Artikel dan Feature

Sudah Saatnya UMKM Jawa Tengah Mendunia

Dibaca: 91 Oleh Sabtu, 28 Mei 2022Juli 10th, 2022Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2022 05 27 at 11.45.46 AM
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

 

Marves, Solo – Siapa sangka perhelatan Trade, Industry and Investment Working Group (TIIWG) G20 di Alila Hotel Solo, Maret lalu, meninggalkan kesan yang menarik tentang UMKM yang dimiliki Solo.

Ternyata, produk UMKM Solo sudah mulai mendunia dan banyak permintaan pasar terhadap produk UMKM Solo dan Jawa Tengah. TIIWG dimanfaatkan oleh Solo, untuk memamerkan kerajinan tangan hasil daur ulang, pahatan kayu, kain batik khas solo, sampai makanan kemasan. Para delegasi terlihat antusias ketika menjajaki setiap stand produk UMKM yang memiliki keunikan berbeda-beda.

Seperti, produk Etnic-k yang merupakan produsen home decor dan berbagai produk sandang yang terbuat dari bahan daur ulang karung goni. Etnic-k telah memasarkan produknya hingga ke Belgia, Perancis, dan Afrika.

Septi Utami selaku owner Etnic-K mengaku gelaran TIIWG ini sebagai ajang untuk memperkenalkan produk mereka dan juga membantu meningkatkan branding. “Targetnya lebih ke branding dan menjalin hubungan dengan calon costumer atau buyer. Melihat peluang yang bisa ditangkap agar produk Etnic-k dikenal oleh delegasi asing,” sambung Septi.

Berkembangnya UMKM di Jawa Tengah tidak lepas dari dukungan pemerintah pusat dan daerah untuk memajukan UMKM. Untuk menumbuhkan daya saing dan memperluas pasar bagi UMKM, maka pemerintah membuat program fasilitasi, pelatihan dan kesempatan kurasi pameran di dalam negeri dan luar negeri.

Baca juga:  Kawal Pelaksanaan UU Cipta Kerja, Kemenko Marves Bersinergi Bersama 7 K/L dan Penguruan Tinggi

Hal ini sejalan dengan hasil pertemuan pertama TIIWG. Salah satu kesimpulannya adalah sistem perdagangan multilateral harus mampu memberikan akses kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan mendukung agenda pengentasan kemiskinan untuk mencapai SDGs.

Selain itu, dukungan terhadap UMKM serta peningkatan peran perempuan juga merupakan keharusan dalam memperkuat Global Value Chains (GVCs), sehingga memberikan dampak nyata pada masyarakat setempat. Hal ini diperlukan kejelian dan kreativitas agar dapat melihat setiap peluang yang ada di sekeliling, sehingga memberikan keuntungan yang signifikan bagi UMKM dan sekeliling.

Kadisbudpar Solo, Aryo Widyandoko, menjelaskan TIIWG G20 merupakan pertemuan yang strategis menjadi peluang bagi Solo. Peluang UMKM pada salah satu side event TIIWG di Solo merupakan upaya mengenalkan potensi UMKM Soloraya dan Jawa Tengah.

Tak salah bila Indonesia mendorong digitalisasi dalam perdagangan UMKM agar mendorong transformasi digital dapat diterapkan pelaku level usaha mikro kecil menengah (UMKM). KTT G20 diharapkan dapat memastikan perdagangan digital yang inklusif dan mampu menjembatani kesenjangan digital, termasuk mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar terintegrasi dengan rantai nilai global. Untuk itu menjadi kesempatan bagi setiap negara-negara peserta dalam memanfaatkan peluang-peluang baru yang tercipta dari pemanfaatan teknologi dan perdagangan digital.

Baca juga:  Pesona Taman Mini, Berdandan Cantik Sambut G20 di Indonesia

Jeli Memanfaatkan Peluang

Adalah Bengok Craft yang merupakan UMKM asal Semarang yang turut berpartisipasi dalam pameran di TIIWG G20 di Alila Hotel Solo. Dengan mengusung enceng gondok, Bengok craft berhasil menyulap tumbuhan liar yang berada di Rawa Pening itu menjadi produk yang bernilai tinggi.

Yah, siapa sangka tanaman yang dianggap gulma bagi sebagian orang, ternyata oleh Firman Setiaji disulap menjadi produk yang mampu meraup keuntungan puluhan juta rupiah. Lulusan Kriminologi UI ini menjadikan produknya mampu menembus Eropa, Asia bahkan Amerika sudah mereka buat.

“Selain di Indonesia, produk kami sudah merambah hingga luar negeri, Eropa, Singapura dan lain sebagainya. Sudah berkali kali ikut pameran juga. Berharap dengan adanya KTT G20 yang Indonesia menjadi tuan rumahnya bisa membuat UMKM Indonesia makin diminati ,” kata Firman.

Saat ini, sebut Firman, sudah ada puluhan produk kerajinan yang ia ciptakan. Seperti, baju, sandal, casing handphone berbagai tipe dan merk, tas, topi, buku, dan lain sebagainya. “Paling favorit sejauh ini totebag, casing hp, topi, dan apron. Kami kadang-kadang sampai kehabisan,” ujar Firman.

Baca juga:  Kemenko Marves Dukung Pengembangan Teknologi STAL Untuk Pengolahan dan Pemurnian Nikel

Untuk harga produknya sendiri, Firman mematok range harga mulai puluhan hingga ratusan ribu rupiah. “Tergantung tingkat kesulitannya, menyesuaikan saja, kalau yang paling murah itu gantungan kunci dan gelang paling cuma 10 ribu atau 20 ribu saja” ungkapnya.

Dengan besarnya permintaan pasar ini, maka makin besar pemasukan yang diperoleh petani enceng gondok yang bekerja sama denganBengok Craft berusaha meningkatkan taraf hidup petani dan pengrajin enceng gondok dengan kreatif mengolahnya menjadi barang yang memiliki nilai manfaat.

“Saya berharap taraf kehidupan petani enceng gondok dan para pengrajin bisa meningkat. Hal ini yang membuat saya semangat untuk lebih inovatif lagi mengembangkan kerajinan yang dihasilkan Bengok Craft,” urainya.

Untuk itu uluran tangan dari pemerintah dan swasta untuk memberikan pelatihan dan bantuan bagi para UMKM sangat diharapkan, agar mereka tidak kalah dengan produk-produk yang berada di pasar dunia.

 

Biro Komunikasi
Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi

 

 

 

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel