Maritim - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI

Menko Luhut: Model Pendanaan Blended Finance Bisa Diterapkan Dalam Pembangunan Jangka Panjang

tes

Maritim – Davos, Swiss – Menko Maritim,Luhut B. Pandjaitan mengatakan skema pendanaan campuran (blended finance) bisa diterapkan di berbagai bidang pembangunan jangka panjang.

“Pemerintah Indonesia saat ini sedang membidik dana non-pemerintah untuk membiayai berbagai proyek pembangunan terutama proyek jangka panjang, salah satunya skema blended finance ini,” ujarnya pada acara Round Table Discussion yang berlangsung pada hari Senin (22/1) waktu setempat. Ia mencontohkan model ini bisa untuk membiayai beberapa proyek yang sudah ada seperti kereta api ringan (Light Rail Transit/LRT) yang saat ini juga sedang dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia. Blended finance adalah pembiayaan yang berasal dari dana kedermawanan yang dihimpun masyarakat yang dijadikan sebagai modal swasta untuk investasi jangka panjang.

Diskusi yang membahas upaya Indonesia dalam mengimplementasikan target Sustainable Development Goals (SDG)nya, diikuti oleh lebih dari 20 orang dari kalangan kepala pemerintahan, pengusaha, eksekutif perusahaan multinasional dan pegiat filantropi dari mancanegara. Pada acara yang antara lain dihadiri juga oleh PM Luxembourg, Xaxier Bettel, Rektor Tsinghua University Qiu Yong, Ketua New Climate Economy Steering Group Jeremy Oppenheim serta beberapa tokoh filantropis Eropa, Menko Luhut menjelaskan tentang situasi terkini di Indonesia terutama di bidang ekonomi, seperti Bank Dunia mengeluarkan penilaiannya bahwa Indonesia merupakan tempat yang tepat untuk berinvestasi, sebelumnya S&P juga meningkatkan ‘rating’ Indonesia.

“Khusus untuk Bali, kami akan menjadi tuan rumah pertemuan IMF-World Bank di Bali pada bulan Oktober dan kami mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam membangun Bali menjelang pertemuan tersebut. Tetapi, kami memiliki tiga kriteria yang harus dipenuhi investor, kesatu ramah lingkungan, kedua menggunakan tenaga kerja Indonesia, lalu ketiga ada transfer teknologi,” tegasnya.

Sustainable Development Goals (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah target pembangunan yang dirancang dan dilakukan oleh negara-negara anggota PBB, termasuk Indonesia. Sustainable Development Goals berisikan satu set tujuan yang berisi 17 tujuan pembangunan dan 169 target, dicanangkan tahun 2016 lalu, dan berakhir tahun pada tahun 2030.

Pada bulan Juli tahun lalu diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Perpres SDG’s). Perpres ini menekankan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, melalui empat platform partisipasi yaitu, Pemerintah, DPR, Filantropi, Pebisnis, Akademisi dan Para Ahli dalam rangka mensukseskan pelaksanaan agenda SDG’s. SDG’s bertujuan mendorong pembangunan berkelanjutan untuk mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata.

Jeremy Oppenheim ‘menantang’ seluruh peserta untuk memikirkan apa kira-kira yang bisa mereka lakukan untuk Indonesian dalam mengimplemantasikan SDG’s nya.

“Kepada seluruh peserta diskusi ini, saya minta Anda untuk menyampaikan kepada Menteri Luhut, apa yang bisa Anda lakukan untuk pertemuan IMF-World Bank ini pada khususnya dan untuk yang lebih luas lagi, misalnya memakmurkan masyarakat Bali. Saya melihat banyak potensi yang bisa digali,” katanya. Peserta diskusi sangat antusias menyambut tantangan tersebut. Temasek Singapura menawarkan pembangunan di bidang teknologi bagi para siswa dan siswa sekolah kejuruan, Beberapa filantropis dari berbagai negara Eropa tertarik ikut membangun Bali di bidang kemasyarakatan.

Perdana Menteri Bettel menyambut baik inisiatif Menko Luhut ini dan menurutnya pembiayaan blended finance ini cocok untuk pembiayaan program-program berwawasan lingkungan seperti sumber energi alternatif. Menko Luhut menyampaikan, walau bukan dengan skema blended finance, Indonesia telah mendapat suntikan dana sebesar 3 milyar US dolar dari negara-negara Uni Eropa untuk proyek pengelolaan sampah.

Di akhir diskusi Menko Luhut berterima kasih kepada para peserta dan mengatakan ia senang akan antusiasme peserta untuk berpartisipasi membantu Indonesia mengimplementasikan tujuan dan target SDG’s.

Klarifikasi 

Menanggapi isu yang beredar baru-baru ini yang mengatakan Menko Luhut berencana mendeklarasikan pencalonan dirinya untuk Pilpres mendatang, ia mengatakan berita itu hoax.

“Saya tidak tahu mengenai hal itu. Saya tidak pernah berpikir kesana dan tidak punya waktu memikirkan hal seperti itu. Waktu saya habis untuk menyelesaikan pekerjaan saya mana sempat ‘mikirin’ hal-hal begitu,” ujar Menko Luhut.

Menko Luhut berada di Davos, Swiss. Untuk menghadiri pertemuan tahunan World Economics Forum (WEF) yang berlangsung tanggal 23-26 Januari 2018.

POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Siaran Pers Berita Deputi Foto Artikel
Sort by

Kirim Komentar/Pertanyaan

Menko Luhut: Model Pendanaan Blended Finance Bisa Diterapkan Dalam Pembangunan Jangka Panjang