FotoBerita DeputiDeputi 2

Kemenko Marves Tandatangani Nota Kesepahaman Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Sistem Rantai Dingin Industri Perikanan Indonesia

Dibaca: 22 Oleh Kamis, 15 Juli 2021Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2021 07 15 at 14.37.16 1
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS
No.SP-432/HUM/ROKOM/SET.MARVES/VII/2021

Marves – Jakarta, Dalam usahanya memperkuat hilirisasi industri perikanan, pada Kamis (15-07-2021) telah dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Sistem Rantai Dingin atau Cold Chain System Industri perikanan Indonesia. Melalui nota kesepahaman ini pemerintah berusaha mendorong kemajuan industri perikanan di Indonesia melalui berbagai inovasi dan teknologi, kajian yang komprehensif dari kalangan profesional dan nantinya mampu dibuat sebuah prototipe yang dapat digunakan dalam industri perikanan, khususnya terkait penyimpanan berpendingin yang statis ataupun movable atau dapat dipindahkan sesuai kebutuhan pasar. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai pendukung utama kemajuan industri perikanan Indonesia, menyampaikan agar setelah penandatanganan ini dilaksanakan, kita memiliki industri yang mampu bersaing di pasar dunia dengan menggunakan alat-alat produksi dalam negeri.

“Sistem rantai dingin kita perlu yang buatan dalam negeri, sampai sekarang kita masih impor untuk reefer container yang ada. Oleh karena itu, untuk mendukung industri perikanan Indonesia yang lebih baik dan hemat pengeluaran, kita kerja sama dengan pihak BUMN dari PT Industri Kereta Api (PT Inka Persero) dan Universitas Brawijaya, serta usernya yaitu asosiasi profesi dan organisasi nirlaba,” ujar Deputi Bidang Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Safri Burhanuddin, secara virtual.

Baca juga:  Menko Bidang Kemaritiman Luhut B. Panjaitan Memberikan Sambutan Kemudian Menandatangi Deklarasi Citarum di Gedung Sabilulungan

Proses penandatanganan ini dilakukan oleh Kemenko Marves selaku pihak pemerintah yang mendorong agar industri perikanan ini berjalan, kemudian PT Inka Persero yang nantinya mampu memproduksi reefer container buatan dalam negeri, Universitas Brawijaya selaku perwakilan dari institusi pendidikan yang nantinya mampu mengembangkan berbagai jenis teknologi dan inovasi untuk sistem rantai dingin Indonesia, lalu adanya pihak keempat dari Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), dan terakhir dari Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI). Melalui penandatanganan antara kelima pihak ini, diharapkan sistem rantai dingin buatan Indonesia ini mampu menjaga mutu produk perikanan dan mampu mendukung pegiriman door to door produk frozen.

“Prototipe dari reefer container sudah ada dan siap diuji coba. Keberhasilan dari uji coba tersebut menjadi titik kesiapan Indonesia untuk menghadapi pasar ekspor yang lebih luas dengan tetap menjaga mutu produk,” papar Direktur Utama PT Inka Persero Budi Novianto.

PT Inka Persero memiliki spesifikasi dari prototipe yang sudah dibuat, yaitu ada yang berkapasitas 1 (satu) ton, 2 (dua) ton, dan 5 (lima ton) untuk mini reefer container. Untuk tingginya ada yang berukuran 20 kaki dan 40 kaki. Temperaturnya berkisar antara -25°C dan -10 °C dengan ambient temperatur 40°C. Sumber listrik dari genset (portable) dengan jenis muatan ikan, sayur dan buah dengan operasional portable.

Baca juga:  Menko Luhut Keynote Speech pada acara Renewable Energy and Energy Conservation Knowledge Sharing Session

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel