FotoBerita DeputiDeputi 1

Siapkan Bisnis Bunkering MFO Rendah Sulfur di Selat Sunda, Kemenko Marves Kunjungi Terminal  Bahan Bakar Tanjung Gerem Pertamina di Cilegon

Dibaca: 179 Oleh Jumat, 20 Agustus 2021Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2021 08 20 at 19.27.07 1
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS
No.SP-519/HUM/ROKOM/SET.MARVES/VIII/2021

Marves – Banten, Menindaklanjuti kerja sama Bunkering Marine Fuel Oil (MFO) low sulphur sesuai standar Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk kapal niaga antara Krakatau International Port (KIP) dan Patra Pertamina pada Juli 2021 lalu, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Basilio Dias Araujo melakukan kunjungan kerja ke Fuel Terminal Tanjung Gerem Pertamina di Cilegon pada hari Jumat (20-08-2021).

Kunjungan tersebut tak hanya untuk mempertegas komitmen Kemenko Marves dalam memaksimalkan pendapatan negara di bisnis maritim, tapi juga mendorong implementasi kerja sama pelayanan jasa Bunkering Marine Fuel Oil antara Krakatau International Port (KIP) dengan PT Pertamina Patra Niaga untuk bunkering MFO low sulphur bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda.

Mencermati besarnya peluang ekonomi yang masih dapat dioptimalkan selama ini, terutama ribuan kapal baik ukuran besar dan kargo internasional yang melintas di sepanjang Selat Sunda, Deputi Basilio meyakini bahwa kerugian ekonomi dan hilangnya kesempatan akibat belum adanya jasa bunkering bahan bakar minyak untuk kapal di Selat Sunda hingga Selat Malaka sangat besar potensinya untuk dihilangkan.

Baca juga:  Kemenko Marves Minta Penyelesaian Terintegrasi sebagai Solusi Penyelesaian Masalah di Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto

” Opportunity loss atau hilangnya kesempatan karena banyak kapal yang melintas di sepanjang selat Sunda untuk mengisi MFO low sulphur ini akan mampu menyumbang trilliunan untuk negara,” kata Deputi Basilio.

Diapun memperkirakan sekitar 173 miliar dollar opportunity loss dari jasa bunkering, penggantian kru, dan penyediaan logistik dari kapal-kapal yang melewati Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Sunda, dan Selat Lombok bila tidak dimanfaatkan dengan baik. Data tahun 2020, jumlah kapal yang melintas di sepanjang Selat Sunda sebanyak 53.068 kapal (dengan 150 kapal melintas per harinya), sedangkan di jalur Selat Malaka dan Selat Singapura berkisar 120.000 kapal (dengan 350 kapal melintas per harinya di Selat Malaka)

“Kita telah siapkan beberapa pelabuhan strategis di sepanjang selat-selat tersebut dengan bisnis MFO low sulphur ini,” jelas Deputi Basilio.

Pertamina Tanjung Gerem saat ini melayani lebih dari 1500 kiloliter untuk MFO baik bagi kapal dan industri di Cilegon-Banten.

“Kami yakin, melalui pengembangan bisnis MFO low sulphur di berbagai pelabuhan strategis, kedepannya, Indonesia bisa memberikan pelayanan terbaik (untuk bunkering MFO low sulphur) dan berani bersaing dengan negara tetangga lainnya,” tegas Deputi Basilio.
Melalui kerjasama bisnis bunkering MFO low sulphur ini, potensi ekonomi akan semakin meningkat dan kesiapan Kepelabuhanan Indonesia sebagai bagian dari rantai-pasok energi ( energy security ) khususnya penyediaan Bahan Bakar Kapal MFO Sulfur rendah 180 cSt (centistockes) bersama Pertamina Group dapat diandalkan.

Baca juga:  Tingkatkan Kinerja ASN, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Gelar Jiwa Korsa

MFO dengan kandungan sulfur maksimal 0,5 persen mass by mass (m/m) ini merupakan bahan bakar kapal yang sesuai dengan mandatori International Maritime Organization (IMO) mengenai bahan bakar kapal dengan kadar sulfur maksimal 0,5 persen wt yang berlaku mulai 1 Januari 2020.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel