Maritim - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI

Mari Jaga Maluku Utara dari Sampah

WhatsApp_Image_2017-10-24_at_14.20.36__1_

Maritim – Ternate, Deputi Bidang SDM, Iptek dan Budaya Maritim Safri Burhanuddin mewakili Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Pemanfaatan Pengembangan Sumber Daya Perikanan, Kelautan dan Wisata di Pulau-Pulau Kecil, Universitas Khairun, Ternate. Seminar Nasional ini berlangsung selama dua hari (24-25 Oktober 2017). Narasumber yang turut mengisi Seminar Nasional selain para akademisi bidang perikanan dan kelautan juga hadir Prof.Rokhmin Dahuri, Dr.Zulficar mewakili Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Tazbir, SH,Mhum mewakili Kementerian Pariwisata.

Dalam paparannya Deputi Safri Burhanuddin menjelaskan tentang perkembangan pariwisata bahari, industri garam nasional, masalah sampah, energi terbarukan hingga inovasi teknologi terkini.

Garam Rakyat

Deputi Safri menjelaskan bahwa garam rakyat yang dikelola secara kurang ekonomis, mengakibatkan harga garam konsumsi menjadi tidak kompetitif. Pedagang dan konsumen menyukai garam import yang lebih murah dan bersih. “Pedagang bilang, ‘kita import supaya garam lebih murah’. Inilah yang menjadi dasar bahwa kita harus swasembada garam”. Indonesia harus melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan garam. Jumlah produksi garam per hektar petani garam tradisional kurang lebih 30-40 ton, luas area total lahan garam Indonesia kurang lebih 270.000 hektar, total produksi kurang lebih 35 juta ton.

Terkait ekstensifikasi lahan garam, Safri menjelaskan “Kita harus tambah luasnya. Semisal di NTT, itu bisa sampai 70 ribu hektar, kalau intensifikasi dan ekstensifikasi dijalankan, harusnya tahun 2020 kita bisa swasembada garam.” Safri mengingatkan untuk mencapai swasembada garam diperlukan kesepakatan dan koordinasi yang baik dari pihak-pihak terkait, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN, PT.Garam, Kementerian ATR-BPN, serta pemerintah daerah. “Kita bisa lakukan (swasembada garam) kalau teman-teman semua sepakat, termasuk teman-teman dari KKP.” Tegasnya.

Pariwisata

Pariwisata sekarang penghasil devisa nomor dua terbesar bagi Indonesia. Sebelumnya penghasil devisa utama adalah minyak, batubara, sekarang pariwisata. “Dalam dua tahun ke depan pariwisata bisa menjadi nomor satu”. Tutur Safri.”Banyak potensi yang sudah ada bisa dikembangkan untuk pariwisata. Perikanan bisa menjadi potensi wisata, budidaya ikan dan rumput laut bisa mendatangkan wisatawan. Mungkin hal ini belum pernah terbayangkan sebelumnya, tapi potensinya ada. Infrastruktur akan dikembangkan supaya mendukung pariwisata”

Deputi Safri memaparkan Maluku Utara merupakan salah satu destinasi utama. Maluku Utara memiliki modal geografis pantai yang indah, terumbu karang yang eksotik, tapi kendalanya menuju Maluku Utara dan pulau-pulau kecil sekitarnya tidak mudah. Pelayaran rakyat perlu dikembangkan oleh pemerintah daerah. Baik dari standar pelayanan, keselamatan, keamanan dan kenyamanan. Para wisatawan dapat memanfaatkan kapal-kapal rakyat tidak hanya sebagai moda transportasi antar pulau, melainkan sebagai fasilitas wisata bahari eksotik.

Maluku Utara mempunyai Pulau Morotai dan pulau-pulau kecil lain yang secara geografisnya relatif sama dengan Raja Ampat dan Morotai.

“Maksud saya adalah Halmahera tidak kalah bila dibandingkan pulau resort negara lain. potensi Maluku Utara sangat bagus”. Masih dalam paparan terkait pariwisata bahari, Deputi Safri mendorong pemimpin daerah Gubernur dan para Bupati untuk bekerja sama. “Pak Gubernur dan Bupati tidak usah segan-segan bekerjasama. Mari undang investor lain untuk bangun daerah ini. Kalau hal ini berhasil saya tidak melihat satu kekurangan daripada Halmahera dan Maluku Utara ini, untuk menjadi satu destinasi wisata yang luar biasa”

Deputi Safri mencontohkan negara kepulauan kecil seperti Maladewa (Maldives) yang menurutnya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan potensi alami Maluku Utara, “Tak ada apa- apanya tuh Maldives, karena pulaunya terlalu banyak buatan. Maluku Utara masih alami. Penghasilan utama Maldives hanya pariwisata. Maluku Utarapun bisa menjadi daerah kaya, tidak hanya dari pariwisata tapi dengan potensi ikan, industrinperikanan dan alamnya saja”. Deputy Safri mengingatkan keunikan Maluku Utara perlu diangkat agar memiliki semacam ciri khas yang menarik wisatawan. Pantai berpasir putih dimiliki di semua negara dalam lintasan khatulistiwa. Maluku Utara memiliki Morotai yang terkenal karena sejarah perang dunia ke-2. Maluku Utara terkenal karena ada kerajaan tuanya. “Bapak Gubernur dan Bupati untuk membangun pariwisata carilah keunikannya yang berbeda dengan daerah lain, serta kelestarian harus dijaga menjadikan pembangunan yang berlanjut, berkesinambungan untuk anak-cucu kita”

Indonesia Darurat Sampah

Deputi Safri melanjutkan paparan terkait masalah sampah plastik yang sedang dihadapi Indonesia. “Indonesia darurat sampah adalah isu utama yang kita hadapi juga, ini tanggung jawab kita, teman-teman para civitas akademika, kelakuan manusia yang makin lama makin tidak terkontrol dan membuang sampah di sungai, atau buang sampah di laut, tiada yang membedakan apakah dia orang yang berpendidikan atau tidak. Tadi saya melirik ke kanan kiri, dan sepertinya tidak ada tempat di Indonesia ini yang bebas sampah dan kantong plastik yang terbuang begitu saja.”

Saat ini laut Maluku Utara masih bersih, “Mari kita jaga Maluku Utara ini dari sampah. Jangan sampai Halmahera Maluku Utara ini menjadi salah satu sarang sampah dan limbah plastik. Kita ini peringkat nomor dua penghasil sampah plastik menurut Jenna Jambek. Walaupun itu belum tentu benar tetapi itu membangunkan kesadaran kita atas kebersihan”.

Sampah plastik adalah masalah berat yang harus dihadapi dalam pembangunan. “Sampah adalah juga ekses pembangunan yang harus kita atasi, kita antisipasi”.

Terkait pariwisata, pengelolaan sampah menjadi sangat penting. 80% sampah plastik itu berasl dari darat, untuk menanggulanginya kita harus kelola sampah ini di darat. Jangan sampai hanyut ke laut.

Deputi Safri mencontohkan project Cakung Drain, Jakarta, “Kami lakukan project ini bapak/ibu sekalian, diawali dengan sampah Cakung Drain yang tebalnya 10 meter masuk ke tengah terbagi menjadi 4,5 meter panjangnya kurang lebih hampir 500 meter sepanjang Cakung Drain. Alhamdulillah dua bulan sudah bersih. Jangan sampai Maluku Utara mengalami masalah sampah seperti ini. Lebih baik menjaga dan merawat kekayaan alam yang sudah ada”.

Deputi Safri melanjutkan penanganan masalah sampah bukan pekerjaan instan. Bukan pekerjaan satu atau dua hari selesai.Perlu proses panjang, pekerjaannya butuh keikhlasan dan kesabaran. “Kalau kita bekerja hanya untuk dipotret oleh wartawan, tidak akan selesai pekerjaannya”

Pengaruh sampah plastic laut terhadap kesehatan juga dibahas oleh Deputi Safri, “Mudah-mudahan disini belum sampai terjadi”. Deputi Safri memaparkan tentang ikan yang telah memakan limbah plastik mengakibatkan ikan-ikan terkontaminasi microplastic. Selanjutnya ikan ini dikonsumsi manusia, akibatnya kita memakan plastik yang cepat atau lambat berpengaruh negative pada kesehatan . “Hasil penelitian di Makassar : jika ada 3 ikan diambil maka ada satu ikan yang mengandung microplastik. Kita harus jaga supaya hal ini tidak terjadi disini”.

Presiden Joko Widodo telah membuat komitmen pada pertemuan PBB bahwa Indonesia harus mengurangi sampah plastik sebesar 30% sebelum 2025 sesuai dengan SDGs. Indonesia sudah membuat rencana aksi nasional. Peningkatan kesadaran pengendalian sampah baik itu di darat maupun di laut. Mekanisme pendanaan dan penguatan kelembagaan. Ada beberapa program strategis nasional, beberapa kegiatan termasuk kurikulum, kampanye, waste to energy, pengurangan sampah plastik di laut, pengurangan sampah di sungai citarum.

Deputi Safri menyinggung sungai terbesar di Jawa Barat, Sungai Citarum yang telah disebut-sebut sebagai sungai terkotor di dunia. “Bapak ibu tahu sungai citarum kan?. Nah, sekarang Sungai Citarum dapat gelar sungai terkotor di dunia. Jadi Indonesia punya dua gelar, Penghasil sampah plastik kedua di dunia dan memiliki sungai terkotor di dunia.”

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman adalah Koordinator Gerakan Indonesia Bersih, maka dari itu Kemenko Maritim sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. “Tidak ada yang diselesaikan tanpa kerja sama, koordinasi serta kerja yang terintegrasi”.

Inovasi Teknologi

Perguruan Tinggi sebagai agen perubahan harus ini harus melihat masa depan.Tren teknologi terkini, kecerdasan buatan, hingga mobil listrik. Di masa yang akan datang moda transportasi tidak lagi tergantung pada fossil fuel. Kita akan memakai baterai, listrik, seperti itu.Indonesia memiliki thorium suatu mineral yang dapat dimanfaatkan untuk produksi baterai mobil listrik. Demikian pula dengan energi terbarukan, seperti pembangkit listri tenaga arus. “Saya survey tahun dari 1990-1994 di Laut Banda, itu arus yang terkuat. Itu sumber energi utama yang Tuhan berikan. Di Sidrap Sulawesi Selatan sedang dibangun Pembangkit Listrik tenaga angin. Listrik, angin, Tuhan berikan semua. Nah, kita harus manfaatkan energi itu. Agar masyarakat di pulau- pulau kecil itu bisa hidup tanpa tergantung diesel dan solar. Dengan adanya listrik, semuanya bisa dilakukan, semua bisa dikembangkan dari pariwasata, pendidikan termasuk industri perikanannya.” ***

POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Foto Siaran Pers Artikel Berita Deputi
Sort by

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Mari Jaga Maluku Utara dari Sampah