Maritim - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI

Tenun Penyambung Nafas di NTT

By 24 May 2016 02:19Artikel
IMG_20160524_021351

Maritim – Momen Tour De Flores membawa keberuntungan tersendiri bagi para wanita penenun untuk memperkenalkan tenun ikat ke dunia internasional. Peserta dan tamu yang datang menyaksikan balap sepeda internasional di Flores ini menyempatkan waktu untuk mengunjungi Pesta Budaya di Taman kota Larantuka.
 
Dari jajaran stand-stand yang terdapat di taman kota itu, tampak jajaran warna-warni tenun ikat yang berhasil mencuri mata pengunjung. Tenun-tenun tersebut dibuat dalam berbagai rupa dari sepatu, sandal, selendang, tas, dan baju-baju.
 
Salah satu stand yang padat dan tampak dipenuhi pelanggan adalah stand Mama Sylvi yang menjual dompet dan kain-kain. “Banyak yang membeli dompet, tempat pulpen dan tas malam ini. Pesta budaya ini sangat membawa untung bagi kami, apalagi banyak orang bulenya yang membeli dagangan kami,” urai Mama Sylvi saat ditemui di Taman Larantuka, Selasa (17/5) malam.
 
Di luar NTT, tenun memang menjadi incaran banyak orang. Maka tak heran kalau dalam rangka Tour De Flores, pesta budaya ini banyak dikunjungi orang, bahkan dari  luar negeri. Tenun NTT memang memiliki banyak ragam, karena tiap Kabupatennya memiliki ciri khas.
 
“Saat ini NTT memiliki 21 kabupaten, tiap kabupaten saja memiliki beberapa motif. Paling yang membuat kita bisa mencirikan dari kabupaten mana asalnya, hanya warna dominannya saja,” ujarnya kembali.
 
Mata Mama Sylvi mulai sibuk mempromosikan dagangannya. Dengan menerangkan jenis tenun yang ada di standnya.  “Ini contohnya, ini dari Sumba,” tukas mama cantik ini.
 
Tenun Sumba memiliki corak menarik, dari dekat terlihat motifnya bisa dibilang etnik. Dari tenun Sumba misalnya, terdapat nilai-nilai religius. Motif kuda melambangkan kebanggaan, kekuatan dan keberanian.  Untuk motif ayam melambangkan kehidupan wanita ketika berumah tangga.
 
Pada dasarnya, di Sumba, kain tenun dipakai pada upacara adat sebagai lambang penghargaan terhadap suku yang diharapkan dapat menghindarkan mereka dari bencana, roh-roh jahat dan hal-hal buruk lainnya. Maka wajarlah harganya menjulang Rp 3.000.000. Ada beberapa hal penting yang bisa menjadi ukuran harga tenun. Kerumitan motif dan banyaknya warna biasanya menjadi dasar harga beragam.
 
Tenun Rote tak kalah menarik. Dasarnya yang hitam menggambarkan kerasnya masyarakat Rote. Keras berarti memiliki prinsip yang kuat, sedang warna merah yang biasa dipakai juga menggambarkan keberanian.
 
Berkunjung Ke Sentra Tenun
 
Adalah Desa Waibalun, sentra tenun ikat yang berada Maumere, Larantuka, Nusa Tenggara Timur,  banyak memberikan penghidupan bagi keluarga desa tersebut selain berkebun. Sentra tenun di desa ini memang sudah terkenal, meski terletak jauh dari kota Larantuka.
 
Siang itu rombongan wartawan yang meliput Tour De Flores melakukan liputan diantar oleh kepala desa Waibalun, bapak Eman Tukan menuju sentra tenun Ago Lewuh. “Kita akan menuju pondok tenun Ago Lewuh tempat penenun di desa ini,” kata Eman Tukan saat mengantar rombongan media, Jumat (20/5).
 
Di pondok Ago Lewuh, kami disambut Mama Monika, Mama Magdalena dan Mama Ursula dengan ramah. “Silakan masuk, di dalam tempat biasa para perajin membuat kain,” ungkapnya.
 
Sayang, hari itu kain-kain yang ada tidak terlalu banyak. Semua sedang dibawa untuk pameran kain di Maumere dalam rangka Tour De Flores. Jajaran kain terpajang di sentra tenun ini begitu cantik dengan pilihan pewarnaan alam dan pewarnaan tekstil.
 
Di sana, setidaknya ada lima orang perajin yang menenun yang ada di pondok tersebut hari itu. Satu orang sedang melanjutkan tenun baru dengan motif Timor. “Yang ini Timor, terlihat dari warna-warnanya yang terang,” ujarnya.
 
Sedang dua orang lainnya masih sibuk menerangkan pada media tentang beda warna benang alam dan benang dari pewarnaan tekstil yang tergantung di jendela kawat. Tampak mama Magdalena dengan sigap mulai menenun sambil menerangkan pada kami pewarnaan kunyit dan daun yang untuk kain yang sedang ditenun.
 
“Untuk proses dari awal hingga akhir dengan pewarnaan alam membutuhkan waktu tiga bulan. Pewarnaan tekstil tidak terlalu lama dan tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan,” jelasnya sambil memintal benang di mesin pintal tradisional.
 
Ada pembedaan yang jelas antara tenun dilakukan dengan alat pintal tradisional dengan mesin adalah pada kekuatan bahan dan ketebalan bahan. “Melihat hasil tenun itu yang jarang terlihat dari saat di pintal kita tinggal mengetesnya ke arah matahari. Disana kalau masih terlihat sinar matahari, maka tenun ini tipis dan halus. Kalau warna alami maka hasil tenun tebal dan sedikit kasar,” urai Mama Ursula.

(Glh/Arp)

POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Foto Berita Artikel Berita Deputi Narasi Tunggal Video
Sort by

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Tenun Penyambung Nafas di NTT