Berita Deputi

Pengembangan Kawasan Pariwisata UNESCO Heritage Triangle Jawa Tengah-Yogyakarta untuk Mendongkrak Kunjungan Wisman dan Perekonomian Masyarakat

Oleh 19 Agu 2019 Agustus 20th, 2019 Tidak ada komentar
Pengembangan Kawasan Pariwisata UNESCO Heritage Triangle Jawa Tengah-Yogyakarta untuk Mendongkrak Kunjungan Wisman dan Perekonomian Masyarakat
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Sragen,  Kawasan Pariwisata Borobudur dan sekitarnya adalah salah satu    dari 4 (empat) Destinasi Pariwisata Super Prioritas yang akan dikembangkan oleh Pemerintah. Dalam rangka pengembangan destinasi di kawasan tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mengadakan monitoring, evaluasi, dan sinkronisasi program

dan kegiatan di kawasan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Solo – Sangiran sebagai salah satu DPN dalam Kawasan Koordinatif Badan Otorita Borobudur.

Melalui Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur, Kemenko Bidang Kemaritiman mengadakan Site Visit dan Rapat Koordinasi Pengembangan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Solo-Sangiran, Jawa Tengah pada Senin (19-08-2019) di Museum Fosil Manusia Purba Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dipimpin oleh Asisten Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Pelayaran, Perikanan, dan Pariwisata, Rahman Hidayat.

“Sesuai arahan dari Presiden, Menko Luhut merencanakan adanya percepatan pengembangan destinasi pariwisata. Ada 100.000 penduduk di kawasan situs Sangiran, baru 1000 orang yang dibina,” kata Rahman saat membuka rapat koordinasi.

Di tahun 1996, UNESCO mendaftarkan Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia di Daftar Warisan Dunia sebagai _Sangiran Early Man Site_. Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP), Muhammad Hidayat mengatakan belum dapat mengembangkan secara optimal Museum Fosil Sangiran karena keterbatasan tugas dan fungsi. Museum sendiri memiliki fungsi sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan pariwisata. Tanpa museum akan sulit memahami situs di Sangiran.

“Situs Sangiran merupakan lahan-lahan yang sah milik warga. BPSMP merangkul masyarakat untuk ikut serta melestarikan situs Sangiran dan dengan keberadaan situs dan museum, diharapkan dapat mengangkat kondisi perekonomian masyarakat sekitar,” kata Muhammad Hidayat.

Upaya pemberdayaan masyarakat sekitar pun dilakukan oleh Pemerintah setempat dengan melakukan pembinaan untuk pengelolaan homestay, pembuatan souvenir yg berkualitas dan memiliki ciri khas Sangiran, pembinaan kesenian tradisional, dan pembekalan guide lokal di Sangiran.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang turut hadir dalam rapat koordinasi pun mengatakan pengembangan destinasi pariwisata tergantung dari seberapa cepat kita melakukan akselerasi. Selain itu, dibutuhkan orang-orang dari eksternal atau masyarakat untuk dapat membantu melihat tempat pariwisata dan memberikan masukan terkait pengembangan lokasi pariwisata UNESCO HERITAGE TRIANGLE yaitu Sangiran,

Gunung Sewu dan Borobudur yang diprediksikan akan cepat berkembang karena infrastrukturnya sudah tersedia dengan baik.

“Siapa pasar dari pariwisata baik untuk Borobudur maupun Sangiran? Belum ada marketing research untuk hal tersebut atau apakah yang kurang dari Borobudur?” Kata Ganjar.

Ia menambahkan bahwa perlu untuk membandingkan pariwisata Jawa Tengah dengan di luar negeri. Negara harus mendukung untuk meningkatkan daya tarik pariwisata. “Kita membutuhkan rencana aksi cepat, harus mencari kebaruan, dan harus ada investasi,” tambah Ganjar.

Ganjar juga mengusulkan ide unik untuk membuat Sangiran menjadi destinasi unik, misalnya bertema kartun bertama purbakala seperti The Flinstones atau Jurassic Park. Namun, Ia mengatakan bahwa ini masih sekedar gambaran dan masih perlu dikaji dan dicari kesesuaiannya.

Dalam rapat koordinasi yang dipimpin oleh Asdep Rahman dihadiri pula perwakilan dari daerah, seperti Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, BAPPEDA Kabupaten Magelang, Pemerintah Kabupaten Sragen, dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar.

Site Visit Fasilitas Pendukung Pengembang DPN Jawa Tengah dan Yogyakarta

Guna mendukung pengembangan DPN, Jawa Tengah dan Yogyakarta memiliki empat Bandara Internasional, yaitu Bandara Adi Sucipto dan Yogyakarta International Airport di Yogyakarta, Bandara Adi Soemarmo di Boyolali, dan Bandara Ahmad Yani di Semarang.

Asdep Rahman bersama Deputi Kemaritiman Sekretariat Kabinet, Ir. Agustina Murbaningsih, Asisten Deputi Pengembang Wisata Budaya Kementerian Pariwisata, Oneng Setyaharini, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP), Muhammad Hidayat, Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) VIII Semarang, Akhmad Cahyadi, dan Direktur Industri dan Kelembagaan Badan Otorita Borobudur, Bisma Jatmika mengunjungi terminal keberangkatan baru milik Bandara Adi Soemarmo yang ditargetkan terintegrasi dengan kereta bandara pada 1 Oktober 2019.

Goentoro, Airport Operation & Safety Senior Manager Bandara Adi Soemarmo menjelaskan bahwa saat ini Solo sedang mengembangkan untuk menerima tantangan di penerbangan internasional dan Solo tengah menjadi primadona saat ini untuk Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kapasitas Bandara Adi Soemarmo sendiri 3,6 pax per tahun dan ada fasilitas transportasi yang terintegrasi. Penerbangan dari Bandara Adi Soemarmo dapat menjangkau 10 Kota Asia dan 4 Kota Australia menggunakan pesawat A330/B767. Nantinya akan ada rute tambahan kereta yang belum aktif dan ada jalur baru yang langsung menuju ke Borobudur. Di stasiun kereta juga akan disediakan self check-in kiosk dan tiket pesawat akan terintegrasi dengan tiket kereta bandara (paket bundling).

Site visit dilanjutkan ke Stasiun Solo Balapan guna meninjau skybridge yang akan mengintegrasikan jalur kereta bandara untuk mempermudah jalur pariwisata Yogyakarta dan Jawa Tengah, bahkan nantinya akan ada juga jalur yang menuju kawasan Borobudur. Lokasi site visit selanjutkan ke Museum Bukuran salah satu kluster dari BPSMP yang berfokus pada tema teori evolusi pada manusia.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel