Siaran PersBerita DeputiDeputi 4

Rumuskan Aksi Adaptasi dan Mitigasi Penurunan Permukaan Tanah, Kemenko Marves Gelar Workshop Land Subsidence 2020  

Dibaca: 99 Oleh Rabu, 9 September 2020September 22nd, 2020Tidak ada komentar
Rumuskan Aksi Adaptasi dan Mitigasi Penurunan Permukaan Tanah, Kemenko Marves Gelar Workshop Land Subsidence 2020  
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS 

No.SP-140/HUM/ROKOM/SET-MARVES/VI/2020

Marves – Semarang, Untuk meningkatkan penanganan penurunan muka tanah, Kemenko Marves mengadakan workshop program kerja Land Subsidence 2020 di Semarang pada Rabu (9-9-2020). Workshop ini dipimpin oleh Asisten Deputi Pengelolaan Perubahan Iklim dan Kebencanaan Kus Prisetiahadi mewakili Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan untuk membahas secara rinci mengenai program Pokja Sub Unit Land Subsidence. Kegiatan ini dihadiri oleh Walikota Pekalongan, Sekda Semarang, serta perwakilan dari Bupati Demak. Selain itu terdapat peserta dari BNPB, ITB, Undip, serta Bappenas.

Asdep Kus berharap agar workshop ini dapat menerima berbagai masukan dari stakeholder serta pemerintah daerah setempat. “Kita harus segera merumuskan dan mempercepat aksi, agar kita tidak merugikan dan menyulitkan warga setempat,” kata dia.

Di Indonesia saat ini terdapat 112 kabupaten atau kota di pesisir yang berpotensi mengalami banjir rob dan perlahan-lahan akan mengalami penurunan muka tanah. Di Pulau Jawa, wilayah yang paling terdampak adalah Pantura Jawa yaitu Demak, Semarang, dan Pekalongan serta Muara Kamal di Jakarta Utara. “Tertera pada RPJMN 2020 – 2024, daerah Pantura telah menjadi prioritas dalam penanggulangan penurunan muka tanah. Untuk dapat memaksimalkan penanggulangan ini, maka kita seluruh stakeholder harus bekerja sama untuk dapat menentukan langkah apa saja yang akan direncakan ke depan” kata Asdep.

Baca juga:  Pelabuhan Patimban Diharapkan Tingkatkan Efisiensi Transportasi dan Naikkan Perekonomian Masyarakat

Lebih jauh, dia menjelaskan, fenomena land subsidence di Indonesia dapat terjadi karena perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan risiko terjadinya banjir rob karena naiknya permukaan air laut. Pengambilan air tanah yang berlebihan juga dapat menyebabkan berubahnya muka tanah di daerah pesisir. Terakhir, efek pembebanan pada tanah dapat menyebabkan kompaksi pada lapisan bagian atas.

Parahnya kondisi di lapangan dituturkan oleh Walikota Pekalongan Saelany Mahfudz. “Selama 11 tahun, Pekalongan mengalami banjir rob dan penurunan tanah sebesar 20 cm setiap tahunnya. Kondisi ini sangat memprihatinkan bagi kami”, keluh dia pada kesempatan yang sama. Ditambahkan oleh Sekda Semarang Iswar Aminuddin, “Kami di Semarang, telah melakukan berbagai upaya untuk dapat menanggulangi land subsidence. Tetapi, kondisi banjir di Semarang serta kapasitas Semarang dalam menampung air juga menjadi pemicu bagi land subsidence.

Menanggapi hal ini Asdep Kus mengatakan bahwa rekomendasi yang dapat diberikan bagi pemerintah daerah untuk menyelesaikan land subsidence ini adalah memprioritaskan perluasan layanan PDAM di daerah pantai. “Dengan ini kita juga dapat mengurangi bahkan menghentikan eksploitasi air tanah di daerah pesisir,”bebernya. Selain itu, solusi yang dapat diambil oleh Pemerintah Daerah adalah menguatkan peraturan dan melakukan pemantauan berkelanjutan setiap tahunnya. Untuk melakukan pemantauan ini, pemerintah daerah dapat mengajak stakeholder terkait, seperti universitas pada daerah setempat. “Selain itu, dapat dilakukan penyebaran informasi kepada industri untuk melakukan pembatasan pada pengambilan air tanah,” jelasnya.

Baca juga:  Menko Luhut: Proyek-proyek Kerjasama Indonesia Jepang tinggal tunggu finalisasi

Melalui workshop ini, seluruh peserta akan membahas road map mitigasi dan adaptasi dari penurunan tanah di Dataran Daerah Pesisir. Road map akan dibahas secara mendalam menjadi aksi turunan dan aksi tahunan yang dapat dilakukan oleh seluruh stakeholder terkait. Hasil yang diharapkan adalah adanya penyelesaian masalah land subsidence melalui koordinasi serta sinergi antara stakeholder serta masyarakat. Serta aksi mitigasi dan adaptasi yang diberikan dapat menjadi aksi yang responsif dan solutif.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel