Berita DeputiDeputi 4

Kemenko Marves Kawal Pemanfaatan Energi Biomassa

Dibaca: 9 Oleh Jumat, 16 April 2021Tidak ada komentar
Kemenko Marves Kawal Pemanfaatan Energi Biomassa
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Marves – Jakarta, Untuk terus mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dan meningkatkan ketahanan energi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi melalui Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan kembali menyelenggarakan Rapat Koordinasi Teknis Persiapan Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan HTI Energi dan Pemanfaatan Biomassa Kalimantan Barat pada Jumat, (16-04-2021). Rakor ini membahas permasalahan teknis terkait penerapan metode biomassa dan diperlukannya pilot project terkait khususnya di Kalimantan Barat, baik permasalahan bahan baku hingga ke pembangkit listrik yang ada.

“Kalimantan Barat memiliki bahan baku yang melimpah untuk pengelolaan biomassa, Hutan Tanaman Energi juga banyak yang berlokasi di sana, pertimbangan ini menjadi salah satu usulan dari Ibu Deputi Nani agar Kalimantan Barat menjadi lokasi Pilot Project yang dipilih,” buka Asisten Deputi (Asdep) Farianna Prabandari selaku pimpinan rapat. Menurutnya, kebutuhan penyelenggaraan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan pemanfaatan energi biomassa harus diselenggarakan secara kolaboratif dan saksama. Mengundang berbagai pakar dari kementerian, Lembaga, Universitas, Industri, dan sektor swasta lainnya diskusi dalam forum ini diharapkan mampu memberikan masukan terkait teknis yang ada di lapangan.

Baca juga:  Inovasi Produk Hayati Jadi Solusi Masalah Sampah Plastik

Sampai saat ini, Indonesia masih melakukan impor listrik sebesar 120 Megawatt dari Malaysia, yang sebagian besar dialokasikan dari Sarawak ke Kalimantan Barat. Hal ini dikarenakan oleh tidak adanya sumber bahan baku batubara untuk pembangkit listrik. Untuk itu, menurut Ketua Umum APHI, Indroyono Soesilo menegaskan bahwa energi biomassa dapat menjadi jawaban dari permasalahan yang ada. “Kita dapat menggunakan pola penggunaan HTE, pabrik woodchipper, dan Pembangkit Listrik skala kecil yang memanfaatkan potensi energi biomassa (PLTBm) yang ditawarkan ke PLN dalam bentuk listrik per-KWh,” ungkapnya. Menurutnya, komitmen sangat diperlukan dalam menjalankan proyek ini, masalah teknis seperti biaya dan lainnya harus dibicarakan secara saksama dan lintas-sektor agar segera mencapai target pemanfaatan energi baru terbarukan.

Melalui paparannya, Harsian selaku Manajer Kelistrikan PLN Kalimantan Barat menjelaskan daerah ini memiliki potensi 138 Mega Watt untuk biomassa, “Kami sangat mendukung ide besar ini, hal ini tentu akan memberikan manfaat bagi kami pula,” ungkapnya. Begitu pula dengan berbagai pihak lainnya, dimana pengembangan ide ini mampu memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Kalimantan Barat, khususnya dalam industri kelistrikan.

Baca juga:  Pastikan Main Dam Selesai 2021, Kemenko Marves Tinjau Bendungan Karian

Tidak hanya mempertemukan aktor-aktor pemerintah dan industri swasta di dalamnya, turut hadir pula para akademisi dalam pembahasan rakornis ini. Menurut Profesor Gusti Hardiansyah, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura mengungkapkan bahwa perlunya penggabungan teknologi limbah sawit dengan kayu mangrove atau kaliandra, “PLBm juga tidak mahal, dapat diterapkan di suatu desa dan mampu menghasilkan air bersih untuk rumah-rumah,” jelasnya. Tidak hanya itu, teknologi ini juga mampu memanfaatkan hasil tanaman masyarakat sekaligus menghidupkan kehidupan ekonomi mereka.

“Seperti yang kita semua ketahui, limbah industri kayu yang menghasilkan kalor yang mendekati batubara diproses menjadi pellet kayu dan serpih kayu (wood pellet dan wood chip), kita harus bersama-sama mendiskusikan kebutuhan dari hulu ke hilir terkait kedua hal tersebut,” tegas Asdep Farianna. Semakin lengkap, rakornis ini turut mengundang internal Kemenko Marves, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Energi dan SUmber Daya Mineral, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, PT PLN, APHI, PLTBm Siantan dan Ketapang, serta para akademisi.

Baca juga:  Menko Luhut Tinjau PT. Industri Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali

Sebagai penutup, Asdep Farianna menegaskan bahwa ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dan ditindaklanjuti dari rapat ini. Menurutnya, one map energi di KLHK harus terus dikembangan sebagai pedoman pembangunan, juga dukungan universitas setempat dapat terus mendukung pembangunan ini. Selanjutnya, akan dilakukan pula kunjungan lapangan oleh Kemenko Marves beserta K/L terkait ke beberapa lokasi di Kalimantan Barat agar segera dapat terlihat progress dari pembangunan yang ada.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

 

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel