Berita Deputi

Tanggapi Bencana Abrasi di perbatasan, Kemenko Maritim Fokuskan Rehabilitas Mangrove

Tanggapi Bencana Abrasi di perbatasan, Kemenko Maritim Fokuskan Rehabilitas Mangrove
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Maritim – Kepulauan Meranti, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman melalui Deputi Bidang SDA dan Jasa, Asisten Deputi (Asdep) Lingkungan dan Kebencanaan Maritim Sahat Panggabean melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) percepatan rehabilitas mangrove di Kepulauan Meranti, Riau, Kamis (11/04). Adapun kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya pengurangan resiko bencana abrasi di daerah perbatasan. 

“Percepatan Rehabilitas Mangrove dalam pengurangan resiko bencana abrasi di daerah perbatasan khususnya di Kepulauan Meranti ini sangat penting. Kenapa Mangrove penting? karena mangrove ini sudah menjadi icon Indonesia salah satunya dalam pengurangan bencana abrasi. Dunia menerima kita menjadi leader pengelola mangrove di dunia, artinya pengelolaan mangrove di Indonesia ini menjadi sorotan dunia, sebab luas mangrove di Indonesia terluas di dunia yaitu sekitar 3,5 juta hektar,” kata Asdep Sahat di lokasi. 

Asdep Sahat memaparkan, dari total 3,5 juta hektar mangrove tersebut, beberapa memang diketahui mengalami kerusakan, salah satunya di Kepulauan Meranti. Oleh sebab itu, komitmen Indonesia, akan dilakukan rehabilitasi dan mengelola yang rusak, memanfaatkan mangrove yang masih bagus dalam pengurangan abrasi dengan bagaimana dikelola dengan baik. Sehingga nantinya diharapkan selain mengurangi abrasi, juga mengelola baik untuk masyarakat.

“Isu-isu terkait abrasi itu satu hal. Selain itu kita bahas juga terkait tsunami. Jadi tsunami itu kemarin, kita lihat desa yang ditanami mangrove cukup aman, dibanding desa yang tidak ditanami mangrove, dan juga terkait pencapaian beberapa tujuan lainnya seperti menghapus kemiskinan, mengakhiri kelaparan, penanganan perubahan iklim dan menjaga ekosistem laut,” jelasnya. 

Kerjasama Mabes AL

Untuk penyebaran bibit mangrove itu sendiri, lanjut Asdep Sahat, akan dibantu dengan Tim Mabes Angkatan Laut (AL) dan dukungan data ilmiah oleh Perguruan Tinggi dengan dilakukan monitoring. Sehingga upaya rehabilitasi mangrove nantinya bisa sampai 70% hidup.

“Jika ada masalah, nanti bisa langsung termonitor dan saya langsung sampaikan kepada pimpinan untuk ditindaklanjuti bersama pihak terkait,” ujarnya.

“Dalam rapat ini, mudah-mudahan Kepulauan Meranti juga bisa menjadi model untuk pengelolaan mangrove di daerah titik pangkal/perbatasan dengan negara tetangga, sehingga ada titik di sini untuk kumpul membahas dan bertanggungjawab bersama mengenai mangrove, baik dari pemerintah, mahasiswa dan terpenting masyarakat sekitar,” tambahnya.

Menanggapi penjelasan Asdep Sahat tersebut, Paban V AL (Mar) Umar Farouq yang juga hadir dalam rakor ini mengungkapkan bahwa adapun konsep strategi TNI AL bersinergi dengan kementerian/ lembaga terkait dalam upaya rehabilitas kerusakan mangrove antara lain perbaikan tata kelola kawasan konservasi mangrove khususnya di kawasan sepanjang pesisir kabupaten Kepulauan Meranti. 

“Selain itu perlu juga pelaksanaan program konservasi mangrove yang berbasis masyarakat serta komunikasi/ koordinasi yang lebih intensif melalui kolaborasi kerja nyata antara TNI AL (dalam hal ini Satkowil Lanal Dumai, Posal Selat Panjang) dengan stakeholder terkait,” jelasnya.

Mangrove Disambut Baik di Kep. Meranti

Sementara itu, Sekda Kabupaten Kepulauan Meranti Yulian Norwis menyambut baik pertemuan rakor ini. Menurutnya kegiatan ini merupakan salah satu langkah besar di Kepulauan Meranti. 

“Ini merupakan langkah besar di Kepulauan Meranti, di daerah pulau-pulau pesisir yang perlu dipetakan dari NKRI, bahwa kita perbatasan langsung dengan Malaysia. Kalau tidak serius, wilayah kita akan tergerus dengan ombak selat malaka,” Kata Sekda Yulian.

Oleh sebab itu, Sekda Yulian berharap hasil rapat ini bisa segera terealisasi, bagaimana bisa mengurangi resiko bencana dan permasalahan yang menyangkut abrasi termasuk upaya realisasi mangrove.

“Dalam upaya ini, dinas perikanan sudah ada teknologi baru dari pusat untuk rehabilitasi baru. Kami berharap ada upaya pembiayaan khususnya dari kemenko maritim, karena tidak sedikit biaya untuk penanganan hingga ke depannya. Saya harap adanya rapat ini bisa menyelesaikan kendala/ isu dalam menyangkut abrasi ini ke depan,” pungkasnya.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel