Berita Deputi

Kemenko Maritim Optimis Capai Target EBT 23 Persen

WhatsApp_Image_2019-04-24_at_14.23.38
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Palembang, Pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Kemenko Bidang Kemaritiman melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam (SDA) dan Jasa menggelar rapat koordinasi serta peninjauan lapangan dalam rangka Kaji Banding Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) & Pembangkit Listrik tenaga Biomassa (PLTBm) Sekam Padi di Palembang, Sumatera Selatan pada Selasa (23-04-2019).

“Negara kita, Indonesia adalah negara tropis dan juga negara maritim terbesar di dunia. Kita mempunyai lebih dari 17 ribu pulau yang disatukan oleh laut dan luas lautnya itu sebesar 76% dari wilayah teritorial Indonesia, makanya kita disebut sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Artinya apa? artinya dengan karakteristik seperti ini, maka cara pandang kita untuk membuat daerah-daerah di Indonesia bisa teraliri listrik dengan baik, tidak bisa seluruhnya secara konvensional yaitu dengan menggunakan kabel,” jelas Deputi Bidang Koordinasi SDA dan Jasa Agung Kuswandono dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Deputi Agung menegaskan bahwa harus ada pemikiran tentang listrik Indonesia dimana sumber daya alam yang ada dimanfaatkan sesuai karakteristik geografis Indonesia.

“Yang pertama adalah matahari, selama 365 hari per tahun kita ini terkena panas, dan panasnya pun luar biasa mulai dari pagi sampai sore, tak pernah habis. Kedua angin, kita punya angin yang besar juga dan bisa kita manfaatkan. Ketiga arus, beberapa daerah di Indonesia, arus lautnya bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan energi listrik. Yang keempat dan yang terbaru adalah sekam padi, negara Indonesia kan negara agraris yang mana produksi padinya luar biasa banyak,” tambah Deputi Agung.

Dalam kesempatan ini, ia ingin mengajak semua pihak atau stakeholder terkait untuk mulai berpikir, menyatukan wawasan bahwa energi baru terbarukan ini saat ini pengolahannya masih kurang masif.

“Rakor ini salah satu cara untuk menyatukan pendapat maupun wawasan, juga membahas mengenai tumpang-tindih regulasi yang ada serta meluruskan regulasi supaya mudah dijalankan. Masih banyak yang harus kita (pemerintah) lakukan,” pungkasnya.

Turut hadir pula dalam kegiatan ini, Direktur Utama Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) Sumsel – PLTSA Jakabaring Arif Kadarsyah, Perwakilan PT. Sky Energi Indonesia Anang Imam, Wakil Bupati Sidrap Ir. H. Mahmud Yusuf dan Manager Utility PT Buyung Putra Sembada-pelopor Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa Sekam Padi Rudy Rinaldy.

Sumatera Selatan Patut Dicontoh

Pemerintah telah menyusun target bauran EBT dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), yakni 23% pada tahun 2025 dan paling sedikit 31% pada tahun 2050. Untuk mencapai bauran 23% pada tahun 2025 dibutuhkan sekitar 45.000 megawatt (MW) listrik berbasis EBT. Sebagaimana diketahui bahwa kontribusi EBT dalam bauran energi nasional pada saat ini baru mencapai sekitar 12%.

“Saya berpikir bahwa energi baru terbarukan seperti ini harus dijadikan energi prioritas. Makin lama kan kita semakin mengurangi energi fosil . Jadi sekarang kita balik, kita mulai menggunakan biofuel. Sekarang masih B20 ya, dan sedang dilakukan pengujian terhadap B30 sebentar lagi B50, bahkan pak Presiden maupun Pak Menko minta kalau bisa B100, karena kita punya sumber daya alam kelapa sawit yang sangat banyak. Kalau bisa ini kita serap untuk Indonesia sendiri, maka penyerapan kelapa sawit akan selesai. Dan cost akan bisa kita kurangi mungkin puluhan triliun biaya untuk energi, bayangkan betapa besarnya,” tambah Deputi Agung.

Di Sumatera Selatan sudah terdapat PLTS Jakabaring dan PLTBm Sekam Padi di Ogan Ilir. “Negara kita ini sejatinya kaya dengan sumber energi terbarukan. Sumatera Selatan patut dicontoh karena telah berhasil memanfaatkan matahari dan limbah sekam padi menjadi pembangkit listrik,” ujarnya.

Deputi Agung berharap daerah-daerah lain khususnya yang memiliki sawah-sawah luas, dapat meniru Sumatera Selatan. Selain Sumatera Selatan, ia yakin, daerah-daerah lain bisa mandiri di bidang energi karena dapat memanfaatkan potensi EBT didaerahnya.

“Jika kita menginginkan penghematan secara finansial, lingkungan yang lebih bersih, kita bisa membangun pembangkit listrik EBT. Apa yang telah dibangun di Sumatera Selatan, dapat saja diduplikasi di daerah lain. Semoga bermanfaat, tidak hanya demi memenuhi target bauran energi terbarukan, tapi juga untuk menjadikan masyarakat Indonesia, kian produktif, kian maju dan sejahtera,” tutupnya.

Deputi Agung berkeyakinan bahwa Indonesia bisa mandiri bahkan swasembada energi karena Indonesia sangat kaya akan sumber daya yang dapat dimanfaatkan dengan cara-cara yang baik.

Dalam hal ini, Asisten Deputi Sumber Daya Mineral, Energi dan Nonkonvensional Kemenko Bidang Kemaritiman Amalyos juga menegaskan bahwa di Sumatera Selatan dapat dilihat bahwa variasi pemakaian EBTnya sudah berkembang dan memang pemerintah daerahnya sendiri mendukung penuh.

“Kalau EBT hampir semua wilayah punya potensi. Kita lihat potensi masing-masing wilayah sudah terpetakan. Itu sudah terpetakan hingga ada target 23%. Target kami mengoordinasikan stakeholder terkait sehingga kita bisa memenuhinya. Dengan sumber daya kita yang kaya, kita optimis bisa lebih dari 23%,” tutupnya.

Hari ini, peserta rakor juga berkesempatan untuk berkunjung langsung ke PLTS Jakabaring dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Compressed Natural Gas (CNG) di Kabupaten Ogan Ilir

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel