Berita DeputiBeritaFotoDeputi 3

Pulau Papagarang Miliki Proyek Desalinasi Bertenaga Surya Pertama di Indonesia

Dibaca: 33 Oleh Senin, 8 Februari 2021Februari 23rd, 2021Tidak ada komentar
Pulau Papagarang Miliki Proyek Desalinasi Bertenaga Surya Pertama di Indonesia
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS

No.SP-73/HUM/ROKOM/SET.MARVES/II/2021

Marves – Manggarai Barat, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) melakukan kunjungan ke Pulau Papagarang, Kepulauan Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan yang dikomandoi oleh Deputi Ayodhia G. L. Kalake beserta Asisten Deputi (Asdep) Infrastruktur Pengembangan Wilayah Djoko Hartoyo dan Asisten Deputi Infrastruktur Konektivitas Rusli Rahim ini dilaksanakan pada Senin (08-02-2021).

“Pengembangan wilayah adalah salah satu prioritas bagi pemerintah Indonesia, termasuk pembangunan dan pengembangan infrastruktur. Sebagai negara maritim terbesar di dunia, presiden selalu menekankan pentingnya membangun sektor maritim,” sebut Deputi Ayodhia.

Sebanyak 12.857 desa di Indonesia terletak di daerah pesisir, tetapi lebih dari 4.000 desa pesisir tidak memiliki akses air bersih. Di NTT sendiri, terdapat sepuluh desa yang teridentifikasi dengan masalah kelangkaan air, salah satunya di Pulau Papagarang.

Beberapa akar masalah dari kejadian tersebut adalah karakteristik tanah/batuan yang kedap air, lereng curam yang mempercepat arus air kembali ke laut, serta intrusi air laut yang semakin pesat.

Baca juga:  Delegasi SOM Sepakati Deklarasi Pembentukan Forum Negara Kepulauan dan Negara Pulau

Kepala Desa Papagarang Syahril menuturkan, “Mayoritas pekerjaan masyarakat di sini adalah nelayan dan kami memiliki potensi di bidang pariwisata.” Tetapi, terdapat sebuah kendala dalam pengembangan wilayah ini, yakni terkait manajemen lingkungan.

Oleh karena itu, Pulau Papagarang pun melakukan tiga jenis kemitraan, yakni menyuplai air dari Komodo Water ke BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Berkah Tangguh, pemasaran air oleh BUMDes, serta pendaurulangan sampah plastik dan pengadaan es batu.

“Sejak 2018, kami bekerja sama dengan Akuo Energi Indonesia untuk mengembangkan desalinasi menggunakan solar panel. Selain itu, kami juga ingin menyediakan mesin es untuk menyimpan ikan bagi nelayan dan melakukan pengolahan sampah plastik menjadi produk rumah tangga,” ungkap perwakilan Komodo Water Prana.

Salah satu rencana pembangunan di Pulau Papagarang adalah proyek desalinasi bertenaga surya pertama di Indonesia. Alat yang diajukan untuk digunakan bernama Osmosun Reverse Osmosis yang dikembangkan oleh Akuo Energi Indonesia. Pengoperasiannya hanya menggunakan tenaga surya tanpa baterai sehingga lebih hemat biaya.

Baca juga:  Deputi Nani Hendiarti Kunjungi Kawasan Tawan Wisata Alam Mangrove Angke

Apabila sebelumnya keperluan air di Pulau Papagarang perlu dibawa dari Labuan Bajo yang berjarak waktu selama empat jam menggunakan kapal laut, dengan didirikannya sistem desalinasi, yakni proses pengolahan yang menghilangkan kadar garam berlebih dalam air, maka akan diperoleh air yang layak konsumsi bagi makhluk hidup.

Diperkirakan sebanyak 1.500 orang dapat memperoleh akses air bersih dan air minum sehingga diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat secara signifikan. Per harinya akan ada 5 m3 air yang dijual kepada masyarakat dan keuntungan penjualannya akan dibagikan kepada masyarakat melalui badan usaha milik desa (BUMDes).

Pada masa mendatang, Pulau Papagarang diproyeksikan menjadi tujuan pariwisata ramah lingkungan yang mampu menjaga kesehatan bumi. Pembangunan proyek desalinasi akan mengurangi emisi gas buang dari kapal pengangkut air, juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat desa.

Proyek desalinasi serupa juga dapat ditemui di beberapa wilayah di dunia. Hampir seluruhnya berada di daerah terpencil/terluar maupun di daerah dengan daya beli rendah. Beberapa di antaranya adalah Abu Dhabi di United Arab Emirates, Rodrigues di Mauritius, Provinsi Gaza di Mozambik, Hessequa di Afrika Selatan, Bora Bora di Polinesia Perancis, dan Hotel Cocotiers di Mauritius. Debit air desalinasi per harinya bervariasi mulai dari 40 sampai 350 m3.

Baca juga:  Menko Luhut Pertemuan Bilateral dengan Denmark State Secretary for Development Policy

“Kami berharap nantinya Desa Papagarang dapat menjadi percontohan bagi banyak wilayah yang mengalami kendala serupa,” tegas perwakilan Komodo Water Prana.

Pada kesempatan tersebut, Deputi Ayodhia didampingi oleh Asisten Deputi (Asdep) Infrastruktur Pengembangan Wilayah Djoko Hartoyo dan Asdep Infrastruktur Konektivitas Rusli Rahim.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel