Berita DeputiDeputi 6

Pemerintah Ajak Semua Pemangku Kepentingan Bersinergi untuk Bangkitkan Perekonomian Pasca Pandemi Terutama Sektor Jasa

Dibaca: 32 Oleh Senin, 29 November 2021Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2021 11 29 at 8.56.51 PM
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS
No.SP-775/HUM/ROKOM/SET.MARVES/XI/2021

Marves – Jakarta, Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama dua tahun di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini memberikan dampak luas di seluruh sektor. Pemerintah terus melakukan upaya untuk menangani dampak yang ditimbulkan, salah satunya penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada Juli 2021 lalu. Pada acara Indonesia Services Week 2021, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Septian Hario Seto menyampaikan ingin mengajak para pemangku kepentingan bersinergi pada masa Pemulihan Ekonomi Nasional dari Pandemi Covid-19.

“Saya ingin mengajak para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan di sektor jasa untuk berkomitmen melaksanakan reformasi struktural dan menciptakan iklim investasi yang kondusif dan kompetitif khususnya di masa Pemulihan Ekonomi Nasional dari Pandemi Covid-19,” imbuh Deputi Seto di Jakarta pada Senin (29-11-2021).

Terdapat sinyal pelambatan sektor jasa mulai tampak pada kwartal I tahun 2021, khususnya pada sektor transportasi, perdagangan, penyediaan akomodasi, dan makan minum seperti hotel dan restoran. Sektor ini mengalami perlambatan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 13,45 persen; 1,23 persen; dan 7,26 persen.

Baca juga:  Menko Luhut Berharap Pelabuhan Multipurpose Bisa Kurangi Kemiskinan Di Manggarai Barat

Kemudian, sektor informasi dan komunikasi mengalami akselerasi pertumbuhan. Sektor ini bertumbuh 8,71 persen di pertengahan 2021. Hal ini terjadi, karena adanya perubahan pola komunikasi dan mobilitas barang maupun masyarakat.

“Tadi sudah disampaikan meskipun sektor-sektor pariwisata, perhotelan, angkutan terpukul cukup siginifikan, tapi pada sektor-sektor lainnya juga naik siginifikan misalnya telekomunikasi,” ujar Deputi Seto.

Dia pun juga menyampaikan, dengan adanya pandemi justru mempercepat proses digitalisasi yang ditargetkan akan tumbuh pada tiga sampai lima tahun mendatang, “Pandemi ini mempercepat digitalisasi kita, dalam penelitian 3-5 tahun kedepan, tapi ini sudah tercapai lebih cepat,” tambahnya.

Pasca pandemi, untuk mencapai target visi 2045 menjadi negara maju, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi lebih dari enam persen. Model ekonomi Indonesia saat ini bertumpu pada komoditas, bergantung pada sektor ekstraktif dan pertanian dengan produktivitas rendah. Namun, terdapat tiga industri yang mampu tumbuh di masa pandemi. Pertumbuhan sub sektor manufaktur tahun 2020, yaitu kimia, farmasi, dan obat tradisional yang mencapai 9,4 persen. Kemudian, sub sektor industri logam dasar sebesar 5,9 persen dan industri makanan dan minuman sebesar 1,6 persen.

Baca juga:  Menko Luhut Menerima Dirjen Kemenkumham di Kantor Maritim

“Kita melihat apa aja sih industri sub sektor yang tetap sustain, ternyata sektor manufaktur kimia farmasi dan obat tradisional sustain 9,4 persen year on year,” kata Asisten Deputi Investasi Strategis, Bimo Wijayanto saat menjadi panelis pada Indonesia Services Week 2021 pada sesi pertama dengan topik “Potensi dan Tantangan Health Tech dalam Pemulihan Ekonomi”.

Melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS, pemerintah turut meningkatkan total belanja di sektor kesehatan dari tahun ke tahun. Begitu pun juga permintaan produk farmasi di Indonesia sebagian besar dapat dipenuhi di dalam negeri, dengan nilai impor sekitar USD 912 juta dan ekspor sekitar USD 556 juta. Dengan volume pasar farmasi domestik sekitar USD 8 miliar, impor hanya sekitar 11 persen. Mengacu pada impor bahan kimia anorganik yang termasuk API (Active Prharmaceutical Ingredients), impor Indonesia tahun 2019 mencapai USD 1,9 miliar, sedangkan ekspor mencapai USD 1,1 miliar. Alat Kesehatan Indonesia mencatat defisit dan terus meningkat.

“Medical device, meningkat hampir empat kali lipat dari USD 161 juta pada 2013 ke USD 531 juta pada 2020,” terang Asdep Bimo.

Baca juga:  Menko Maritim: Potensi Ekonomi Kemaritiman Seharusnya dikelola Sejak Dulu

Selanjutnya, tantangan berikut yang dihadapi adalah penyebaran fasilitas kesehatan tidak merata, khususnya pada wilayah 3T dan Indonesia Timur. Pemerintah akan terus mendorong peningkatan fasilitas kesehatan yang merata di Indonesia.

BIRO KOMUNIKASI
KEMENKO BIDANG KEMARITIMAN DAN INVESTASI

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel