Berita

TAM Tukul Rameyo : Pentingnya Literasi Kebencanaan Untuk Mitigasi Di Indonesia

Dibaca: 14 Oleh Sabtu, 20 Maret 2021Tidak ada komentar
TAM Tukul Rameyo : Pentingnya Literasi Kebencanaan Untuk Mitigasi Di Indonesia
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

No.SP-181/HUM/ROKOM/SET.MARVES/III/2021

Marves – Jakarta, Indonesia merupakan satu-satunya wilayah di planet ini yang memiliki sejarah kemaritiman yang panjang dan tidak terputus, sejak 8.000 SM sampai sekarang. Demikian juga dengan kebencanaan, Indonesia memiliki sejarah kebencanaan yang panjang. Berdasarkan data dari Peta Index Rawan bencana Indonesia Tahun 1815-2012, Indonesia merupakan wilayah yang rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor.

Berdasarkan hal ini, Tenaga Ahli Menko Marves Bidang Haluan Maritim, Tukul Rameyo Adi atau yang akrab disapa Tuk Ram dalam Diskusi Virtual bertema “Merawat Ingatan Sejarah Kebencanaan” mengatakan bahwa literasi kebencanaan dinilai sangat penting untuk menghadapi bencana di Indonesia. Tidak hanya itu, konsekuensi alami sebagai bangsa yang hidup di negara yang memiliki potensi bencana yang besar sudah semestinya memiliki pengetahuan tradisi dan kearifan lokal dalam mitigasi bencana.

“Apa iya kita tidak memiliki pengetahuan untuk menghadapi bencana-bencana itu, dan kenapa kalau ada bencana kita cenderung menggunakan ilmu-ilmu orang barat, ini yang harus kita gali,” katanya pada Hari Jumat (20-3-2021).

Baca juga:  Menko Luhut Menerima Kunjungan Dubes Swiss Di Kantor Marves

Tuk Ram menambahkan, sebetulnya Indonesia sejak dulu memiliki kearifan lokal dalam mitigasi bencana, contohnya dalam Tsunami Aceh, budaya mitigasi kearifan lokal masyarakat Aceh muncul ketika air laut surut kemudian masyarakat mencari tempat ketinggian.

Namun, kearifan lokal tentang peringatan bencana di tengah masyarakat Aceh ini terputus karena beberapa faktor mulai dari pengaruh konflik berkepanjangan hingga pengaruh teknologi seiring perkembangan zaman.

Lebih lanjut Tuk Ram memaparkan literasi kebencanaan juga bisa kita dapatkan dari artefak maupun situs yang ada kaitannya dengan peradaban masa lampau. Seperti Situs Liyangan pada peradaban abad 2 hingga 11 M. Pada situs ini masyarakat Liyangan kuno diperkirakan telah memiliki pengetahuan tentang mitigasi bencana. Mereka sudah mengungsi sebelum letusan.

“Tulang belulang di sini tidak ditemukan. Jadi ada kemungkinan mereka memiliki pengetahuan untuk mitigasi bencana. Berarti sejak dulu kita punya pengetahuan itu,” papar Tuk Ram.

Selain itu pengetahuan tentang mitigasi bencana juga ditemukan pada Candi Boko, dalam paparannya Tuk Ram mengatakan di sini tidak ditemukan reruntuhan atap atau bangunan. Candi Ratu Boko dibangun menggunakan lantai batu sebagai alas bangunan dan sebelum batu pondasi terlebih dahulu diletakkan pasir sebagai peredam getaran akibat gempa.

Baca juga:  Menko Luhut : Kepada Ilmuwan Muda di Luar Negeri Agar Bantu Program Hilirisasi

“Dari sini literasi kebencaan sudah bisa kita rasakan, oleh karena itu literasi ini perlu dikuatkan, agar Indonesia mampu mempelajari peninggalan-peninggalan pengetahuan demi majunya budaya bahari Indonesia. Kita juga harus terus mengumpulkan pengetahuan lokal, khususnya pengetahuan tentang air,” katanya.

Terkait hal ini, pemerintah melihat bahwa peradaban Indonesia masa mendatang mengarah kepada peradaban maritim, sehingga tahun 2045 paradigma laut dipilih untuk membangun indonesia sebagai pusat peradaban dan proses itu dimulai dengan memperkuat literasi kemaritiman. Namun menurut Tuk Ram, anak muda kini mulai tidak memiliki perhatian dan ketertarikan terhadap peradaban kemaritiman sehingga diperlukan pemantik terkait budaya bahari dan literasi maritim demi meningkatkan pemahaman terkait hal tersebut.

“Konsep Knowledge Management dapat diterapkan dalam mengembangkan budaya bahari karena Indonesia memiliki berbagai pengetahuan terkait lingkungan dan tidak boleh putus. Literasi kemaritiman dapat terus dikembangkan melalui berbagai cara, semua harus menjadi aktor bersama dalam membangun pengelolaan pengetahuan,” tutur Tuk Ram.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Baca juga:  Menko Marves Pimpin Rapim Lingkup Kemenko Marves

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel