FotoBerita DeputiDeputi 3

Pemerintah, BUMD, dan Swasta Dukung Pembangunan Transportasi Antarmoda di DKI Jakarta

Dibaca: 10 Oleh Sabtu, 30 Januari 2021Februari 23rd, 2021Tidak ada komentar
Pemerintah, BUMD, dan Swasta Dukung Pembangunan Transportasi Antarmoda di DKI Jakarta
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS
No.SP-44/HUM/ROKOM /SET.MARVES/I/2021

Marves – Jakarta, Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Tranportasi, Asisten Deputi (Asdep) Infrastruktur Konektivitas Rusli Rahim memimpin Rapat Koordinasi Evaluasi Operasional Light Rail Transit (LRT) Jakarta Rute Gading-Velodrome. Acara yang diadakan secara virtual ini diadakan pada Jumat (29-01-2021).

“Rute ini merupakan salah satu program LRT yang diinisiasi oleh pemerintah provinsi yang pembangunan dan operasionalnya dikelola oleh BUMD, yaitu PT Jakarta Propertindo (Perseroda). Saya kira ini menjadi salah satu model yang mampu dikembangkan oleh moda transportasi di perkotaan,” tutur Asdep Rusli saat membuka rapat.

LRT dengan rute Gading-Velodrome dibangun sepanjang 5,8 kilometer dengan enam stasiun dan satu depo. 12 hektar lahan dimanfaatkan untuk depo LRT yang menjadi pusat perawatan untuk masimal 196 kereta dan kantor operasional LRT. Selain itu, di titik ini juga dibangun pusat pengendalian dan pusat perawatan LRT.

“LRT merupakan bentuk pembangunan modern dari trem yang banyak digunakan di masa lalu. Bila trem menggunakan sistem sharing road di jalan raya yang seringkali menciptakan konflik saat persimpangan, LRT memisahkan jalan raya dengan relnya sehingga mampu mengoptimalkan dan mengefisiensikan moda transportasi ini,” beber Direktur Sarana Perkeretaapian Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Makjen Sinaga.

Baca juga:  Kemenko Kemaritiman Kembali Berangkatkan Tim Ekspedisi Nusantara Jaya ke Pulau Terpencil

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Lalu Lintas Angkutan Kementerian Perhubungan (LLA Kemenhub) Joko menambahkan, jalur LRT Jakarta fase 1 akan dibangun sepanjang kurang lebih 116 kilometer yang terdiri dari tujuh koridor. Diharapkan pada tahun 2025, LRT mampu melayani 537,461 penumpang per hari di 34 stasiun yang melayani 5 kota administrasi di Provinsi DKI Jakarta. “Perpanjangan rute ini menjadi penting agar manfaat bisa lebih dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Lebih jauh, Syafrin Liputo mengatakan walaupun sedang berada di masa sulit, LRT masih mampu memenuhi standar pelayanan minimum (SPM) dengan nilai 99 persen, salah satunya karena LRT berusaha menerapkan protokol kesehatan yang ada. Beberapa usaha yang dilakukan, di antaranya melakukan sterilisasi sinar ultra violet (UV) dan hepa filter, pembersihan sarana LRT, disinfektan stasiun LRT, memberikan tanda jaga jarak, touchless payment method, dan foot switch untuk penggunaan lift. “Operasional LRT di tengah pandemi Covid-19 tetap berusaha untuk mengedepankan protokol kesehatan yang baik,” urainya.

“Kita memiliki target untuk mengangkut 7,000 penumpang setiap harinya, tetapi karena masa pandemi Covid-19 yang menuntut pembatasan kapasitas daya angkut hingga 50 persen dan adanya imbauan untuk mengurangi mobilitas, maka jumlah penumpang LRT per harinya berkurang menjadi 700-900 orang” ungkap Direktur Operasi LRT Jakarta Indarto Wibisono. Bila waktu operasional dalam kondisi normal adalah pukul 05.30-23.00 WIB untuk 204 keberangkatan yang beroperasi setiap 10 menit, kini jam operasional dibatasi dari pukul 05.30-21.00 dengan total 182 keberangkatan.

Baca juga:  Menko Luhut Pimpin Rakor Kerjasama Ekonomi dan Penanggulangan Teroris Irak-Indonesia

Guna meningkatkan permintaan pada rute yang beroperasi saat ini, LRT Jakarta telah terhubung dengan koridor 4 TransJakarta melalui integrasi fisik dan integrasi pembayaran. Koridor ini menghubungkan Stasiun Velodrome dan Halte Pemuda Rawamangun. Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi DKI Jakarta pun telah menyiapkan angkutan multimoda, seperti TransJakarta dan Jak Lingko yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan perjalanan masyarakat ke lokasi tujuan.

Selanjutnya, pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian membentuk tim teknis untuk memberikan pembinaan fungsi perencanaan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hal ini dilakukan dalam rangka menerapkan rencana induk transportasi Provinsi DKI untuk integrasi moda perkeretaapian, yang mencakup LRT, mass rapid transit (MRT), dan commuter line. Peran swasta akan lebih didorong dalam skema pembiayaan serta operasional pembangunan LRT tahap selanjutnya agar dapat mengurangi beban biaya pemerintah.

Menutup rapat, Asdep Rusli memberikan kesimpulan. Pertama, perlu dilihat kebutuhan dari semua moda transportasi yang digunakan oleh masyarakat, khususnya terkait LRT Jakarta. Kedua, diperlukan adanya pemikiran pada masa mendatang tentang pengembangan rute LRT Jakarta agar bisa tersambung dengan trase lainnya.

Baca juga:  Menko Luhut Kunjungan Ke Bukit Singgolom

“Kalau bisa tercipta integrasi antarmoda yang seamless agar tercipta sebuah sistem yang optimal di ibukota maupun di wilayah penyangga Jakarta. Oleh karena itu, kedepannya diperlukan strategi untuk menyambungkan LRT, TransJakarta, dan moda transportasi lainnya,” ungkap Asdep Rusli. Ketiga, ia mengingkatkan agar pembangunan infrastruktur dan transportasi tidak melupakan faktor keselamatan.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

 

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel