Berita DeputiDeputi 3

Tindaklanjuti Isu Terkait Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung, Kemenko Marves Gelar Rakor Dan Turun Langsung Ke Lokasi

Dibaca: 202 Oleh Selasa, 27 Oktober 2020Tidak ada komentar
Tindaklanjuti Isu Terkait Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung, Kemenko Marves Gelar Rakor Dan Turun Langsung Ke Lokasi
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

Marves-Jakarta, Menindaklanjuti isu yang dihadapi dalam pengembangan Kuala Tanjung, terkait dengan beberapa permasalahan utama. Kemenko Marves melalui Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi, sigap menggelar rapat koordinasi (rakor) dengan para pemangku kepentingan, dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke lokasi, adapun kegiatan itu dilaksanakan di Kuala Tanjung dan Belawan pada tanggal 8 – 9 Oktober 2020 silam, penjelasannya

Kawasan Industri Kuala Tanjung (KIKT) terletak di Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara seluas 3400 Ha. Kawasan Industri dikelola oleh PT Prima Pengembangan Kawasan dan bagian pelabuhan dikelola oleh PT. Pelindo I,”

Lebih lanjut, ada beberapa isu yang dibahas oleh seluruh pemangku kepentingan dalam rakor tersebut, antara lain perkembangan kerja sama Pelindo I dan Zhejiang Seaport dan Port of Rotterdam, Optimalisasi Terminal Multipurpose Kuala Tanjung, Pengembangan KEK Sei Mangkei dan KI Kuala Tanjung, Permasalahan ketersediaan energi listrik dan gas di KEK Sei Mangkei dan KI Kuala Tanjung, isu konektivitas, dan wacana reklamasi.

Perkembangan Rencana Kerja Sama Pelindo I dan Zhejiang Seaport – Port of Rotterdam.

Dalam penjelasannya, Dirut PT. Pelindo I menyatakan sedang menyiapkan Lahan untuk Kawasan Industri sekitar 200 hektar yang dalam satu hamparan sebagai persiapan kerjasama dengan Zhejiang Seaport – Port of Rotterdam untuk itu diharapkan dukungan dari Pemerintah Daerah dalam pengadaan tanah.

Pihak Pelindo I dan Zhejiang Seaport sedang menyiapkan skema kerja sama yang dapat diterima semua pihak, dan saat ini sedang dalam pembahasan akhir.

Optimalisasi Terminal Multipurpose Kuala Tanjung.

Fokus saat ini adalah optimalisasi Terminal Multipurpose Kuala Tanjung dan pembebasan lahan Kawasan Industri serta realisasi strategic partner internasional untuk optimalisasi pelabuhan KT khususnya percepatan pertumbuhan kargo dan utilisasi terminal. Saat ini Pelindo I sedang menjajaki kerja sama dengan Zhejiang Seaport dan Port of Rotterdam. PT. Pelindo I sangat mengharapkan terealisasinya kerjasama ini dan menyepakati skema kerja sama yang menguntungkan semua pihak. Rencananya, kontrak kerjasama akan ditandatangani pada tahun 2021.

Kemudian, Pelindo I, Inalum dan Wijaya Karya telah sepakat menggunakan PT Prima Pengembangan Kawasan (anak perusahaan Pelindo I) sebagai perusahaan patungan yang menjadi developer KIKT. Pelindo I pun telah mengalokasikan lahan 18,9 Ha untuk Terminal BBM-Pertamina. Dalam jangka pendek, diperlukan area seluas 6-7 Ha dengan lahan yang sudah sudah dibebaskan seluas 2 Ha.

“Serta menyiapkan pendanaan pembebasan lahan untuk Kawasan Industri melalui PT PPK sehingga dapat memenuhi kebutuhan pembebasan tanah,” terangnya.

Pengembangan dan Isu Energi (Listrik dan Gas) di KEK Sei Mangkei dan KI Kuala Tanjung (KIKT).

Terkait kebutuhan energi di KEK Sei Mangkei ada isu tentang harga gas untuk industri yang dianggap tidak kompetitif, sehingga mempengaruhi okupansi KEK Sei Mangkei yang baru terisi 13%.

Terkait dengan anggapan tersebut,  perlu diketahui bahwa ada industri yang mendapatkan insentif harga gas sesuai dengan ketentuan Permen ESDM No 8 tahun 2020.

