BeritaFotoSiaran Pers

Menko Luhut: Data Membantu Kita Mendapat Informasi yang Akurat

Auto Draft
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Marves – Menko Maritim dan Investasi Luhut B Pandjaitan mengapresiasi kerja sama antara Kementan, KemenATR/ BPN dan pihak terkait atas dirilisnya Data Lahan Luas Lahan Baku Sawah.

“Saya bangga dengan Mentan karena sekarang semua mainnya data. Kita lihat launching luas lahan baku sawah dari kementerian pertanian yang dibuat oleh Pak Syahrul Limpo (Mentan) dan juga ada Pak Sofyan (MenATR/BPN) dan impresif sekali karena adanya penambahan sekitar 300an hektar lahan. Dengan begitu ke depan nanti data kita itu sudah bisa menggiring kita ke informasi yang akurat,” ujar Menko Luhut saat menghadiri Perilisan Data Luas Lahan Baku Sawah 2019 KSA Padi 2019 dan Soft launching AWR (Dari Kementan) di Ruang Agriculture War Room (AWR), Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Selasa (04-02-2020).

Adapun penambahan luas lahan baku sawah tersebut, Mentan Syahrul Yasin Limpo tercatat yang semula 7.105.145 hektar pada tahun 2018 menjadi 7.463.958 hektar pada tahun 2019.

“Penambahan tersebut diketahui setelah dilakukannya verifikasi ulang ke beberapa provinsi di Indonesia. Hal ini dilakukan dalam upaya merealisasikan program 100 hari kerja, yakni menyinergikan data pertanian, terutama luas baku sawah,” kata Mentan Syahrul Yasin Limpo.

Baca juga:  Susun Acuan Strategi Pembangunan Kemaritiman, Pemerintah Segera Rampungkan Perhitungan PDB Maritim

Sementara MenATR/BPN Sofyan Djalil menjelaskan bahwa penambahan lahan tersebut berawal dari adanya beberapa daerah yang komplain karena banyak data yang belum tercover secara akurat.

“Jadi beberapa daerah komplain karena banyak data yang belum tercover secara akurat, lalu kita lakukan verifikasi ulang. Maka setelah melihat komplain itu kita akomodasi sehingga bertambah 300an hektar,” kata MenATR/ BPN Sofyan Djalil

Wilayah-wilayah yang mengalami penambahan lahan itu sendiri, lanjut MenATR/ BPN yakni di Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, Yogyakarta, dan Bangka Belitung.

“Karena lahan sawah yang belum terorganisasi sebelumnya atau terpetakan sebelumnya jauh lebih besar dibanding sawah yang alih fungsi,” ujarnya.

Sedangkan daerah-daerah yang menjadi perubahan luas lahan sawah yang signifikan adalah Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Jambi, Sumatera Barat, dan Riau.

Menko Luhut mengatakan dirinya meyakini keakuratan data ini dan berharap nantinya dapat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, sehingga apa yang disampaikan lebih maksimal.

“Saya sangat menikmati, tentu teknologi akan berkembang ke depan, sekarang baru 4G nanti 5G dan seterusnya, akan buat tentu lebih cepat lagi, ini suatu langkah yang menurut saya luar biasa. Marilah kita bangun teamwork, untuk kepentingan rakyat kita, kalau ada yang perlu dibantu ayuk kita bantu,” tambah Menko Luhut.

Baca juga:  Menko Maritim: Proyek kereta Jakarta Surabaya diharapkan tidak membebani APBN

Investor Australia

Selain itu Menko Luhut mengungkapkan bahwa Investor asal Australia akan melakukan investasi dalam bidang cattle/ ternak di Indonesia.

“Jadi Andrew Forrest (Investor Asal Australia) ingin masuk dalam bidang cattle (ternak), karena dia adalah pengusaha cattle terbesar di Australia,” kata Menko Luhut.

Untuk investasi tersebut, Menko Luhut menyampaikan, akan bernilai sampai sekitar 1 Juta ekor pertahun. “Dan ini memang sesuai arahan Presiden yang disampaikan ke Mentan,” jelasnya.

Biro Perencanaan dan Informasi

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel