Berita DeputiDeputi 6

Upayakan Pemulihan Pariwisata Bali, Menko Luhut Negosiasi dengan Beberapa Negara untuk Membuka Travel Bubble

Dibaca: 29 Oleh Jumat, 9 April 2021Tidak ada komentar
Upayakan Pemulihan Pariwisata Bali, Menko Luhut Negosiasi dengan Beberapa Negara untuk Membuka Travel Bubble
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS
No.SP-234/HUM/ROKOM/SET.MARVES/IV/2021

Marves – Bali, Pariwisata adalah salah satu sektor yang terpuruk selama pandemi Covid 19. Pemerintah berupaya untuk memulihkan perekonomian Bali yang merosot akibat pariwisata yang terdampak.

“Menurut saya, ada tiga kunci recovery ekonomi Bali dalam jangka pendek ini,” ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan dalam sambutan secara virtual pada agenda Forum Ekonomi dan Investasi Bali 2021, Hari Kamis (8-4-2021).

Forum ini juga turut menghadirkan Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai pembicara kunci serta berbagai panelis lainnya, meliputi Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia Budi Arie Setiadi, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf Fajar Hutomo, Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro BKPM Indra Darmawan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho, Sekretaris Daerah Kabupaten Badung I Wayan Adi Artawa, serta Ketua Kadin Bali I Made Ariandi.

Dalam forum bertajuk ” Grand Design of Bali Economic Recovery ” yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali itu, Menko Luhut menyampaikan bahwa kunci keberhasilan pemulihan Bali dapat terwujud melalui pengendalian kasus Covid-19 yang semakin baik, percepatan proses vaksinasi di Bali sehingga dapat terbentuk herd immunity, serta protokol kesehatan yang ketat.

Baca juga:  Lampu Tenaga Matahari Solusi Penerangan Daerah Terpencil

“Perlu dibuat strict protokol kesehatan terutama untuk para wisatawan mancanegara (wisman) yang disepakati dengan negara asal wisman tersebut. Kami memang sedang menjajaki negosiasi dengan beberapa negara untuk membuka travel bubble wisman dengan Bali,” ungkap Menko Luhut.

Dengan kasus Covid-19 yang membaik, dia yakin bahwa tingkat kepercayaan wisatawan domestik akan semakin meningkat sehingga aktivitas ekonomi secara gradual bisa kembali normal, terang Menko Luhut lebih lanjut.

Dia juga menyampaikan bahwa saat ini pemerintah memang berupaya untuk menarik kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) untuk berpariwisata di Indonesia, khususnya di Bali. Tentunya, hal ini akan dilaksanakan di bawah protokol kesehatan yang ketat.

Sementara untuk jangka menengah dan panjang, Menko Luhut menyampaikan perlunya pengembangan health tourism serta diversifikasi kepada sektor-sektor diluar pariwisata, seperti sektor kelautan dan budidaya perikanan serta pertanian.

“Sudah ada beberapa investor yang berminat untuk ini. Dengan health tourism yang berkembang, maka length of stay dari wisatawan yang datang akan lebih panjang,” terang Menko Luhut.

Turut hadir sebagai panelis, Asisten Deputi (Asdep) Investasi Strategis Bimo Wijayanto menyampaikan bahwa diversifikasi perekonomian memegang peranan penting dalam pemulihan Bali.

Baca juga:  Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Meeting dengan Group CEO Yas Holding

“Untuk mendukung akselerasi pemulihan dan diversifikasi perekonomian Bali, perlu pengembangan sektor primer dan sekunder, khususnya komoditas berorientasi ekspor,” ungkap Asdep Bimo. Ia pun menyampaikan sektor yang bisa menjadi diversifikasi ekonomi untuk Bali yang lebih tahan, yakni di sektor industri kreatif dan ekonomi digital, pendidikan tinggi, pariwisata kesehatan dan kebugaran, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), serta sektor pertanian.

Menurut Asdep Bimo, rekomendasi yang membawa kepada health tourism adalah rilis dari World Bank yang menyatakan bahwa 60 persen turis yang datang ke Malaysia dan 45 persen turis yang datang ke Singapura adalah WNI yang melakukan medical check-up dan pengobatan.

Hal tersebut menunjukan tingginya aktivitas masyarakat dalam melakukan pariwisata dengan alasan kesehatan. Karena itulah, Indonesia pun akan turut didorong untuk pengembangan health tourism melalui pembangunan Rumah Sakit Internasional untuk penanganan penyakit-penyakit spesifik seperti kanker dan tumor.

“Pembicaraan di ministerial level sudah dilakukan terkait pembangunan rumah sakit yang khusus. Selanjutnya, strategi eksekusi akan sesegera mungkin diturunkan ke level teknis,” terang Asdep Bimo.

Baca juga:  Kemenko Marves Kawal Isu Perpajakan Pembangunan Infrastruktur PSN

Pemilihan Bali sebagai salah satu tujuan health tourism juga bukan tanpa alasan. Berdasarkan Roland Berger Research, Jakarta, Medan, dan Bali merupakan 3 kota yang sangat potensial menjadi wellness and health tourism hub di Indonesia.

Lebih lanjut, Asdep Bimo menerangkan bahwa pemerintah juga terus memperkuat ketahanan kesehatan dan menyiapkan Indonesia agar mampu memasok industri farmasi, yakni dengan mempersiapkan Klaster Kimia yang ditujukan untuk Bahan Baku Obat pada Kawasan Industri (KI) Batang.

Dia juga mengungkapkan bahwa pemerintah pusat berkomitmen untuk terus mengawal dan memastikan kelancaran dari Program Strategis Nasional (PSN) meski ditengah pandemi Covid-19.

“Kami kawal juga hilirisasi mineral, electric vehicles , dan renewable energy. Sampai hari ini, realisasi baik dari smelter nikel, pabrik baterai electric vehicle, hingga pabrik electric vehicle sudah berjalan dengan baik, hanya ada beberapa yang masih debottle necking ,” jelas Asdep Bimo. Ia juga menyampaikan bahwa dengan dikembangkannya energi terbarukan,  nantinya Bali tidak hanya menjadi pusat wisata tetapi juga dapat menjadi pusat wisata ‘hijau’.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

 

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel