Maritim - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI

Kemenko Maritim, BPPT dan Pemprov DKI Jakarta Resmikan Pilot Project PLTSa Bantar Gebang

bg

Maritim – Jakarta, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman  bersama  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan inovasi pengolahan sampah selaras dengan pelaksanaan proyek strategis nasional (Perpres No. 58/2017) terkait proyek infrastruktur energi asal sampah kota-kota besar di Indonesia. Proyek ini diwujudkan dengan pembangunan Pilot Project Pengolahan Sampah Proses Termal (PLTSa) di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang (21/3).

Pilot Project Pengolahan Sampah Proses Termal ini merupakan tindak lanjut dari Kesepakatan Bersama (MoU) antara Pemprov DKI Jakarta dan BPPT dalam Pengkajian, Penerapan dan Pemasyarakatan Teknologi untuk Mendukung Pembangunan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, khususnya Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pengolahan Sampah. Kota-kota besar di Indonesia seperti DKI Jakarta yang timbunan sampahnya mencapai 7000 ton/hari, memerlukan solusi teknologi untuk memusnahkan sampah secara cepat, signifikan dan ramah lingkungan, yaitu dengan proses termal. Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kemenko Maritim Ridwan Djamaluddin melalui pesan singkat menyampaikan purwarupa ini menggunakan kontraktor dalam negeri. “Prototype design, kontraktor dalam negeri, 50 ton sampah/hari, 400 KW listrik”. Teknologi pengolahan sampah secara termal ini memang dapat menghasilkan listrik dari sampah, sehingga sebelumnya populer dengan istilah PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).  Pilot Project ini mempunyai kapasitas 50 ton per hari, dengan hasil listrik 400 Kw, menggunakan teknologi termal tipe Stoker-grate. “Namun demikian perlu disepakati bahwa tujuan utama dari penerapan teknologi termal disini, adalah untuk pemusnahan sampah secara cepat. Jadi listrik yang dihasilkan, anggap saja hanya sebagai bonus,” jelasnya. Pilot Project PLTSa  TPA Bantar Gebang dengan disain nilai kalori (LHV) yang ditetapkan sebesar 1500 kkal/kg, kapasitas sebesar 50 ton sampah/hari dan mampu menghasilkan listrik sekitar 400 kW. Produksi listrik ditargetkan minimal dapat mencukupi kebutuhan internal peralatan PLTSa. Emisi gas buang yang dihasilkan juga telah ditetapkan memenuhi Baku Mutu Emisi dalam Permen LHK Nomer 70/2016.”Proyek ini adalah bentuk dari kesepakatan bersama (MoU) antara Pemprov DKI Jakarta, BPPT, dan Kemenko Maritim,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Infrastuktur Kemenko Maritim Ridwan Djamaludin.

Kepala BPPT Unggul Priyanto dalam sambutannya menyampaikan, “Kami mengharapkan agar Pembangunan Pilot Project PLTSa ini akan selesai dalam satu tahun. Untuk itu diperlukan komitmen tinggi dari kedua belah pihak, serta dukungan dan sinergi antar pemangku kepentingan lainnya.Setelah selesai pembangunan, uji coba dan pengoperasiannya akan dilakukan bersama antara BPPT dengan Pemprov DKI Jakarta yang diatur dalam suatu perjanjian kerja sama,”.
 Teknologi Pengolah Sampah
Merinci mengenai teknologi ini, Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT Rudi Nugroho menjelaskan bahwa pemilihan teknologi termal dilakukan oleh BPPT berdasarkan kriteria Best Available Technology Meet Actual Need (BATMAN) yaitu teknologi terbaik (proven) yang banyak digunakan di dunia, cocok untuk jenis dan kondisi sampah di Indonesia, ramah lingkungan serta memiliki potensi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi.
Umumnya di berbagai daerah Indonesia, pemrosesan akhir sampah masih menggunakan Tempat Pemrosesan Akhir sistem Landfill/penimbunan. Teknologi landfill ini memerlukan waktu proses yang lama, lahan yang luas, dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.  Potensi pencemaran dari landfill berupa air lindi dan emisi gas-gas berbahaya bagi lingkungan harus dipantau dan harus ditangani. Pemantauan dan penanganan potensi pencemaran dari landfill ini juga memerlukan biaya yang tidak sedikit karena berlangsung dalam waktu yang lama.
Pilot Project Pengolahan Sampah Proses Termal (PLTSa) Bantar Gebang ini sebagian besar peralatan merupakan produksi dalam negeri. PLTSa terdiri dari 4 (empat) peralatan utama yaitu bunker terbuat dari concrete yang dilengkapi dengan platform dan crane; ruang bakar dengan reciprocating grate yang di desain dapat membakar sampah dengan suhu diatas 950⁰C sehingga meminimalisir munculnya gas buang yang mencemari lingkungan. Panas yang terbawa pada gas buang hasil pembakaran sampah, digunakan untuk mengkonversi air dalam boiler menjadi steam di dalam boiler. Steam yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin untuk menghasilkan listrik. Desain Pilot Project PLTSa ini sangat kompak, indah dan tertutup rapi yang akan digunakan sebagai pusat studi sekaligus wisata edukasi pengolahan sampah. Semoga dapat menjadi percontohan serta pilihan teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan, guna menyelesaikan permasalahan sampah kota-kota besar di tanah air,” Pungkas Rudi Nugroho.***
Foto oleh Humas BPPT
POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Siaran Pers Berita Deputi Foto
Sort by

Kirim Komentar/Pertanyaan

Kemenko Maritim, BPPT dan Pemprov DKI Jakarta Resmikan Pilot Project PLTSa Bantar Gebang