FotoBerita DeputiDeputi 4

Mengatasi Fenomena Sampah Laut Kiriman ke Bali, Kemenko Marves Upayakan Mitigasi dan Penanganan Secara Terintegrasi dan Lintas Wilayah

Dibaca: 233 Oleh Minggu, 27 Maret 2022Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2022 03 27 at 3.49.56 PM
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Marves – Bali, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyelenggarakan Lokakarya Penanganan Sampah Laut di Provinsi Bali pada hari Jumat (25 – 03 – 2022). Lokakarya diselenggarakan secara hybrid dan dibuka oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Nani Hendiarti. Dalam sambutan pembukaannya, Deputi Nani menyampaikan bahwa pencemaran plastik di laut merupakan masalah yang kompleks dan tidak mengenal batas wilayah atau negara. Bahkan masalahnya sebenarnya dimulai bukan di lautan, tetapi lebih jauh ke hulu, seperti bagaimana industri memproduksi dan mendistribusikan produk plastik, penggunaan plastik pada pembungkus kemasannya, dan bagaimana konsumen atau masyarakat menangani sampah plastik yang dihasilkannya. Ini adalah rantai panjang dari daur nilai plastik.

“Kami memilih Bali sebagai lokasi penyelenggaraan lokakarya ini untuk mengangkat isu penanganan sampah laut mengingat telah berulang kali terjadi fenomena sampah kiriman ke pantai-pantai di bagian selatan Pulau Bali, utamanya di musim barat pada bulan Desember – Februari. Ditambah lagi sampah berasal dari sungai-sungai dari daratan yang terbawa sampai ke pesisir dan area mangrove yang terjadi hampir setiap saat,” demikian ditambahkan Deputi Nani. “Kita harus cari solusi bersama untuk dapat memitigasi fenomena tersebut dan mencari solusi efektif penananganannya agar kerusakan atau dampak yang dirasakan di sepanjang pantai dan kawasan-kawasan wisata premium di Bali ini tidak selalu berulang.”

Baca juga:  Tindak Lanjuti Arahan Menko Luhut, Kemenko Marves Gelar FGD Terkait Pelabuhan Adikarto dan Bandara YIA

Mengakhiri sambutannya, Deputi Nani menegaskan bahwa tahun ini Bali akan menjadi tuan rumah perhelatan besar, salah satunya adalah pertemuan tingkat tinggi G20 pada Bulan November. Untuk itu kita harus memastikan kepada dunia internasional bahwa Bali mampu mengatasi berbagai persoalan lingkungan, termasuk persampahan, sehingga bisa memberikan kesan yang baik, bersih dan nyaman.

“Kami telah mengkoordinasikan berbagai K/L untuk mendukung perbaikan pengelolaan persampahan di Kawasan Sarbagita untuk memastikan seluruh timbulan sampah dapat tertangani secara terintegrasi melalui pembangunan TPS3R dan TPST sehingga mengurangi ketergantungan kepada TPA Suwung,” tutupnya.

Lokakarya dihadiri oleh para pakar yang memaparkan hasil pemodelan pergerakan sampah laut di sekitar periaran Bali, perwakilan dari kementerian/Lembaga, sektor swasta, pemerintah daerah di Bali dan di sekitar Pulau Bali, serta para relawan dan aktivis persampahan. Di akhir lokakarya diampaikan komitmen bersama untuk melakukan perbaikan sistem pengelolaan sampah di darat untuk mengurangi kebocoran sampah ke lingkungan perairan, sungai dan laut. Sektor swasta dan LSM telah menyampaikan komitmen mereka untuk memperkuat dukungan dan kolaborasi dengan kelompok-kelompok masyarakat untuk dapat mengelola timbulan sampah di masyarakat.

Baca juga:  Menko Luhut Menerima audiensi Koordinator Senior Papua Citizen Forum di Kantor Maritim

Sehari sebelumnya, pada hari Kamis (24 – 03 – 2022), telah dilaksanakan pula kunjungan lapang dan aksi bersih sampah di kawasan mangrove di Tahura Ngurah Rai. Aksi bersih yang dikoordinasikan Kemenko Marves dan Sekretariat TKN PSL melibatkan para relawan dan kelompok nelayan setempat tersebut telah berhasil mengumpulkan lebih dari 1 ton sampah plastik serta melakukan penanaman mangrove.

Ditengah aksi bersih sampah di kawasan mangrove tersebut, Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah, Rofi Alhanif, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan kelompok nelayan setempat yang memiliki komitmen kuat untuk melakukan aksi bersih.

“Aksi seperti ini sangat penting dilakukan sebagai upaya untuk membersihkan ekosistem mangrove dari pencemaran sampah plastik sekaligus sebagai media kampanye untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa sampah yang tidak terkelola dengan baik di darat pada akhirna akan sampai ke laut dan menimbulkan berbagai dampak negatif,”ungkap Asdep Rofi.

Menutup rangkaian dua hari kegiatan tersebut, Asdep Rofi menyampaikan bahwa menangani isu sampah laut di Bali tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. “Upaya mitigasi atau pencegahan harus terus ditanamkan kepada masyaraka. Untuk mengantisipasi adanya sampah-sampah kiriman kita akan coba lakukan mitigasi penanganan di hulunya, misalnya sampah sebagian berasal Pulau Jawa, nanti kita akan lihat lagi asalnya darimana, kita akan lakukan pencegahan di sungai-sungai itu, salah satunya dengan memasang jaring sampah,” jelasnya.

Baca juga:  Menko Luhut Membuka & Menjadi Keynote Speaker di Kongres Teknologi Nasional

Tidak saja itu, penanganan sampah di sungai-sungai dan Kawasan mangrove di Bali juga harus diperhatikan lebih serius. Penanganannya harus kompak mulai dari hulunya, disepanjang sungai hingga pesisir lautan agar kebocoran sampah dapat berkurang.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

No.SP-109/HUM/ROKOM/SET.MARVES/III/2022

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel