BeritaArtikel

Telaah Rencana Kebijakan Pembangunan Lewat FGD, Kemenko Marves Bahas Kekayaan Intelektual Komunal dan Resiliensi Masyarakat Pesisir

Dibaca: 20 Oleh Kamis, 3 Desember 2020Desember 8th, 2020Tidak ada komentar
Telaah Rencana Kebijakan Pembangunan Lewat FGD, Kemenko Marves Bahas Kekayaan Intelektual Komunal dan Resiliensi Masyarakat Pesisir
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Marves – Jakarta, Kementerian Koordinator Bidang Kamaritiman dan Investasi  (Kemenko Marves) menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun/FGD bertajuk Budaya Bahari sebagai basis membangun Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dan Resiliensi Masyarakat Pesisir yang digelar di Jakarta, Rabu (02-12-2020). FGD ini merupakan bagian dari telaah rencana kebijakan pembangunan yang dipimpin langsung oleh Staf Ahli Menteri (SAM) Bidang Sosio-Antropologi Kemenko Marves Tukul Rameyo Adi.

SAM Rameyo mengatakan bahwa topik yang dibahas dalam pertemuan ini sebagai salah satu bahan rekomendasi kebijakan pembangunan di Indonesia periode 2021-2024. Adapun fokus bahasannya ialah pengembangan budaya bahari dan budaya maritim.

“Budaya bahari itu sebetulnya modal untuk pembangunan, terutama keinginan kita menjadikan pariwisata ekonomi kreatif termasuk digital sebagai ujung tombak transformasi ekonomi. Jadi tidak lagi berjualan komoditas mentah tapi lebih kepada produk atau jasa yang punya nilai tambah, di sinilah peran budaya,“ kata Rameyo.

SAM Rameyo mengungkapkan berkaitan dengan 10 destinasi wisata prioritas yang kini dikembangkan pemerintah, utamanya pada lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) perlu mendapatkan dukungan dari sisi atau lini budaya. Adapun lima DPSP itu ialah Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Karenanya agar budaya bisa mendukung  sektor itu, maka harus secepatnya menelaah kekayaan KIK.

Baca juga:  Aplikasi YachtERS: Percepat Proses Perizinan Kapal Yacht di Indonesia

“Budaya dalam kaitannya empat hal itu yang diharapkan KIK. Yaitu Pengetahuan Tradisional (PT), Ekspresi Budaya Tradisonal (EBT); Sumber Daya Genetik (SDG); dan Indikasi Geografis (IG). Itu semua, sebetulnya budaya atau produk-produk budaya bahari terutama di lima DPSP ini semuanya bahari. Dan inilah yang harus didorong,“ ungkapnya.

“Supaya sekali dayung, satu, dua, tiga pulau terlampaui, maka saya mengusulkan supaya budaya yang menjadi KIK nanti bisa dimulai atau fokus kepada rempah,“ bebernya.

SAM Rameyo menambahkan alasan rempah yang difokuskan dalam proses KIK ini karena Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil rempah di dunia dan sempat digemari negara-negara luar. Selain itu hingga kini budaya rempah-rempah yang ada di Indonesia juga masih tetap ada dan lestari, bahkan jalur kerja sama perdagangan dan pelayaran juga masih berjalan hingga kini.

“Saya usul supaya rempah menjadi prioritas paling tidak lima tahun ini kita memulai KIK. Apakah IG, EBT, SDG, PT, ini basisnya adalah rempah. Jadi mainstreaming rempah untuk pengembangan budaya bahari, literasi maritim untuk mendukung pertama adalah sektor pariwisata ekonomi kreatif, kedua basis ketahanan masyarakat, pembangunan desa, dan tata kelola pesisir dalam rangka membangun Coastal Community Resilience (CCR), ketahanan masyarakat pesisir terutama dalam kaitannya dengan perubahan iklim, pasca pandemi covid-19, dan lainnya,“ ujarnya.

Baca juga:  Menko Luhut "Teknologi Dapat Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”

Dia menambahkan bahwa saat ini potensi KIK yang ada di Indonesia sangat besar dan banyak, sehingga harus dikelola dengan baik supaya memberikan dampak positif bagi tanah air, terutama di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pasalnya, etnik yang ada di Indonesia terbesar jika dibandingkan dengan negera-negara di dunia.

“Ditambah lagi Indonesia memang tempat pertemuan yang kemudian menjadi kawasan yang memiliki keanekaragaman sumber daya yang tidak ada yang menyamai, luar biasa. Jadi keanekaragaman sumber daya dan kebinekaan budaya kalau digabung akan luar biasa. Sebagai contoh di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur punya satu produk tenun yang memiliki 300 jenis/karakter,” tuturnya.

Menurut SAM Rameyo kalau dihitung-hitung potensi KIK di Indonesia bisa ribuan. “Kalau digabung keanekaragaman sumber daya dan kebinekaan budaya itu sumber paten yang luar biasa dan harusnya kita nomor satu memproduksi paten dari dua hal ini,“ sebut SAM Bidang Sosio-Antropologi Kemenko Marves ini.

SAM Rameyo memberikan contoh lainnya adalah kopi. Komoditas ini dapat ditemui hampir semua daerah yang ada di Indonesia, namun tetap memiliki perbedaan jenis dan karakter yang berbeda pula. Jika kekayaan ini digabungkan dengan potensi budaya akan menjadi luar biasa, baik dari sisi KIK maupun nilai jual atau nilai tambah komoditas itu sendiri.

Baca juga:  Menko Luhut Melaksanakan Perayaan Natal Epiphania

“Belum garam, belum jamu, kerajinan, seni. KIK ini masih perlu soaialisasi dan penguatan, mudah-mudahan Kemenko Marves melalui Deputi 5 (Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) bisa mendorong percepatan KIK,” sambungnya.

KIK, lanjut dia, menjadi produk dan atraksi dari destinasi wisata, ketika seseorang datang tidak hanya melihat keindahan alam, tapi juga pengalaman lokal dan budaya yang tidak didapat di negaranya. “Kalau hanya pemandangan, satu dua kali akan bosan, tapi ini yang dinamis menjadi sebuah kekuatan dunia periwisata ekonomi kreatif dengan budaya yang harus dilindungi,“ tutur SAM Rameyo.

Terkait KIK ini, dia menjelaskan bahwa Indonesia memang bukan negara yang pertama mulai memperhatikan sekaligus mengurusinya, tetapi sudah dilakukan oleh negara-negara di Eropa. Misalnya di Jerman sudah sangat fokus terhadap aspek yang ada di KIK.

“Khusus IG dalam KIK itu Eropa lebih awal. Negara-negara Eropa sudah lama melindungi produk-produk mereka, KIK mereka. Bukan brand-nya tetapi karakter produk itu. Misalnya Jerman dan Belanda cara membuat keju itu berbeda. Sebetulnya IG itu juga untuk melindungi konsumen, bahwa kalau sudah mendaftarkan IG berarti berani menjaga dan menjamin kualitas,“ tandas SAM Rameyo.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel