ArtikelBerita Deputi

Menerangi Pelosok Negeri dengan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi

Menerangi Pelosok Negeri dengan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Putussibau – Maritim, Indonesia memiliki +- 220 juta penduduk tersebar di +- 17.000 pulau. Dengan jumlah penduduk yang banyak dan pulau-pulau yang tersebar. Pemerintah memiliki pekerjaan untuk menerangi Indonesia. Terutama daerah-daerah pelosok yang belum mendapat pasokan listrik. Rasio elektrifikasi Indonesia pada tahun 2017 masih berada di 92%. Sementara sejalan dengan program Nawacita Presiden Joko Widodo yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa, menerangi Indonesia menjadi program yang harus dituntaskan.

Presiden Joko Widodo pada tanggal 12 April 2017 menetapkan Peraturan Presiden RI Nomor 47 Tahun 2017 tentang Penyediaan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) Bagi Masyarakat Yang Belum Mendapatkan Akses Listrik. Perpres ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum mendapat pasokan listrik di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, daerah terisolir, dan pulau-pulau terluar melalui percepatan Penyediaan LTSHE yang dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat untuk dibagikan kepada yang berhak secara gratis. Pada Tahun 2018, program LTSHE akan menerangi 1.230 desa (175.782 KK) di 17 Provinsi 62 Kabupaten. Program pembagian LTSHE oleh Kementerian ESDM ini telah dimulai sejak tahun 2017 melalui pembiayaan APBN.

Mengingat program menerangi Indonesia adalah bagian dari program nawacita, maka ternyata masyarakat yang telah menerima LTSHE kerap menyebutnya lampu nawacita. Hal ini terungkap saat tim Kemenko Kemaritiman bersama Kementerian ESDM, BPPT melakukan monitoring dan evaluasi ke Desa Benua Tengah, Putussibau, Kalimantan Barat (8 November 2018). Putussibau adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Putussibau, yang sekaligus sebagai ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, dapat ditempuh lewat transportasi Sungai Kapuas sejauh 846 km atau lewat jalan darat sejauh 814 km dari Pontianak atau melalui transportasi udara selama 1 jam dari Bandara Supadio, Pontianak. Putussibau berbatasan dengan Sarawak (Malaysia Timur). Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Nanga Badau di Kapuas Hulu telah dibangun ulang dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada tanggal 16 Maret 2017.

index2Rombongan yang dipimpin Asisten Deputi bidang Sumber Daya Mineral Energi dan Nonkonvensional Kemenko Kemaritiman Amalyos Chan disambut Kepala Desa Benua Tengah Alexander Layoh, Kepala Desa Lauk Bustami, perwakilan warga dan kepala adat. Pertemuan berlangsung di Rumah Betang Kansure Tendek, yang juga menjadi balai warga desa Benua Tengah.

“Kami bersyukur dan sangat berterimakasih, selama 73 tahun Indonesia merdeka, baru kali ini ada perwakilan pemerintah pusat yang mengunjungi kami” kata Alexander, “Kami berterimakasih atas pembagian lampu nawacita ini, mohon maklum, kami biasa menyebutnya lampu nawacita, yang pakai tenaga matahari membantu penerangan rumah warga. Dulu kami menggunakan penerangan dibantu minyak tanah atau dengan damar pak, sekarang sudah terang dengan lampu nawacita. Kami sangat terbantu pak. Anak-anak bisa belajar, ibu-ibu tenun dan membuat kerajinan memerlukan penerangan yang baik”. Alexander menambahkan, “Dulu kami memakai genset yang kadang hidup kadang tidak. Beginilah sulitnya tinggal di desa, karena memang listrik tidak ada. Genset kami menggunakan solar dan bisa menyala sampai jam 9 malam, setelah itu gelap”.

index4LTSHE yang dibagikan dengan mode penerangan maksimal, dapat menyala selama 5 jam. Untuk mode sedang bisa bertahan selama 11 jam. Sedangkan untuk mode redup dapat menyala hingga 47 jam nonstop. Tiap penerima menerima 1 paket yang terdiri dari panel surya, 4 lampu dan 2 remote control. LTSHE dinyalakan dengan menggunakan remote control. Setiap paket juga dilengkapi dengan barcode, jadi setelah terdata, terverifikasi dan sudah dibagi sesuai dengan daerahnya, tidak dapat ditukar atau dialihkan. Untuk Provinsi Kalimantan Barat terdapat 3 (tiga) kabupaten yang memperoleh bantuan dari program LTSHE untuk 10.918 KK tersebar di 15 desa yaitu Kabupaten Kapuas Hulu (7 desa, 940 KK), Kabupaten Landak (2 desa, 529 KK) dan Kabupaten Sintang (6 desa, 989 KK).

Bustami, Kepala Desa Lauk menambahkan, mereka tetap berharap untuk dapat menerima pasokan listrik agar warga dapat merasakan kemajuan yang umumnya sudah tersedia di kawasan yang sudah menikmati listrik.

Asisten Deputi bidang Sumber Daya Mineral Energi dan Nonkonvensional Kemenko Kemaritiman Amalyos menjelaskan bahwa tujuan kunjungan Kelompok Kerja yang mewakili beberapa kementerian dan lembaga ini adalah untuk melihat secara real,”Kita melihat fakta bahwa banyak desa-desa yang belum dialiri listrik, dari data BPS 2014 saja masih ada 2500 lebih desa yang belum terlistriki.” tuturnya,
“Catatan kami untuk tahun 2019, teman-teman dari Kementerian ESDM sudah membuat perencanaan. Teman-teman dari Kementerian ESDM membutuhkan data konkritnya, yang diharapkan dapat mempercepat program ini. Kami datang kesini untuk mendapatkan masukan dari bapak-bapak sekalian”.

Amalyos menjelaskan bahwa prinsipnya semua desa harus terlistriki, sekarang diawali dengan LTSHE, lalu secara bertahap program listrik akan terus dikembangkan baik melalui melalui program listrik desa, listrik mikrohidro, listrik piko, atau bisa juga melalui jaringan PLN.***

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel