Berita DeputiSiaran Pers

Kemenko Kemaritiman Lakukan Penilaian Kenaikan Status Geopark Nasional 2018

f4a9b5aa-d7ff-40e6-aea1-3dcd31c0b0a9
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia

Jakarta Geopark merupakan konsep pembangunan berkelanjutan yang memiliki tujuan mulia yaitu merubah pola pikir (mindset) pemanfaatan sumber daya alam khususnya warisan geologi yang selama ini baru dimanfaatkan melalui kegiatan ekstraktif yang dirubah menjadi upaya konservatif untuk meningkatkan perekonomian lokal maupun regional. Konsep geopark adalah menyatukan perlindungan warisan geologi ke dalam strategi pengembangan sosiobudaya dan ekonomi yang harmonis dengan konservasi lingkungan alam. Sebuah kawasan dapat dikatakan geopark ketika mempunyai unsur atau nilai warisan geologi, keanekaragaman hayati dan warisan budaya.

Perjalanan 10 tahun yang telah dirintis oleh para ahli geopark lintas bidang dari beberapa Kementerian/Lembaga, Instansi, Akademisi/Peneliti, dan Komunitas telah membawa Indonesia sebagai negara Asia Tenggara dengan jumlah UNESCO Global Geopark terbanyak. Meskipun belum se-intensif Tiongkok, Indonesia dinilai menjadi negara yang cukup pesat dalam penerapan pengembangan geopark. Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 4 Kawasan UNESCO Global Geopark yaitu UGG Batur (ditetapkan tahun 2012 dan lulus revalidasi tahun 2017) UGG Gunung Sewu (ditetapkan tahun 2015), UGG Rinjani dan UGG Ciletuh-Palabuhanratu (ditetapkan tahun 2018). Selain itu, Indonesia juga mempunyai 7 (tujuh) Kawasan Geopark Nasional yaitu Geopark Nasional Kaldera Toba, Merangin Jambi, Pulau Belitong, Raja Ampat, Tambora, Maros-Pangkep dan Bojonegoro..

Pengembangan Geopark saat ini semakin dikenal luas seiring dengan telah terselenggaranya Konferensi Nasional I Geopark Indonesia pada tanggal 12 Juli 2018. Beberapa Pemerintah Daerah berlomba-lomba untuk menjadikan daerahnya sebagai kawasan geopark. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Komite Nasional Geopark Indonesia (Adhoc) telah menerima proposal pengajuan geopark nasional pada akhir September 2018 sebanyak 8 (delapan) proposal yaitu dari Pongkor-Bogor, Karangsambung-Karangbolong, Meratus-Kalimantan Selatan, Silokek, Sawahlunto, Ngaraisianok-Maninjau, Natuna dan Banyuwangi. Menurut Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, IPTEK dan Budaya Maritim: “Mengharapkan bahwa perkembangan geopark Indonesia tidak hanya bertumpu pada kuantitas akan tetapi tetap memperhatikan kualitas sesuai standar internasional (UNESCO). Sebagai upaya mewujudkan geopark yang berkualitas, maka Pemerintah Daerah/Badan Pengelola 8 (delapan) calon Geopark Nasional harus mempresentasikan kesiapan dan kelayakan menjadi Geopark Nasional dihadapan Tim Penilai Nasional. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman telah menyelenggarakan kegiatan penilaian status dan evaluasi geopark nasional tahun 2018 yang dilaksanakan pada Selasa (23/10/2018) di Hotel Sari Pacific Jakarta.”

Kegiatan ini dihadiri oleh masing-masing Bupati/Walikota dari 8 (delapan) calon geopark nasional dan telah membubuhkan tanda tangan sebagai komitmen untuk bersungguh-sungguh mengembangkan geopark di daerahnya masing-masing. Hadir pula para pakar yang tergabung dalam tim penilai yaitu Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO-Kemendikbud, Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia dan Jaringan Geopark Indonesia. Kegiatan ini akan berlangsung setiap tahunnya, dalam upaya menaikkan status dan mengevaluasi perkembangan geopark di Indonesia agar memiliki standar dan kualitas yang tinggi dalam upaya menjaga kelestarian alam serta menyejahterakan masyarakat.***

Leave a Reply