Berita Deputi

Koordinasi dan intermediasi Task Force Cruise hadirkan Royal Carribean Cruise di Bintan

Whatsapp Image 2019 05 03 At 04.40.46
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Kabid Infrastruktur Pariwisata Bahari Kemenko Bidang Kemaritiman, Velly Asvaliantina, mewakili Asdep Infrasruktur Pelayaran, Perikanan dan Pariwisata (Ketua Satuan Tugas Kunjungan Kapal Pesiar / Task force Cruise) menghadiri Plaque and Key Ceremony Royal Carribean International di Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (02-05-2019). Acara tersebut merupakan perayaan kedatangan pertama kali kapal cruise Royal Carribean International (RCl) ke Bintan.

Gubernur Kepulauan Riau turut hadir dan menerima secara resmi melalui acara yang diselengarakan di anjungan kapal pesiar Voyager of The Seas.
“Saya berharap perjalanan yang dilakukan aman dan tidak ada keluhan dari para penumpang yang turun dan singgah di Bintan. Semoga para kru dan penumpang mempunyai kesan yang baik dari kunjungannya di Bintan” ujar Gubernur Kepri dalam sambutannya.

“Royal Carribean Cruise ini merupakan operator cruise kedua yang membuka jalur pelayaran ke Bintan. Sebelumnya sudah ada Genting Dream Cruise, yang secara rutin sejak pertengahan tahun lalu, setiap Sabtu singgah di Bintan”, papar Velly. Menurut Velly, Royal Carribean Cruise sudah menunjukan minat untuk membuka pelayaran ke Bintan sejak awal tahun 2018, namun sepertinya banyak hal-hal yang mereka perlu pastikan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berkunjung ke Bintan.

“RCI ini kan perusahaan Amerika, jadi mereka sangat ketat dan memiliki standar tertentu yang harus dipenuhi oleh mitranya di Indonesia” ujar velly. Menurut velly, task force cruise telah membantu mengkoordinasikan dan melakukan intermediasi para pihak terkait. Velly menambahkan bahwa Task Force Cruise yang dibentuk melalui SK Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur ini anggotanya terdiri dari Kemenko Bidang Kemaritiman, Kementerian Pariwisata, Ditjen Kepelabuhanan Kementerian Perhubungan, Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, serta Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan.

Berdasarkan keterangan pers dari RCI, kapal yang bernama Voyager of the Seas tersebut membawa 3.800 penumpang dan 2000 awak kapal dengan rute Singapura-Kuala Lumpur/Port Klang-Bintan. Pada keterangan pers tersebut juga disebutkan bahwa kapal pariwisata tersebut terdiri dari 15 deck/lantai. Disebutkan pula pada saat labuh di Bintan, penumpang yang terdiri atas wisatawan dari berbagai negara tersebut dapat menikmati tur eksplorasi gua trikora yang menyimpan sejarah migrasi penduduk bintan.

“Dari penumpang sendiri, sekitar tiga ribuan orang yang turun ke Bintan. Ini hal yang bagus” ucap General Manager Operation, Prakash Nair.

“Penumpang yang turun berasal dari sekitar 30 negara”, ujar Port Operation Manager, Machsun Asfari. Angie Stephen dari RCI, mengungkapkan bahwa pihak kapal sengaja menutup beberapa fasilitas hiburan dan toko-toko di atas kapal selama kapal berlabuh, agar penumpang memutuskan untuk turun dan berwisata di Bintan.

“Tanggapan warga korea sangat bagus. Mereka tertarik untuk ikut wisata kapal ini dan mengunjungi Bintan” ujar Choi Kyung Myong, salah satu tour guide dari korea selatan. Menurut Choi, range umur penumpang asal korea sangat beragam, mulai dari remaja hingga lansia. Namun, didominasi oleh orang tua dan lansia.

“Kami terbang dari Incheon ke Singapura, dari situ kami mengikuti wisata kapal cruise ini hingga sampai di Bintan” tambah Choi. Choi juga menginformasikan bahwa dalam rombongannya terdiri dari 35 orang penumpang. Menurut Choi masih ada tiga rombongan serupa yang berasal dari korea selatan yang menjadi tamu kapal cruise ini. Kepala Subdirektorat Tempat Pemeriksaan Imigrasi Kementerian Hukum dan Ham, Sri Warnati, yang juga hadir hari ini di Bintan menyampaikan,

“Dari Tugas dan Fungsi Kumhan sendiri, kami memberikan dukungan dan fasilitas keimigrasian diatas kapal. Dengan harapan, dengan adanya fasilitas yang kami berikan ini akan memberikan kemudahan bagi para penumpang. Penumpang nantinya tidak akan mengantri lagi saat turun dari kapal. Kalau tidak ada fasilitas imigration on ship kan mereka akan kesusahan”. Menurut Sri yang juga anggota Task Force, fasilitas Immigration on ship ini telah diberlakukan sejak tahun 2015. Sri juga menambahkan bahwa dari segi keamanan, paket wisata kapal pesiar seperti ini minim potensi pelanggaran imigrasi, karena keluar dan masuknya penumpang sudah terkoordinir dari pihak operator kapal.

“Wisata kapal seperti ini akan berkembang kedepannya” ucap Sri mengakhiri pandangannya terkait acara Plaque and Key Ceremony Royal Carribean International.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel