ArtikelBeritaBerita DeputiDeputi 3Siaran Pers

Kemenko Marves Tinjau Pengembangan Infrastruktur Konektivitas di Papua Barat

Dibaca: 163 Oleh Jumat, 29 Oktober 2021Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2021 10 29 at 19.53.19
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS
No.SP-665/HUM/ROKOM/SET.MARVES/X/2021

Marves–Sorong, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Ayodhia Kalake didampingi oleh Sekretaris Deputi (Sesdep) Lukijanto yang sementara juga menjabat sebagai Plt. Asisten Deputi (Asdep) Infrastruktur Konektivitas; serta Asdep Infrastruktur Dasar, Perkotaan, dan Sumber Daya Air (IDPSDA) Rahman Hidayat melakukan kunjungan kerja dalam rangka monitoring percepatan pengembangan Pelabuhan Sorong dan Pelabuhan Arar di Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat pada Selasa (19-10-2021) .

“Hari ini kami datang untuk meninjau dan mengetahui secara langsung progress pembangunan kedua pelabuhan yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional di Provinsi Papua Barat, yaitu Pelabuhan Sorong dan Pelabuhan Arar,” ujar Deputi Ayodhia pada kesempatan tersebut. PSN sendiri diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Mode transportasi yang dimiliki Papua Barat adalah Pelabuhan Sorong dan Pelabuhan Arar. Wakil Bupati Sorong Suka Harjono dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa  nantinya, pelabuhan akan terintegrasi dengan KEK Sorong. “Pelabuhan Sorong dan Pelabuhan Arar hanya berjarak 36 kilometer, atau sekitar satu jam jarak tempuh,” ujarnya.

Baca juga:  Kunjungi Lahan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus, Menko Luhut: Kita Siapkan Bibit Unggul dari Pollung

Pengembangan Pelabuhan Sorong eksisting akan dilakukan melalui tiga fase. Pertama, pengembangan jangka pendek yang telah dilakukan sejak 2016 hingga 2021, jangka menengah yang akan dilakukan mulai 2022 hingga 2027, dan pengembangan jangka panjang yang akan dilakukan pada tahun 2028 sampai 2036. Pada masa mendatang, Pelabuhan Sorong melayani pelayanan jasa kapal, seperti pelabuhan komersial, pelabuhan nonkomersial, terminal khusus, dan terminal untuk kepentingan sendiri.

Rencana pengembangan Pelabuhan Sorong telah tertuang dalam Keputusan Presiden (KP) Nomor 377 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Sorong, Provinsi Papua Barat Dengan dibuatnya kebijakan ini, nantinya Container Yard (CY) Pelabuhan Sorong akan diperluas 5 hektare menjadi 7,8 hektare dan perpanjangan dermaga sepanjang 340 meter.

Sementara itu, Pelabuhan Arar akan dibangun seluas 25 hektar melalui tiga fase yang sama, yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

“Dengan dibangunnya Pelabuhan Arar, yang menjadi bagian dari Tol Laut, akan dapat memberikan kelancaran pergerakan barang di kawasan tersebut,” harap Deputi Ayodhia.

Baca juga:  Pemerintah Ekspor 8,9 Ribu Ton Hasil Perikanan Serentak di Lima Pelabuhan

Saat ini masih ditemukan beberapa kendala yang menyebabkan belum optimalnya penggunaan Pelabuhan Arar sebagai pusat kegiatan bongkar muat kapal. Beberapa penyebabnya, seperti adanya karang hidup yang berada di depan Dermaga Arar sehingga mempengaruhi gerak penyandaran kapal, alur pelayaran yang sempit dengan kedalaman alur hanya sekitar 6 meter, serta kolam pelabuhan yang tidak terlalu luas untuk mengantisipasi kapal berukuran besar yang akan bermanuver.

Sebagai informasi, acara ini turut dihadiri oleh Kepala Bappeda Kabupaten Sorong, perwakilan Dinas Perhubungan, Kepala Administrator KEK Sorong, Direktur Utama PT Malamoi Olom Wobok, General Manager PT Pelindo Sorong, serta perwakilan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas Sorong.

Selain itu, sebelumnya pada Senin (18-10-2021) Deputi Ayodhia juga mengunjungi Pelabuhan Waisai dan Bandara Marindah di Pulau Waisai, Kabupaten Raja Ampat. Lokasi ini merupakan salah satu akses keluar masuk masyarakat dan bandara perintis di Raja Ampat, Papua Barat. Saat ini, landasan pacu bandara telah terbangun sepanjang 1.400 meter, namun saat ini hanya ada satu kali penerbangan setiap minggunya. Kabupaten Raja Ampat sebagai kabupaten kepulauan, merupakan salah satu lokasi rencana pengembangan bandara perairan (seaplane)  sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2020-2024.

Baca juga:  Bahas Kelanjutan Ibukota Sofifi, Pemerintah Memutuskan Akan Genjot Pembangunan Sarana Prasarana

Salah satu hal yang sangat menarik di Raja Ampat adalah pengembangan Desa Wisata di Arborek yang dinilai dapat menjadi contoh pengembangan desa wisata lain di Indonesia. Infrastruktur dasar di Raja Ampat, seperti jalan umum maupun penyediaan air bersih, perlu mendapat perhatian khusus. Hal yang sama juga perlu diterapkan terhadap rencana pembangunan Waisai Torang Cinta (WTC) sebagai destinasi pariwisata. Selain itu, Bandara Misool yang direncanakan untuk dibangun diharapkan mampu mendukung pengembangan pariwisata di kawasan tersebut.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel