FotoBerita DeputiDeputi 2Siaran Pers

Pemerintah Resmikan Inovasi Mini Pilot Plant Garam CAP dari Rejected Brine PLTU

Dibaca: 94 Oleh Rabu, 15 Desember 2021Desember 21st, 2021Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2021 12 21 at 17.36.58
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS

No.SP-818/HUM/ROKOM/SET.MARVES/XII/2021

Marves – Cilegon, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim meresmikan Inovasi Mini Pilot Plant Garam chlor alkali plant (CAP) dari Rejected Brine PLTU yang berada di PLTU Suralaya milik Indonesia Power. Peresmian ini dilakukan bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Indonesia Power.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Jodi Mahardi hadir dalam kunjungan ini dan melihat adanya potensi besar dari pemakaian rejected brine dari PLTU untuk memproduksi kebutuhan garam industri Chlor Alkali Plant (CAP).

“Rejected brine dari PLTU Suralaya ini punya potensi besar untuk memproduksi garam tanpa lahan, terutama untuk jenis garam yang akan digunakan dalam kegiatan industri yaitu CAP,” ujar Plt Deputi Jodi Mahardi saat menghadiri langsung acara sosialisasi dan kunjungan di PLTU PT IP (15-12-2021).

Perlu diketahui bahwa pada tahun 2021 Indonesia membutuhkan garam CAP sejumlah 2.426.400 ton dimana pemenuhannya masih melalui mekanisme impor. Hal ini dikarenakan belum ada industri garam lokal yang mampu memproduksi garam jenis CAP. .

Baca juga:  Kemenko Maritim Inisiasi Sertifikasi Kompetensi Pengelola dan Perencana Kawasan Konservasi

“Kita akhirnya bisa memproduksi garam tanpa menggunakan lahan penggarapan. Cukup menggunakan rejected brine dari PLTU dan menggunakan mesin desalinasi, maka kita bisa pisahkan garam dan air bersihnya,” ujar Kepala Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia BRIN Hens Saputra.

Dalam kesempatan ini, program mini pilot plant untuk rejected brine ini sudah diresmikan. Estimasinya, melalui mini pilot plant ini mampu menambah jumlah produksi garam hingga 750 ton per tahun. Selain itu, program seperti ini akan terus dikembangkan di tahun 2022 sehingga bisa mencapai target 100.000 ton per tahun di tahun 2022. Sehingga diharapkan proyek percontohan pertama ini bertujuan sebagai proyek inovasi ini adalah mengurangi ketergantungan garam impor.

“Selama ini kita masih ada beberapa jenis garam yang import, salah satunya dari Australia. Kita sebagai negara kepulauan harus mampu secara alami memanfaatkan potensi garam ini, apalagi dengan adanya teknologi produksi garam tanpa lahan,” tegas Plt Deputi Jodi.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Baca juga:  Kerajinan Dari Nusa Tenggara Barat

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel