Berita DeputiSiaran Pers

Kuala Tanjung sebagai Multipurpose Port: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Maritim

Kuala Tanjung sebagai Multipurpose Port: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Maritim
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia yang disatukan oleh laut sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan (Integrated Piece of Land, Sea and Air). Sebagai negara kepulauan terbesar, maritim menjadi tumpuan untuk menunjang pembangunan nasional.

Untuk itu, sejak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla telah mencanangkan visi dan misi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dengan demikian kelautan sebagai sebuah prioritas yang harus dikembangkan.
Menurut Asisten Deputi Bidang Jasa Kemaritiman Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Okto Irianto, pembangunan poros maritim dunia harus dibarengi dengan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di sepanjang wilayah pesisir Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), pulau-pulau kecil, dan wilayah perbatasan.

“Upaya itu tidak lain ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghasilkan produk dan jasa kelautan yang  bernilai ekonomi, meningkatkan kontribusi sektor kelautan perikanan bagi perekonomian, serta menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar,” jelas Okto saat menjadi pemateri dalam acara Seminar Nasional dan Call For Papers di Medan, Sumatera Utara (Rabu, 19-09-2018).

Okto mengatakan, letak Indonesia sangat strategis, yakni berada pada jalur perdagangan internasional juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, sebanyak 50% armada kapal dunia melewati selat malaka dan sekitar 50,000 kapal ‘pedagang besar’ lewat selat ini setiap tahunnya.

“Untuk itu, pengoptimalan pelabuhan-pelabuhan yang nantinya akan menjadi konektivitas antarpulau di Indonesia bahkan dunia sangat dibutuhkan,” kata Okto.

Pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung menurut Okto, secara geografis, posisi Sumatera Utara sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka yang dekat dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Bahkan, Kuala Tanjung lebih dekat dengan Eropa, India dibandingkan Singapura maupun Tanjung Pelepas.

Untuk itu, kata dia, pemerintah membangun Pelabuhan Kuala Tanjung. Di mana pelabuhan ini akan menjadi pelabuhan terbesar di wilayah Barat Indonesia pada tahun 2023. Pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung sendiri telah dimulai sejak tahun 2015 lalu, dengan investasi sebesar Rp34 triliun. Proses pembangunannya terdiri dari empat tahap.
Pembangunan tahap I, berupa trestle sepanjang 2,75 kilometer, dermaga 1.000 Meter, dan Low Water Spring (LWS) dengan kedalaman 16 – 17 meter yang mampu disandari mother vessel. Tak hanya itu, ada pula lapangan peti kemas berkapasitas 500 ribu TEUs, dan tangki timbun. Pembangunan diharapkan selesai pertengahan 2018, namun demikian pelabuhan akan mulai beroperasi April 2018.
Pembangunan tahap kedua, berupa kawasan industri seluas 3.000 hektare, yang akan menjadikan Kuala Tanjung sebagai international hub port. Sementara tahap ketiga, Pengembangan Dedicated/Hub Port (2017-2019) dan tahap keempat pengembangan kawasan industri terintegrasi(2021-2023).
Pemerintah pun telah menetapkan tiga pelabuhan hub sebagai pelabuhan utama di Tanah Air, termasuk Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara. Sementara dua lainnya  yakni, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan Pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara. Dengan demikian, Pemerintah akan mengarahkan pengiriman barang dari berbagai daerah di kawasan Sumatra untuk alih kapal di Kuala Tanjung.
“Untuk merealisasikannya, Pemerintah akan menerbitkan regulasi yang mewajibkan pengiriman barang untuk alih kapal dan industri, melalui Kuala Tanjung,” kata Okto.

Pelabuhan Kuala Tanjung memiliki dua fungsi, yakni sebagai transhipment port (pelabuhan alih kapal) dan pelabuhan penopang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Dengan dua fungsi tersebut, Pelabuhan Kuala Tanjung akan menimbulkan efek bola salju yang besar, karena industri merupakan sektor yang saling terkait satu sama lain.

Hal ini untuk bisa bersaing dengan pelabuhan Malaysia dan Singapura. Untuk itu, Pelabuhan Kuala Tanjung harus dapat menjadi pelabuhan yang handal, yaitu memilki kapasitas terpasang, produktif, efektif dokumentasi, memiliki data dan sistem informasi, water entrance-inland transport dan institusi pendukung lainnya.

“Apabila Thailand benar-benar membuka Terusan Tanah Genting Kra pada 2025, Kuala Tanjung diharapkan sudah mampu menerima limpahan kapal peti kemas raksasa dari Pelabuhan Tanjung Pelepas, Port Klang, bahkan Pelabuhan Singapura,” tandasnya.

 

Danau Toba Sebagai Destinasi Wisata Unggulan

Okto menambahkan, Sumatera Utara juga memiliki keuntungan lain sejak pemerintah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata “Bali Baru” dan menjadi prioritas nasional. Hal ini berarti Danau Toba telah menjadi program pemerintah untuk mewujudkannya sebagai tujuan wisata dunia.

Untuk mendukung hal itu, pemerintah telah membangun akses jalan tol MKTT (Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi) menuju Danau Toba yang akan semakin melancarkan pengunjung menuju ke sana. “Tol MKTT nantinya juga akan tersambung dengan Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat sepanjang 143,25 Km,” tuturnya.

Dengan demikian, jika jetty di Pelabuhan Tanjung dan akses jalan tol selesai, maka kawasan pelabuhan ini juga menjadi pintu masuk yang strategis untuk wisatawan mancanegara. Paket wisata Danau Toba pun bisa ditunjang melalui wisata bahari dengan lintas jalan yang hanya butuh waktu 3 jam 23 menit dari pelabuhan Kuala Tanjung menuju Danau Toba.

“Demi kontribusi kami kepada bangsa dan negara Indonesia dalam bidang kepelabuhanan, khususnya Pelabuhan Kuala Tanjung, kami mempersembahkan buku berjudul “Kuala Tanjung sebagai Multipurpose Port: Untuk Mendorong Ekonomi Maritim”, papar Okto.

Menurut Okto, buku ini terdiri dari tiga topik pembahasan. Seluruhnya berisi 13 tulisan dari para penulis yang sebagian besar berasal dari akademisi, namun juga terdapat praktisi. Pada bagian pertama, tentang Geo-politik Kuala Tanjung, yang membahas tiga hubungan antara politik dan teritori Pelabuhan Kuala Tanjung dalam skala lokal atau internasional.
Pada bagian kedua, tentang Dimensi Ekonomi Kuala Tanjung, yang berisikan bagaimana Kuala Tanjung bisa menyokong keberhasilan pembangunan yang berwawasan lingkungan, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan naiknya produksi nasional, pendapatan nasional dan pendapatan perkapita secara terus menerus. Sementara bagian ketiga, membahas tentang Tata Kelola Lingkungan dan Keamanan Pelabuhan Kuala Tanjung.

“Harapan kami ketiga belas tulisan dalam buku ini bisa memberikan kontribusi kepada kemajuan dan kompetensi Pelabuhan Kuala Tanjung ke depannya. Sehingga pada akhirnya kehadiran Pelabuhan Kuala Tanjung mesti benar-benar memiliki nilai tambah bagi kalangan industri. Baik itu pelayaran, pengolahan ikan, bioteknologi, pertambangan, energi, wisata dan jasa maritim dan industri jasa penunjang lainnya,” pungkasnya.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel