Berita Deputi

Pengembangan Riset dan Teknologi Kelautan melalui Kerja Sama Bilateral RI-Republik Korea

Oleh 23 Agu 2019 September 2nd, 2019 Tidak ada komentar
Pengembangan Riset dan Teknologi Kelautan melalui Kerja Sama Bilateral RI-Republik Korea
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Korea, Sebagai implementasi dari perjanjian pengaturan mengenai Pusat Penelitian dan Kerja Sama Teknologi Kelautan (Marine Technology Cooperation Research Center disingkat MTCRC), diselenggarakan pertemuan komisi bersama (Joint Commission Meeting) ke-2 sejak diresmikan pada September 2018 yang lalu, untuk membahas pengelolaan, aktivitas serta isu-isu riset bersama.

Pada pertemuan tersebut dibahas mengenai pengembangan organisasi serta penandatanganan MoU dengan Hyundai R&D Center dan kerja sama riset.  Pada tahun pertama ini juga telah dilaksanakan beberapa workshop tentang operational oceanography, oceanopraphic satellite, ocean energy development serta marine debris management.  Dalam pengembangan kapasistas SDM, MTCRC telah memberikan beasiswa kepada 13 orang untuk tingkat S2 di ITB. Selanjutnya, pada periode 2019-2020 MTCRC akan difokuskan pada Operational Objectives and Strategy Implementation 2020.

“Topik utama yang telah disepakati dan sebagai proyek percontohan adalah studi kelayakan untuk pembangunan Kepulauan Natuna yang independen secara energi untuk mendukung pengembangan industri perikanan dan ecotourism. Pada bidang pengembangan SDM, akan dilaksanakan Korea-Indonesia Marine Experts Supervision Program juga pengembangan kapasitas untuk program doktor di Korea. Sebagai Implementasi dari Proyek ODA akan dilakukan pengembangan fasilitas dan operasional laboratorium MTCRC di Cirebon dengan pengadaan kapal survei untuk perairan pesisir, alat survei Multi Beam Echosounder dan Conductivity Temperature Depth,” ujar Deputi Safri pada Jumat, 23-08-2019.

Deputi Safri menambahkan, komisi bersama kedua negara menyepakati ketiga agenda MTCRC tersebut di atas, dan menuangkannya dalam The Summary Report of the 2nd Joint Commission on Marine Science and Technology yang ditandatangani oleh Ketua Delegasi Dr. Safri Burhanuddin dan Ms. Unwon Yoo.

Kemudian, pertemuan ini dirangkaikan dengan kunjungan pada tanggal 23 Agustus 2019 ke fasilitas Smart Aquaculture Complex, KIOST’s Jeju Research Institute, Haengwon Pumped-Hydro Storage System, Offshore Wind Towers.
Smart Aquaculture Complex merupakan fasilitas pengembangan ikan flounder menggunakan kolam buatan dengan menggunakan air laut yang dipompa dari bawah tanah (underground seawater) yang berkualitas sangat baik dengan kandungan mineral yang lebih unggul dibandingkan dengan air laut biasa. Temperatur, kandungan oksigen dan salinitas air laut yang digunakan di dalam kolam buatan dikontrol secara otomatis, dan air buangan dari kolam ini kemudian dialirkan ke area tanki pengendap untuk mengendapkan kotoran dan sisa makanan ikan sebelum kemudian dialirkan kembali ke laut.

“Buangan air laut yang sudah relatif bersih tersebut dimanfaatkan untuk memutar turbin listrik dan dapat menghasilkan energi sebesar 30 kW. Pakan untuk makanan ikan juga dibuat di fasilitas aquaculture ini, dari ikan tangkapan nelayan lokal,” tambah Deputi Safri.

Selanjutnya, Deputi Safri menjelaskan, kunjungan ke Hyundai energy solution renewable energy power plant complex, untuk melihat Sistem PLTS Seosan sebesar 65 MWp di atas lahan reklamasi di pinggiran Danau Bunam. Energy Storage System sebesar 130 MWh yang berupa serangkaian Battery System berskala jaringan (skala besar). Offshore Wind Parks, yang berupa serangkaian Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Bayu skala besar yang dibangun di lepas pantai oleh Doosan Heavy Industries. Sebagai percontohan, ada 2 buah tower offshore foating turbines dengan kapasitas 5 MW di lepas pantai Pulau Jeju. Rencana pengembangannya akan dilanjutkan dengan pembangunan PLTB Lepas Pantai Tamra dengan total kapasitas 30 MW.

“Teknologi-teknologi di atas rencananya akan diterapkan dalam program pengembangan Energy Independent Island Natuna melalui kerja sama MTCRC,” jelasnya.

KIOST’s Jeju Research Institute (JRI) yang baru diresmikan pada tahun 2015 dengan riset prioritas mengenai perubahan iklim dan lingkungan, industrialisasi bioteknologi kelautan, serta pengembangan program pendidikan dan kerja sama internasional. KIOST Jeju berusaha untuk lebih meningkatkan daya saing Korea dalam bioindustri dan potensi pertumbuhan masa depan korea melalui pembentukan sistem produksi dan kultivasi organisme laut yang ramah lingkungan, dan riset sumber bioenergy. Rencananya MTCRC Cirebon, ke depannya akan dikembangkan seperti JRI yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium oseanografi untuk dikelola oleh ITB dan dimanfaatkan oleh mahasiswa kelautan seluruh Indonesia.

Pada sesi akhir, delegasi mengunjungi Ramsar Ecotourism Village yang merupakan salah satu Geosite dari Jeju Island UNESCO Geopark. Geosite Ramsar adalah konsep geopark yang memadukan warisan geologi berupa lava berumur jutaan tahun, keanekaragaman hayati tumbuhan dan burung endemik, dan budaya tradisonal korea dalam membuat arang kuno. Jeju Island UNESCO Global Geopark adalah salah satu UNESCO Global Geopark terbaik dunia dengan sistem pengelolaan yang berkualitas. Melalui kerja sama ini, diharapkan juga dapat mempercepat pencapaian target dari Perpres nomor 9 tahun 2019 tentang Pengembangan taman bumi (Geopark).

Adapun, pertemuan ini dilaksanakan di kantor Kementerian Samudera dan Perikanan (MOF) di Sejong, Korea pada tanggal 22 Agustus 2019. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinator SDM, Iptek dan Budaya Maritim Dr. Safri Burhanuddin. Hadir sebagai anggota JC Indonesia Asdep Pendayagunaan Iptek Maritim Nani Hendiarti, serta wakil dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Delegasi Korea dipimpin oleh Mrs. Eunwon Yoo (Ocean Development Director), serta wakil dari KIOST, Korea University dan Dr. Hansan Park sebagai co-director MTCRC.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel