Berita

Menko Luhut Bahas Kemajuan Indonesia Hadapi Covid-19 di Health Business Gathering 2021

Dibaca: 79 Oleh Jumat, 3 Desember 2021Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2021 12 03 at 5.56.21 PM 1
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS

No.SP-785/HUM/ROKOM/SET.MARVES/XII/2021

Marves – Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan mengungkapkan bahwa jumlah kasus di Indonesia turun secara signifikan. Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara kunci dalam acara Health Business Gathering 2021.

“Sejak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada Juli, jumlah kasus Covid di Indonesia mulai turun secara signifikan. Presiden memberikan saya intruksi untuk melaksanakan beberapa program untuk ini,” kata Menko Luhut dalam pembukaannya di Denpasar, Bali, Jumat (03-12-2021).

Untuk update terbaru, diketahui kasus terkonfirmasi di Indonesia per- 1 Desember 2021 yakni 278 kasus (terjadi penurunan 99,51 persen dari puncak kasus terkonfirmasi pada 15 Juli 2021). Sementara itu, jumlah kasus terkonfirmasi positif di Jawa dan Bali  per tanggal  1 Desember 2021 adalah 196 kasus (terjadi penurunan 99,55 persen dari puncak kasus yang dikonfirmasi pada 15 Juli 2021). Pada periode yang sama,  jumlah kasus aktif secara nasional adalah  7.883 kasus (terjadi penurunan 98,63 persen dari puncak kasus aktif pada 24 Juli 2021).

“Kita mampu menangani pandemi ini dengan baik, Negara kita adalah Negara yang baik, Saya berjanji kalau kalian investasi di sini, kita akan menjaganya,” ujarnya.

Baca juga:  Kemenko Maritim Pererat Hubungan dengan Jepang Melalui Seminar Space Utilization

Dalam penanganan pandemi ini, Menko Luhut memaparkan bahwa defisit perdagangan alat kesehatan Indonesia terus meningkat dengan defisit perdagangan yang naik hampir 4 kali lipat dari USD 161 juta pada tahun 2013 menjadi USD 531 juta pada tahun 2020. Meningkatnya defisit perdagangan disebabkan impor alat kesehatan yang terus meningkat sejak tahun 2015. Selama dua tahun terakhir impor tumbuh dua digit (>10% yov) dan mencapai USD 703 juta pada tahun 2020. Sementara itu, pertumbuhan ekspor terbatas.  Pertumbuhan ekspor sekitar 3-5% yov dalam 3 tahun terakhir dan hanya mencapai USD 171 juta pada tahun 2020.

“Indonesia mengandalkan produk impor sebagian besar untuk alat kesehatan kompleks, sedangkan produk ekspor sangat terbatas. Kita punya segalanya di negara ini. Tapi, hampir seluruh impor alat kesehatan Indonesia terus meningkat, dengan urutan dari tertinggi adalah Electrodiagnosis Devices (USD 87 juta), Ultrasonic Scanning Devices (USD 70 juta), dan Needles, catheters, cannula & more (USD 43 juta),” jelasnya.

Dalam hal ini, diketahui tren kesehatan Global akan memacu pertumbuhan industri perawatan kesehatan. Pasalnya, ada perubahan permintaan konsumen, pertumbuhan kelas menengah, penemuan terapi baru, konsentrasi penyakit & peningkatan pandemi, fokus pada pengendalian biaya, inovasi digital & telemedis.

Baca juga:  Listrik, Cahaya Harapan Petambak Udang Bratasena

“Industri kesehatan di Indonesia memiliki potensi besar yakni naiknya pendapatan rumah tangga kelas menengah, dan kampanye perawatan kesehatan universal,” ujarnya.

Tak ingin terus tergantung dari produk impor, Menko Luhut mengatakan bahwa pemerintah membuka peluang untuk investasi di bidang kesehatan. “Belajar dari pengalaman penanganan Pandemi Covid-19, Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada impor sehingga Industri kesehatan adalah salah satu area prioritas untuk Investasi,” beber Menko Luhut. Dengan dukungan untuk pengembangan industri kesehatan, dia yakin bahwa ragam ekspor akan meningkat dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah,” tutur Menko Luhut.

Lebih jauh, diapun mencontohkan pengembangan industri hilir yang awalnya berasal dari ekspor bahan mentah yakni pngembangan baterai lithium (menggunakan mineral seperti nikel dan kobalt, dua komponen utama baterai EV).

“Ini sangat penting, kita sangat peduli mengenai ini. Karena kalau kita salah langkah, kita akan merusak generasi selanjutnya, dan saya tidak mau membuat kesalahan mengenai ini,” sambungnya. Menko Luhutpun lantas berpesan kepada calon investor agar tidak takut untuk menanamkan investasi di Indonesia.

“Kita harus bangga jadi orang Indonesia, kita bukan negara second class, kita great country yang bisa menyelesaikan masalahnyasendiri. Jangan pernah mau dilecehkan orang lain,” pungkasnya kepada hadirin.

Baca juga:  Menko Luhut : Manajemen Sampah yang Baik Berkaitan dengan Kualitas SDM

Penandatanganan Tiga LOI

Selain pemaparan Menko Luhut, pada acara ini juga dilaksanakan penandatanganan tiga LOI (Letter of Intent) antara Deputi Koordinasi Bidang Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto dengan tiga Perusahaan Alat Kesehatan yaitu:
PT. Tawada Healthcare  mengenai kerja sama di bidang pengadaan dan pemanfaatan lahan untuk sarana produksi alat kesehatan dalam negeri; PT. Siemens Healthineers tentang kerja sama di bidang pendidikan dan alih teknologi alat Kesehatan; serta PT Binabakti Niagaperkasa tentang kerja sama di bidang alih teknologi alat kesehatan.

Kerja sama ini akan bernilai sekitar Rp 110 Miliar. Penandatanganan LOI ini adalah  tindak lanjut dari kegiatan klarifikasi dan konfirmasi investasi alat kesehatan di Indonesia pada tanggal 22-23 November 2021 dalam rangka mewujudkan kemandirian alat kesehatan di Indonesia.

Ketiga perusahaan diatas merupakan perusahaan yang telah nyata menjalankan produksi  alat kesehatan di Indonesia. Selain perusahaan-perusahaan tersebut, diharapkan masih ada sekitar 30-an perusahaan lagi yang segera menyusul untuk berinvestasi dan melaksanakan produksi alat kesehatannya di Indonesia.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel