Maritim - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI

Rencana Pembuatan Museum dan Wisata Shipwreck di Kepulauan Sangihe

posisi titik BMKT

Maritim – Jakarta, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara pada Kamis (27-04-2017). Tujuan FGD adalah untuk mengidentifikasi sejarah hingga pembuatan museum dan wisata shipwreck (kapal karam) beserta BMKTnya, di Kepulauan Sangihe tersebut.

“Tujuan FGD kali ini adalah untuk mengidentifikasi lokasi serta mengumpulkan informasi keterkaitan sejarah dengan keberadaan shipwreck hingga nanti ke depan dibentuknya museum serta wisata shipwreck dan BMKTnya di Kepulauan Sangihe tersebut,” kata Asisten Deputi Lingkungan dan Kebencanaan Maritim, Kemenko Maritim Sahat Panggabean, Selasa (02/05/2017).

Dalam hal ini, Sahat memaparkan, dahulu terdapat 11 kerajaan di Sangihe, yaitu Tabukan, Kendahe,  Kolongan,  Taruna,  Kolongan,  Manganitu,  auhis, Limau, Tabukan,  Sawang (Saban) dan  Tamako. Pada Tahun 1654, kerajaan ini tenggelam oleh karena peritiwa Dimpuluse (air jatuh dari langit), yang mengakibatkan mereka terdampar di tempat yang bernama Panimbuhing. Bukti peristiwa ini adalah Tanjung Maselihe, yang di dalam lautnya ditemukan kursi emas dan mahkota raja.

“Kerajaan ini dulu merupakan sebagian daratan pulau Sangir (Sangihe) yang tenggelam karena impuluse (awan hitam tebal berkumpul jadi satu, lalu jatuh dalam bentuk air yang berat), sehingga daratan menjadi laut, termasuk pulau Kaluwulang. Nah ini diperkirakan tahun 1654 Masehi tenggelam. Pulau Sangihe ini dulu bersambung dengan pulau-pulau yang lainnya, tapi kini dataran tersebut terputus menjadi beberapa pulau kecil yang berada di antara Pulau Sangihe dan Pulau P. Marulung (Balut), di mana terdapat Tandusan Napong Elise, sebuah karang yang menonjol menyerupai pasangan manusia yang sedang bercumbu, dengan bagian yang terbesar daratan sudah tenggelam ke dasar laut, akibat dari letusan gunung api dahsyat yang terjadi beberapa kali,” paparnya.

Selain kerjaan tersebut , Kabid Pengelolaan Lingkungan Laut Nurul Istiqomah mengungkapkan, ada juga Kepulauan Talaud (Sangihe Talaud) yang merupakan sekumpulan pulau-pulau di Lautan Pasifik yang termasuk di dalamnya Kepulauan Mindanau, Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Palau. Secara spesifik teoritik-ilmiah, program Wallacea pernah mengadakan penyelidikan tentang Tarsius Spectrum (monyet atau primata terkecil) dan jenis binatang yang hampir sama terdapat di daratan Filipina hingga Vietnam dengan jenis yang terdapat di Indonesia Bagian Timur (Sangihe,Bitung,Tangkoko). Penguatan tersebarnya pulau-pulau atau kepulauan ini, diduga bahwa pernah terjadi angin topan dari laut yang sangat dahsyat, sehingga menubruk dan memisahkan pulau-pulau tersebut.

“Letak geografi kepulauan Sangihe Talaud ini berada di bibir pasifik, sehingga bagian daratan kepulauan Sangihe Talaud yang tenggelam mempunyai kait-mengait tenggelam pulau (Benua) Atlantik. Dari hasil temuan ekspedisi memungkinkan untuk diadakan ekplorasi atau observasi untuk dihubungkan bilamana ada kesesuaian bukti yang bisa mengarah ke tenggelamnya Benua Atlantis. Selain itu, ditemukan pula ikan-ikan purba yang hidup di perairan Sangihe Talaud, yang diperkirakan sudah ada sejak 150.000 sampai 200.000 tahun yang lalu,” jelas Nurul.

“Nah lokasi atau titik-titik BMKT itu tadi akan disurvey oleh Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), nantinya titik itu akan diidentifikasi dan dilaporkan ke pemerintah pusat dan daerah untuk ditindaklanjuti. Hasil dari identifikasi dan survey BMKT nantinya akan menjadi bahan bagi pengambil kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Pengelolaann BMKT di Kepulauan Sangihe ini sangat diharapkan, karena akan membuka sejarah yang terkandung di dalamnya untuk meningkatkan pengetahuan sejarah Kepulauan Sangihe yang merupakan bagian dari sejarah bangsa Indonesia,” tambahnya.

Dalam hal ini, lanjut Nurul, Kemenko Bidang Kemaritiman akan berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kemendikbud dan kementerian terkait lainnya untuk pengelolaan BMKT, serta pengembangan museum dan wisata shipwreck di Kepulauan Sangihe.

“Saat ini, menurut informasi dari Dinas Pariwisata, shipwreck museum di Kepulauan Sangihe belum ada, namun lahan akan disediakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) bila ada bantuan dana untuk membangun shipwreck museum nantinya. Nah, kami akan lakukan koordinasi untuk pengembangan museum di Kepulauan Sangihe ini, karena merupakan pintu gerbang masuk ke Indonesia dan jalur perdagangan dari Fillipina ke Indonesia,” pungkasnya.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Rencana Pembuatan Museum dan Wisata Shipwreck di Kepulauan Sangihe