Siaran PersBeritaDeputi 6

Target Operasi Tahun 2025, Pemerintah Tinjau Lokasi Proyek Tambang Nikel Berteknologi HPAL di Pomalaa

Dibaca: 95 Oleh Kamis, 10 September 2020September 22nd, 2020Tidak ada komentar
Target Operasi Tahun 2025, Pemerintah Tinjau Lokasi Proyek Tambang Nikel Berteknologi HPAL di Pomalaa
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS 

No.SP-141/HUM/ROKOM/SET-MARVES/VI/2020

Marves – Pomalaa, Pemerintah melalui Kedeputian Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) melakukan peninjauan langsung ke lokasi rencana proyek pengolahan dan pemurnian nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (10-9-2020). Menurut Asisten Deputi (Asdep) Bidang Pertambangan Tubagus Nugraha yang memimpin kunjungan lapangan, tujuan pembangunan proyek ini adalah untuk mengembangkan industri tambang hilir dalam mengolah bahan mentah.
Proyek pabrik yang ditarget mulai beroperasi tahun 2025 ini akan menyerap jenis bijih nikel kadar rendah (Limonite) namun dengan kadar kobalt yang tinggi. Kedua unsur ini kemudian akan diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan turunannya (Nickel sulphate dan Cobalt sulphate).
Dengan teknologi HPAL, material limonite yang selama ini diperlakukan sebagai overburden (biaya ekstra) akan berubah menjadi bijih yang bernilai ekonomi. Dengan demikian, neraca cadangan nikel Indonesia akan meningkat dengan perubahan tersebut. Di sisi lain, Nikel Sulfat dan Kobalt Sulfat yang dihasilkan dari pabrik terintegrasi milik PT Vale Indonesia (PTVI) ini merupakan bahan baku utama industri lithium-ion batteries.
Penguasaan kedua komoditas tersebut, menurut Asdep Tubagus akan memperkuat peran strategis Indonesia dalam rantai pasok global (Global Value Chain) kendaraan listrik. “Proyek ini akan menjadi bentuk dukungan pelaksanaan program hilirisasi mineral di Indonesia. Mudah-mudahan ke depannya proyek ini bisa berjalan dengan lancar serta membawa banyak manfaat bagi perkembangan tambang nikel Indonesia”, ujar Asisten Deputi (Asdep) Pertambangan, Tubagus Nugraha.
Potensi bijih Limonite tidak hanya itu saja. Limonite juga mengandung unsur mineral tanah jarang (rare earth element) yaitu Scandium. Campuran Scandium dan Aluminium merupakan material yang sekuat Titanium, seringan Aluminium, dan sekeras keramik, sehingga sering dipakai untuk komponen pesawat terbang. Namun demikian, proyek HPAL yang direncanakan PTVI hingga saat ini belum mencakup teknologi ekstraksi unsur Scandium ini.
Proyek pembangunan pabrik ini sudah melewati tahap Studi Kelayakan serta Amdal dan juga telah mengantongi Izin Lingkungan yang telah terbit di awal tahun 2020. Namun, proyek ini masih harus menunggu perizinan lainnya yaitu IPPKH, karena sebagian besar dari wilayah proyek berada di dalam kawasan hutan. Perizinan ini ditargetkan terbit pada bulan April 2024. Dengan demikian, konstruksi akan dimulai setelah seluruh perizinan selesai dan COD (Commercial Operation Date) ditargetkan sebelum 2025. Untuk distribusi logistik material konstruksi dan peralatan pabrik, PTVI sudah memiliki terminal yang akan menjadi jalur utama pengiriman material konstruksi. Total investasi untuk pabrik (meliputi pembangunan infrastruktur) ialah sebesar USD 2,17 milyar, sedangkan untuk tambang sebesar USD 66 juta.

Baca juga:  Rapat Mengenai Program Pelatihan Tenaga Kerja Lokal dengan Dukungan Tiongkok

*Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi*

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel