Berita

Menko Luhut Minta Program Peningkatan Ekspor Udang Vaname Dikebut

Dibaca: 410 Oleh Selasa, 7 April 2020Tidak ada komentar
Menko Luhut : Pencabutan Status Negara Berkembang Dari USTR, Tidak Berpengaruh Terhadap GSP Bagi Indonesia
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Marves-Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan menyatakan, Pemerintah menargetkan ekspor udang vaname dapat mengalami peningkatan sebesar 250 persen hingga tahun 2024.

“Walaupun kita sedang Work From Home (WFH), namun jangan dijadikan alasan, koordinasi harus tetap kuat. Presiden sudah memerintahkan hal tersebut, dan respon masyarakat juga sangat ingin itu terwujud. Apalagi permintaan pasar dunia akan udang vaname ini sangat tinggi, sekitar Rp 90 triliun akan kita targetkan untuk tahun 2024,” ujar Menko Luhut saat melaksanakan video conference Rakor Mengenai Percepatan Peningkatan Produktivitas Budidaya Udang Vaname, di Jakarta pada Selasa (07-04-2020).

Budidaya udang vaname ini, menurut Menko Luhut dapat dijadikan sebagai proyek strategis nasional, yang dampaknya dapat membuka lapangan kerja lebih luas lagi bagi masyarakat. Kemudian, Menko Luhut juga mengarahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, agar berfokus dalam hal budidaya, kalender pendanaan, dan diadakan pelatihan-pelatihan di setiap daerah potensial.

“Saran saya sebelum bulan suci Ramadhan, sudah ada laporan mengenai berapa kebutuhan di setiap daerah. UKM-UKM juga disinergikan, Perbankan pun perlu kita dorong agar masuk di proyek ini. Salah satu kuncinya ada di pelatihan, jadi masyarakat bisa lebih profesional dan mempunyai manajemen yang baik dalam mengelola tambak,” tambahnya.

Baca juga:  Menko Luhut : Indonesia Siap Pererat Kerja Sama dengan dibentuknya Satuan Tugas Infrastuktur Indonesia ke Afrika

Lebih lanjut, Menteri KP Edhy Prabowo menyatakan siap menindaklanjuti arahan dari Presiden, ia juga menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah untuk mencapai target tersebut.

“Nilai produksi pada tahun 2019 sebesar Rp 36,22 triliun dan menjadi besar pada tahun 2024, senilai Rp 90.30 triliun. Produksi dari 517.397 ton pada tahun 2019, menjadi sebesar 1.290.000 ton pada 2020. Target kawasan, dibutuhkan sekitar 86 ribu hektar lahan tambahan hingga tahun 2024,” jelasnya.

Ia pun menilai, kepastian usaha dari budidaya udang vaname relatif sukses, asalkan masyarakat petambak juga dapat memperhatikan limbah yang dihasilkan dari tambak.

“Pengelolaan limbah tambak yang kurang bagus akan memberikan dampak terhadap hasil produksi udang serta daya dukung lingkungan, oleh karena itu perlu dibangun Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Berdasarkan hasil  uji banyak petambak seperti lokasi tambak di Cidaun telah berhasil melakukan 2,5 kali panen ,” ujarnya.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves, Safri Burhanuddin juga menambahkan, sesuai arahan Menko Luhut, maka pihaknya akan membantu mengoordinasikan kementerian/lembaga (k/l), untuk merevitalisasi lahan-lahan tambak eksisting atau yang sudah ada sebelumnya.

Menteri PU PR juga menyampaikan Kementerian PU PR mendukung untuk revitalisasi tambak garam dan tambak ikan/udang adalah dengan pembangunan dan rehabilitasi jaringan tata air tambak (pembangunan saluran dan bangunan pengambilan/pembawa/pencampuran air laut & air tawar, serta jalan inspeksi). Target di tahun 2020-2024 berupa Pembangunan jaringan tata air tambak: 48,2 ribu ha (Rp. 2,3 T) Rehabilitasi jaringan tata air tambak: 82,9 ribu ha (Rp. 1,9 T).

Baca juga:  Perayaan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, Menko Luhut : Kita Boleh Beda Pendapat Tetapi Kita Satu di Negeri Ini

“UMKM agar dapat terlibat langsung, dan untuk dukungan infrastruktur, akses jalan, saluran air, listrik, bandara, dan pelabuhan dari k/l pun sudah dialokasikan, sehingga sudah teragendakan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan mengenai kapasitas tambak udang di Indonesia, disertai dengan beberapa permasalahan terkait budidaya udang yang mencakup 4 isu utama.

“Tambak udang intensif eksisting pada tahun 2018 dengan luas lahan 5.146 hektar dengan produktivitas 13,64 ton/ha/siklus, produksi 171.393 ton, proyeksi produksi tahunan di 2024 mencapai 262.253 ton. Nah ini target kita untuk memperkuat yang sudah eksisting. Permasalahan budidaya udang ada empat isu, yaitu penguasaan teknologi dan SDM, produksi dan operasional, regulasi dan perizinan, serta investasi dan pemasaran. Dan sesuai arahan Pak Menko Marves, kami segera melakukan pemantauan langsung terkait dengan program ini bersama dengan Kementerian/Lembaga terkait, dengan tetap memperhatikan aturan physical distancing di lapangan,” jelas Deputi Safri.

Nantinya, penetapan lokasi utama budidaya ada di lima wilayah potensial, terkait lokusnya akan ditentukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Baca juga:  Menko Luhut Meninjau Lokasi Bencana di Banten

Lebih lanjut, untuk mempercepat program peningkatan budidaya udang Vaname sebesar 250%, maka Kemenko Marves telah memfinalkan SK POKJA Peningkatan Produksi Industri Udang Nasional Tahun 2020 – 2024 yang terdiri dari Pokja Perencanaan Pembangunan dan Monitoring Evaluasi, Pokja Pembangunan Kawasan tambak, Pokja Input Produksi, Pokja  Teknis Operasional, Pokja Investasi dan Pemasaran, dan  Pokja Pelatihan Riset dan Penyuluh. Pokja ini akan bekerja sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dan akan dikoordinasikan melalui Kemenko Marves.
“Sesuai arahan Pak Menko, agar regulasinya sebanyak 21 jenis dokumen harus disederhanakan. Demi menjamin kepastian berusaha, dan ini akan dikoordinasikan oleh KSP” kata Deputi Safri.

Video conference Rakor Mengenai Percepatan Peningkatan Produktivitas Budidaya Udang Vaname ini turut dihadiri oleh Menteri PU-PR Basuki Hadimuljono, Menteri ESDM Arifin Taslim, Menteri LHK Siti Nurbaya, Mendagri Tito Karnavian, Menteri ATR-BPN Sofyan Djalil, Menteri PPN-Bappenas Suharso Monoarfa, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dan perwakilan k/l lainnya.

Biro Komunikasi

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel