Untuk mendukung peran tersebut, Kemenko Kemaritiman dalam hal ini melalui Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa berencana mengundang para innovator dalam rapat koordinasi sumber daya alam. “Kami ingin mendukung upaya-upaya melestarikan lingkungan, laut dari sampah plastik dan mewujudkan ekonomi hijau,” ujar Deputi Agung.

Deputi Agung mengatakan, ada dua tujuan besar rapat koordinasi yang akan diselenggarakan ini. Pertama, meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor (bahan baku rumput laut dan singkong melimpah di nusantara) dengan memperluas penggunaan produk ramah lingkungan. Kedua, mendorong pemasaran dengan meningkatkan sosialisasi produk. “Inovasi produk hayati ini bisa menjadi salah satu solusi masalah sampah plastik” tuturnya.

Produk yang telah dibuat oleh Evoware dan Telobag saja sudah sangat beragam. Mulai dari kantong belanja, sampai produk kemasan makanan serta kemasan produk sanitasi harian. Deputi Agung berharap kegiatan pameran dapat memberikan sumbangan pembelajaran bagi berbagai pihak dalam upaya pengelolaan sumber daya alam berbasis inovasi produk hayati. “Keberhasilan dan tantangan yang ditemukan David dan Benita dalam kampanye produk ini akan menjadi contoh yang sangat berharga. Apalagi kita semua sedang mengkampanyekan kelestarian laut, karena kita sudah melihat dampak buruk plastik terhadap mahluk-mahluk laut, serta dampak mikroplastik pada kesehatan kita. Dalam waktu dekat Kemenko Maritim akan mengundang teman-teman dalam rapat koordinasi terkait produk-produk sumber daya alam hayati yang bisa menjadi produk unggulan Indonesia ini” tutup Deputi Agung.***

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel