FotoBerita DeputiDeputi 5

Kemenko Marves Apresiasi Peluncuran Gastronosia – IGC

Dibaca: 9 Oleh Senin, 5 April 2021Tidak ada komentar
Kemenko Marves Apresiasi Peluncuran Gastronosia – IGC
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS
No.SP-223/HUM/ROKOM/SET.MARVES/IV/2021

Marves – Yogyakarta, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengapresiasi acara peluncuran program “Gastronosia” – IGC yang mengusung tema “Dari Borobudur untuk Nusantara.” Program ini diselenggarakan di Halaman Belakang Restoran Rama dan Sinta, Candi Prambanan, Yogyakarta, Minggu (4-4-2021).

Ketua Umum IGC, Ria Musriawan saat peluncuran Gastronosia-IGC mengatakan program dari Indonesia Gastronomy Community (IGC) ini bertujuan untuk merekonstruksi kejayaan gastronomi nusantara di masa lampau yang relevan digunakan di masa kini. Peluncuran tersebut memperkenalkan hidangan yang terdapat pada prasasti penetapan Sima dan relief abad VIII – X terutama dari Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Cabean Kunti.

“IGC melakukan eksplorasi guna memberikan edukasi mengenai perkembangan gastronomi dari sudut sejarah melalui relief dan prasasti sebagai salah satu misi kami dalam memperkenalkan Indonesia sebagai pusat budaya makanan,” katanya.

Terkait hal ini, Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif Kemwnko Marves, Sartin Hia yang turut hadir dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa Kemenko Marves mengapresiasi acara Gastronesia inisiasi IGC (Indonesia Gastronomy Community).

Baca juga:  Menko Luhut Ajak Pemuda Dukung Pembangunan Sektor Maritim, Energi dan Wisata Bahari

“Ini menjadi bagian dari upaya mengangkat kuliner Indonesia yang kaya dengan budaya dan filosofi. Tinggal bagaimana mengemasnya menjadi sebuah daya tarik untuk mendukung pariwisata di Indonesia,” tutur Asdep Sartin.

Tidak hanya itu, Asdep Sartin menambahkan akhir-akhir ini Kemenko Marves, bersama Kementarian/Lembaga lainnya, pemerhati, pakar kuliner, asosiasi, komunitas, pelaku usaha tengah bersama-sama merumuskan sebuah program untuk menduniakan kuliner Indonesia, bertajuk Indonesia Spice Up The World.

“IGC sejak 2020 lalu juga sudah turut bersama-sama kami memformulasikan kerja bersama para stakeholders, khususnya dari komunitas/asosiasi/pelaku usaha. Mengadakan berbagai webinar untuk kembali mengangkat potensi kuliner Indonesia untuk dikenal mancanegara. Ini adalah sebuah kerja sama yang baik,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama hadir secara virtual, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid. Dalam sambutannya, Dirjen Hilmar menyambut baik upaya interpretasi pertama ini pada Candi Borobudur yang sudah dikenal oleh dunia untuk memudahkan upaya memperkenalkan Indonesia melalui budaya gastro-delicacy. Ia juga mengungkapkan Gastronosia merupakan program yang inovatif dan inspiratif.

Baca juga:  Menko Marves Rakor Percepatan Perputaran Ekonomi Lokal.

“Gastronosia persembahan IGC ini sangat inovatif dan inspiratif.  Inovatif karena mampu memperkenalkan budaya kuno dengan mendekatkan diri pada minat setiap manusia, yaitu makanan. Inspiratif karena seni tradisi diangkat lebih menarik dan mudah difahami oleh multi-generasi dengan menceritakan perpaduan konten verbal dalam prasasti dengan konten visual pada relief,” ungkap Hilmar.

Acara ini diresmikan oleh Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X dengan pemecahan kendi. KGPAA Paku Alam X membacakan sambutan dari Gubernur DI Yogyakarta terkait harapan untuk IGC supaya berperan dalam menggalakkan swasembada pangan.

“Dengan menggali sejarah sumber makanan lokal, maka masyarakat dapat mengembalikan kekayaan pangan lokal yang sesuai dengan kondisi alam di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya,” papar KGPAA Paku Alam X.

Adapun rekonstruksi makanan disampaikan oleh peramu makanan handal, yakni Sumartoyo. Ia menyajikan makanan antara lain, Rumbah Hadangan Prana (Glinding Daging Kerbau), Knas Kyasan (Kicik Daging Rusa), Klaka Wagalan (Ikan Beong Masak Mangut), dan Harang-harang Kidang (Rusa Bakar).  Sebagai contoh wujud makanan, diketahui bahwa Kicik Daging Rusa berasal dari interpretasi pada Prasasti Mantasyih I (829 Saka / 907 M , Prasasti Parada II  (865 Saka / 943 M), dan relief Borobudur.

Baca juga:  Menko Luhut Pimpin Video Conference Rapat Koordinasi Penetapan Bisnis Proses Penyelenggaraan Pipa dan Kabel Bawah Laut

Menurut Riris Purbasari dari
Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah, perpaduan relief dan prasasti menunjukan keragaman bahan dasar makanan dan wujud makanan yang telah diadopsi dari masa – ke masa. Contohnya Prasasti Alasantan dan Relief Candi Borobudur menunjukan referensi yang dipakai dalam menentukan makanan yang direkonstruksi.

Turut hadir dalam acara tersebut Penasehat Khusus Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Bidang Komunikasi, Ezki Tri Rezeki, Tenaga Ahli Menko Bidang Kebijakan Haluan Maritim, Tukul Rameyo Adi, dan Kepala Bagian Humas Marves, Khairul Hidayati.

Biro Komunikasi
Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel