Berita Deputi

Kunjungan Lapangan Ke Lokasi Terdampak Amblesan Tanah di Daerah Pesisir Jakarta

Oleh 20 Sep 2019 September 26th, 2019 Tidak ada komentar
Kunjungan Lapangan Ke Lokasi Terdampak Amblesan Tanah di Daerah Pesisir Jakarta
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Jakarta, Sebagai lanjutan dari acara Peluncuran Peta Jalan ( Road Map ) Mitigasi dan Adaptasi Amblesan (Subsidence) Tanah di Dataran Rendah Pesisir, dilaksanakan kegiatan field trip bersama para peserta International Geoscience Programme on Impact, Mechanism, Monitoring of Land Subsidence in Coastal Cities (IM2LSC) dari berbagai negara ke beberapa lokasi yang terdampak penurunan tanah. Asisten Deputi Lingkungan dan Kebencanaan Maritim, Sahat Panggabean menuturkan sebelumnya bahwa potensi kerugian ekonomi akibat subsiden tanah di kota-kota pesisir diperkirakan mencapai sekitar 28 Triliyun rupiah. Tercatat 10 kota sudah mengalami subsiden, artinya potensi kerugiannya sangat besar.

“Khusus untuk kota Jakarta, biaya perbaikan jalan dan jembatan mencapai 4 Triliyun Rupiah lebih untuk sekali perbaikan, belum termasuk biaya ekonomi lainnya,” kata Asdep Sahat.

Asdep Sahat menjelaskan bahwa amblasan tanah yg terjadi di Pantura terjadi akibat ulah manusia. Pertama, akibat pengambilan air tanah secara berlebihan dan tdk terkendali. Kedua, kerusakan ekosistem pesisiir seperti mangrove terutama yg tumbuh di lahan bergambut.

Untuk mengatasinya, kedua permasahan tersebut harus ditangani dengan benar. Pemda membuat peraturan pelarangan pengambilan air tanah. tapi juga di sisi lain pemda harus bisa memenuhi kebutuhan air menggunakan sumbernya air permukaan. Selanjutkan, perlu adanya percepatan rehabilitasi mangrove. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka laju penurunan tanah tdk akan terus terjadi dan kota-kota di pesisir akan”tenggelam”,” tambah Asdep Sahat.

Kunjungan Lapangan

Lokasi pertama yang dikunjungi yaitu di sekitar Muara Baru, Jakarta Utara. Di lokasi ini ada rumah yang ditinggalkan karena banjir pesisir permanen sebagai tolok ukur seberapa penurunan tanah yang telah terjadi. Pada tahun 2007 sampai 2011 penurunan tanah yang terjadi sampai rata-rata 26 cm per tahun di wilayah ini, padahal sebelumnya rata-rata sekitar 10 cm per tahun. Hal ini karena pada antara tahun 2007-2011 banyak dibangun pabrik-pabrik es untuk ikan. Kemudian, saat ini pabrik es tersebut telah banyak ditutup sehingga dan penurunannya kembali menjadi rata-rata 10 cm per tahun sampai dengan tahun kemarin (2018). Seperti yang telah disebutkan Asdep Sahat sebelumnya, penurunan tanah itu banyak faktor yang mempengaruhi, seperti faktor lama, faktor bangunan, dan pengambilan air tanah.

Kemudian, kunjungan dilanjutkan ke tanggul laut yang ada di Pelabuhan Muara Baru. Sebelumnya telah dibangun tanggul laut untuk melindungi daratan dari pasang air laut, tapi kemudian dibangun tanggul lagi karena tinggi permukaan air laut yang terus meningkat. Saat ini juga dalam proses pembangunan tanggul laut ketiga di daerah tersebut.

Untuk mengukur besarnya amblesan tanah yang terjadi, dibangun Titik Tetap pada Batuan Dasar dengan kedalaman 300 m pada tahun 2009. Dalam jangka waktu 10 tahun (2009-2019), penurunan tanah terjadi 6,5 cm per tahun. Namun, jika dilihat menggunakan GNSS terhitung penurunan tanah yang terjadi 10 cm per tahun. Adanya selisih 4 cm itu artinya dibawah 300 meter ini ada turun 4 cm per tahun. Hal ini karena seperti yang disebutkan sebelumnya, penurunan tanah terjadi akibat berbagai faktor.

GNSS adalah singkatan dari Global Navigation Satellite System. GNSS tersebut merupakan teknologi yang digunakan untuk menentukan posisi atau lokasi (lintang, bujut, dan ketinggian) serta waktu dalam satuan ilmiah di bumi. Satelit akan mentransmisikan sinyal radio dengan frekuensi tinggi yang berisi data waktu dan posisi yang dapat diambil oleh penerima yang memungkinkan pengguna untuk mengetahui lokasi tepat mereka dimanapun di permukaan bumi.

Dilanjutkan menuju lokasi kedua adalah Stasiun Pompa Waduk Pluit. Di lokasi ini terlihat bahwa permukaan laut lebih tinggi dari rumah warga, sehingga rawan banjir rob. Lokasi ketiga adalah Stasiun Pompa Muara Kamal. Sebelumnya lokasi ini adalah sawah. Namun, sejak tahun 1990-an setiap tahun turun 10 cm, hingga saat ini (20 tahun) sudah turun 2 meter. Kini sawahnya berubah menjadi tambak ikan dan udang. Ini menunjukkan bahwa permukaan laut lebih tinggi 2 meter dibandingkan dengan permukaan sungai.

Asdep Sahat berharap dengan adanya field trip oleh para peserta IM2LSC yang merupakan akademisi dan peneliti dari berbagai negara, dapat menjadi pembelajaran bagi penanganan amblesan tanah di Indonesia.

“Pembelajaran dan success story dari negara- negara asing yg didukung oleh data ilmiah dapat ditiru Indonesia untuk mengatasi masalah tersebut,” tutup Asdep Sahat.

Biro Perencanaan dan Informasi
Kemenko Bidang Kemaritiman

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel