Artikel

Promosikan Pemanfaatan Energi Berbahan Bakar Nabati, Kemenko Kemaritiman Ajak Media Kunjungi ITB

Img 20190501 Wa0034
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Bandung, Pemerintah melalui Kemenko Bidang Kemaritiman terus mendorong pemanfaatan energi berbahan baku nabati yang lebih ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Salah bentuk dukungan ini adalah dengan mempromosikan pengembangan katalis dalam proses produksi bahan bakar nabati dari minyak sawit yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada media di Bandung, Selasa (30-4-2019).

Pada kesempatan itu, Kabag Humas Kemenko Bidang Kemaritiman Anjang Bangun Prasetio kepada Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB Deddy Kurniadi mengatakan bahwa tujuan kunjungan kerja itu adalah untuk memberikan informasi kepada media tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh kalangan akademisi dan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil. “Sebagai mitra kerja kami, kami ingin rekan-rekan media membantu untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan bahan nabati sebagai bahan bakar,” jelasnya saat memberikan sambutan.

Lebih jauh, pada kesempatan yang sama, Profesor Subagjo, peneliti senior dari Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan berbagai inovasi teknologi untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

“Saat ini Indonesia mengimpor minyak mentah sekitar 36 ribu barrel per hari. Jumlah ini setara dengan 41% kapasitas kilang Pertamina, kita juga impor 400 ribu barel bahan bakar minyak per hari sehingga impor ini turut menyumbang defisit anggaran nasional saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, disisi lain, tambah Subagjo, Indonesia merupakan penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan jumlah produksi 46 juta ton per tahun. “Dengan potensi yang luar biasa ini, kita berpeluang untuk mandiri energi dengan minyak nabati dari kelapa sawit yang dicampur dengan bahan bakar dari fosil,” ujarnya.

Sebagai informasi, cadangan energi yang berasal dari fosil jumlahnya terus menurun. Pemerintah terus berupaya untuk mengembangkan energi yang lebih ramah lingkungan dan ketersediannya terjamin. Salah satu yang dilakukan adalah program perluasan pemakaian B20 yang diluncurkan pada Bulan September tahun lalu.

Kini, ITB telah mampu mengembangkan katalis perengkahan minyak sawit menjadi bensin nabati berkualitas tinggi. Dalam waktu dekat menurut Profesor Subagjo ITB akan segera membangun industri pembuatan katalis. “Kebutuhan Indonesia terhadap katalis sangat besar, per tahun jumlahnya mencapai USD 500 juta, sementara sebagian besar masih kita impor,” bebernya. Dengan pembangunan industri katalis tersebut, dia berharap Indonesia dapat lebih mandiri dalam memproduksi bahan bakar.

Selain berkunjung ke Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis, rombongan Kemenko Bidang Kemaritiman dan 28 wartawan dari media lokal dan nasional juga mengunjungi Laboratorium mikroelektronika ITB. Disana media diberikan informasi mengenai produksi purnarupa _base station 4G_, yakni pemancar jaringan untuk 4G.

Irfan Gani Purwanda, Project Manager LTE, Base Station 4G ITB, mengungkapkan bahwa purnarupa ini telah diuji coba dan terbukti mampu menambah kapasitas pemakaian jaringan makro telepon selular hingga 200-pengguna. “Ke depannya kami akan mencoba memanfaatkan alat ini untuk membantu pemulihan jaringan telekomunikasi di daerah terdampak bencana,” tutupnya. (**)

Biro Informasi dan Hukum
Kemenko Bidang Kemaritiman

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel