Maritim - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI

Kemenko Maritim dorong Pemanfaatan Batubara Kalori Rendah

929053-coal

Maritim-Jakarta, Indonesia adalah salah satu penghasil batubara terbesar di dunia. Data dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan bahwa produksi batubara Indonesia pada tahun 2017 mencapai 461 juta ton. Masalahnya tidak semua batubara yang dihasilkan merupakan batubara kalori tinggi, sebagian lainnya adalah batubara kalori rendah yang kurang diminati pasar ekspor. Padahal, batubara kalori rendah (lowrank coal)  berpotensi untuk menjadi sumber energy alternatif yang ramah lingkungan melalui konversi dan gasifikasi.

Batubara kalori rendah kurang ramah lingkungan, karena kadar sulfurnya lebih dari 1%, demikian pula dengan adanya zat terbang lain yangg menyebabkan polusi. Barubara disebut berkalori rendah bila kalornya kurang dari 5000. Akibatnya batubara jenis ini tergolong non ekspor. Umumnya batubara Indonesia adalah batubara kalori rendah (lignit –  sub bituminous) yang ternyata bila dikonversi ke Gas Dimethyl Ether akan memberikan nilai tambah yang signifikan dan ramah lingkungan.

Peningkatan nilai tambah tersebut sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor. 04 tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara, yaitu peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan pemurnian dalam negeri. Kelebihan lain yang mendukung keekonomian Konversi Batubara ke DME di Indonesia adalah karena lokasi industri dekat ke sumber batubara.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) mendorong pemanfaatan batubara kalori rendah. Kemenko Maritim berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lemigas, Kementerian ESDM, Kadin, Badan Geologi dan Pertamina. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa telah mengundang pihak-pihak terkait dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pembahasan Pengembangan Industri Konversi Batubara ke Kimia di Jakarta, (19/3).

Konversi batubara kalori rendah ke Dimethyl Ether (DME) yang  dapat digunakan oleh rumah tangga sebagai bahan bakar pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG), transportasi umum, pembangkit listrik dan juga kalangan industri yang banyak memakai bahan baku aerosol. Konversi DME dari batubara akan melalui proses gasifikasi (perubahan bahan bakar padat menjadi gas secara termokimia), teknologi gasifikasi dari batubara pun sudah proven di dunia. Studi di Indonesia juga sudah dilakukan sejak tahun 2006. Negara yang sudah berhasil mengembangkan adalah Amerika Serikat, dan Tiongkok yang sudah berhasil meningkatkan produksi DME dari total produksi sebanyak 40.000 ton/tahun di 2004, menjadi 8,3 juta ton/tahun di tahun 2010.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Maritim Agung Kuswandono dalam rapat koordinasi tersebut menyampaikan ada beberapa aspek penting yang harus terlihat dari program yang dinilai strategis ini, diantaranya adalah mensosialisasikan program ini kepada masyarakat, sisi keekonomian juga harus jelas, perencanaan pembangunan pabrik yang mendetail dan bagaimana caranya agar dapat menarik investor. Serta perlunya dibuat business model yang lebih terperinci dan bisa menggambarkan manfaat yang bisa diterima Indonesia, “Misalnya dengan menjelaskan berapa subsidi yang bisa dihemat pemerintah dengan proyek ini” Kata Deputi Agung “Selain itu, apakah program ini dapat lebih banyak menyerap lapangan kerja dan dapat mengurangi subsisdi pupuk dan lainnya? Yang jelas kita ingin proyek ini tidak berjalan setengah-setengah,”

 “Indonesia punya banyak batubara, namun program ini belum juga dimulai. Padahal di dunia, teknologi konversi ini sudah proven (dapat dibuktikan), sebab ini adalah clean energy atau energi bersih. Kita ingin Kemenko Maritim yang mengambil keputusan,” imbuh Ketua Komite Industri Kimia dan Petrokimia Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rauf Purnama dalam rakor yang sama.

Agar program konversi batubara  tersebut dapat berjalan baik diperlukan keberpihakan Pemerintah, khususnya pertamina sebagai off taker utama dari LPG, sebab impor LPG lebih besar dari produksi dalam negeri. Salah satu yang membebani APBN selain subsidi listrik adalah subsidi BBM dan LPG. Sementara konversi DME diproyeksikan dapat mengurangi impor LPG dan subsidi pemerintah hingga dapat menghemat APBN secara signifikan.

Kemenko Maritim merencanakan untuk segera menyiapkan kelompok diskusi terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dengan mengundang kembali pihak terkait pada awal bulan April mendatang. FGD ini diharapkan dapat menghasilkan bisnis model konversi batubara kalori rendah menjadi DME yang lebih komprehensif.***

foto :HD Coal Wallpapers | Download Free – 929053

POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Siaran Pers Berita Deputi Foto
Sort by

Kirim Komentar/Pertanyaan

Kemenko Maritim dorong Pemanfaatan Batubara Kalori Rendah