Lalu, mengenai Ketenagalistrikan, Direktur Regional Sumatera dan Kalimantan, PT. PLN, menyatakan kesiapannya untuk menyalurkan listrik untuk Kawasan Industri Kuala Tanjung dan KEK Sei Mangkei. Diketahui, utilisasi di dua kawasan industri/KEK masih relatif rendah. Utilisasi di KIKT baru 41MVA dari 120 MVA yang disediakan (34%), Utilisasi KEK Sei Mangkei baru 24 MVA dari 120 MVA (20%). Dan, surplus listrik Sumut, saat ini sebesar 334 MW siap untuk disalurkan ke Kawasan Industri, melalui 4 gardu induk (GI) yang telah disiapkan yaitu GI Tebing Tinggi, GI Kuala Tanjung, GI Sei Mangkei dan GI Kisaran.

Kepala Bappeda PemProv Sumut sendiri, menyampaikan untuk memasok listrik di KIKT dan SeiMangkei, direncanakan dengan membangun pembangkit dengan investor dari Korea. Untuk keperluan penyediaan tenaga listrik ini perlu dibahas secara tersendiri mengenai pola pengembangan ketenagalistrikan dengan menggunakan dua opsi: opsi penerapan wilayah usaha atau opsi penyediaan listrik dari PT. PLN.

Isu Konektivitas

Terkait, Kereta Api KEK Sei Mangkei – Kuala Tanjung, saat ini konstruksi jalur kereta api sudah selesai 100 % dikerjakan. Namun, sampai saat ini belum beroperasi dikarenakan, rendahnya jumlah muatan angkut.

Selain itu, pembangunan Jalan Tol, progressnya sampai dengan 30 September 2020, Seksi I Tebing Tinggi – Indrapura realisasi 71 persen dari target 12,83 persen dan Seksi II Indra Pura – Kuala Tanjung realisasi 56 persen dari target 29 persen,” jelasnya.

Sinergitas Pelabuhan Kuala Tanjung dan Pelabuhan Belawan.

Diketahui, Pelabuhan Belawan dan Pelabuhan Kuala Tanjung diharapkan akan menciptakan hinterland baru dengan mengoptimalkan pengembangan lahan dan pertumbuhan industri di sekitar Kuala Tanjung.

Lebih lanjut, ia menyatakan, Pelabuhan Belawan tetap akan menjadi gateway bagi Kawasan Industri Medan yang telah eksis, dengan jarak tempuh hanya 15-20 menit, tidak ada pengembangan selanjutnya di pelabuhan Belawan.

“Peran Pelabuhan Kuala Tanjung, khususnya kargo internasional, diharapkan dapat beroperasi secara optimal setelah semua akses menuju Kuala Tanjung telah siap dioperasilkan (Kereta api dan Jalan Tol). Sebagai perbandingan, proyeksi trafik kargo internasional di Pelabuhan Belawan pada akhir tahun 2020 mencapai 588 ribu Teus dan Trafik domestik sebesar 530 ribu Teus,” ujarnya.

Berdasarkan kunjungan lapangan di KEK Sei Mangkei pada Kamis 8 Oktober 2020, dan Rapat – Kunjungan Lapangan di Pelabuhan Belawan hari Jumat 9 Oktober 2020, maka diketahui antara lain, Tenant Besar di KEK Sei Mangkei seperti PT. Unilever lebih memilih untuk pengirimanan kargo melalui pelabuhan Belawan dengan jarak 146 KM dari pada melalui Pelabuhan Kuala Tanjung dengan jarak 40 KM.

“Dengan alasan harga lebih murah karena volume kargo yang diangkut dari kapal yang berlabuh di Belawan lebih banyak,” ucapnya.

Dalam rakor tersebut akhirnya disepakati beberapa rekomendasi yang harus segera ditindak lanjuti. Di antaranya; akan dijadwalkan series rapat koordinasi untuk mengurai setiap permasalahan agar lebih komprehensif penyelesaiannya dan dimonitor perkembangannya. Dan juga, pengadaan lahan di KIKT dalam rangka persiapan kerjasama dengan Zhejiang Seaport dan agar segera direlealisasikan, serta Skema kerja sama antara Zhejiang Seaport, Port of Rotterdam dan PT. Pelindo I dapat segera ditetapkan.

Selain, percepatan pembangunan Jalan Tol dan pengoperasian Kereta Api menuju Pelabuhan Kuala Tanjung dapat segera direalisasikan dan juga optimalisasi kargo di Pelabuhan Kuala Tanjung. Terkait dengan isu reklamasi, perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam agar tidak tumpang tindih dengan kawasan industri yang sudah direncanakan sebelumnya.

Baca juga:  Menko Luhut pimpin rapat Kasus Tuban TPPI

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel